Perempuan Cerdas itu Tidak Malas Berpikir

28
Buku "Perempuan di Rumah Bercahaya Emas" karya Esra Manurung Maleakhi.

Narwastu.id – Motivator dan perempuan tangguh ini, tak pernah lelah memotivasi banyak orang lewat buku-buku, seminar dan diskusi Zoom yang diikutinya. Esra Manurung Maleakhi yang juga Pembina Maharani Muda, komunitas anak-anak muda yang giat melakukan aksi kemanusiaan, beberapa bulan lalu sudah menerbitkan buku menarik berjudul “Perempuan di Rumah Bercahaya Emas.” Dalam buku yang banyak membahas pengalaman hidupnya dan nilai-nilai kehidupan kaum perempuan itu, Esra yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2017 Pilihan Majalah NARWASTU” pun tak lupa mengulas sifat khas perempuan sebagai mahkluk mulia ciptaan Tuhan. Berikut ini Redaksi Majalah NARWASTU mengutip lagi isi dari buku setebal 258 itu.

Ditulis Esra, perempuan mendambakan keteraturan. Pria lebih natural dan alami saja. Dalam berpikir ada pengertian. Dalam pengertian terletak penerimaan. Dari pengertian muncul penerimaan, penerimaan akan perbedaan antara pria dan wanita, sehingga perempuan mulai bisa mengendalikan perasaannya. Keinginan untuk marah pun mereda dan kecurigaan tidak dimengerti berganti menjadi pemahaman yang menyejukkan. Perempuan yang tidak mau berpikir, tidak pengertian, dan cenderung egosentris. Membuat kesimpulan dan keputusan mayoritas berdasarkan perasaan dan prasangka. Tidak terampil berpikir, menciptakan perempuan demikian sangat mengesalkan dan tidak masuk akal.

Tidak ada perempuan lemah, yang ada adalah perempuan yang malas berpikir. Tidak ada perempuan egois, yang ada adalah perempuan yang tidak membangun kemampuan berpikir untuk memahami perbedaan alami. Kalau perempuan melatih keterampilan berpikir benar, jiwanya lebih stabil. Bagi pria, perempuan yang bisa berpikir mempunyai daya tarik yang kuat. Tidak sedikit istri yang awalnya sangat disukai suaminya, setelah menikah beberapa tahun perasaan suaminya berubah karena perempuan yang dinikahinya tidak pandai berpikir. Hubungan rumah tangga mulai retak dan berjarak, dan pada tahap ini posisi sang istri kapan saja bisa digantikan orang lain.

Perempuan-perempuan yang pengertian, kepercayaan dirinya kuat. Mereka cerdas dalam menjaga rumah tangganya. Mereka juga bisa menjadi teman berpikir pasangannya dan cenderung mempunyai rumah tangga yang langgeng. Kestabilan emosi mereka menjadi tempat yang nyaman bagi pasangannya untuk bertukar pikiran. Mereka tidak mudah digoyah kabar-kabar burung dari luar. Perempuan demikian cerdas. Mereka tidak gampang dalam mempercayai informasi. Sebelum melihat dan mendapat bukti akurat, jangan harap mereka akan menebarkan suatu berita.

Berbeda dengan perempuan yang malas berpikir. Mereka mudah diprovokasi dengan ide-ide perbedaan ras, suku, bahasa bahkan keyakinan. Jika mendapat tekanan dari luar mereka mudah panik dan kuatir. Hanya dengan firasat sendiri, mereka bisa menelan informasi padahal sumber beritanya tidaklah akurat. Bergerak dengan implusif adalah ciri-ciri khas mereka. Hampir tak ada dalam kamus mereka tiga pertanyaan sebelum menyebarkan berita ini: (1) Apakah informasi yang saya terima ini dari sumber aslinya sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya?

Lalu (2) Apakah informasi ini dampaknya positif atau negatif? Membawa kedamaian bagi yang membaca atau kebencian? (3)Apakah informasi ini sangat perlu atau sebaiknya dihapus saja di tangan saya? Perempuan cerdas akan mempertanyakan informasi yang didengarnya, apakah ada bukti yang absah. Jika tidak, dia tidak akan percaya dan tidak akan disebarkan. Target utama berita-berita bohong dan hoaks adalah perempuan yang malas berpikir. Menyebarkan berita-berita yang sensasional sesaat. Jati diri terampil dalam berpikir.

Perempuan cerdas melahirkan generasi cerdas bagi bangsa. Perempuan ceroboh menyumbangkan generasi ceroboh. Berpikir itu perlu latihan. Ketika lahir, kita tidak langsung terampil berpikir. Anak-anak sering bertanya, “Mama kenapa langit biru, kenapa bulan keluarnya malam, kenapa aku ada?” Perempuan yang berpikir mengerti pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanda anaknya mulai berpikir. Ketika anak bertanya kenapa, apa, dan bagaimana, itu sinyal bahwa otak (akalnya) mulai berfungsi. Perempuan yang tidak paham, malah malas atau kesal menjawab karena merasa (lagi-lagi membuat tindakan dari “perasaan”) anak malah disuruh diam, dianggap ribut, dan dirasa mengganggu ketenangannya. Dampaknya lumayan hebat di kemudian hari. Ketika anaknya besar menjadi pribadi yang takut bertanya.

“Lihat saja seminar-seminar di sekitar kita, kebanyakan peserta tidak berani bertanya. Mereka takut salah dan terlihat bodoh di depan umum. Biasanya para peserta seminar demikian mesti dipancing-pancing dulu, dengan hadiah atau souvenir. Situasinya jauh berbeda dengan seminar di manca negara. Setiap seminar yang saya hadiri di luar negeri, pesertanya sangat antusias saat bertanya. Terkadang sampai waktu habis, antrean pertanyaan masih berbaris,” tulis Esra yang juga anggota Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU (FORKOM NARWASTU). FG

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here