Penerbitan Media Massa Kristiani itu Sesungguhnya Industri Mahal

* Oleh: Betty Bahagianty, S.Sos

36

Narwastu.id – Menjadi seorang wartawan atau jurnalis di majalah Kristiani bukanlah sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan. Pada awalnya bukanlah sesuatu yang mudah jika ditinjau dari keunikan dan karakteristik dari media Kristiani. Mungkin banyak orang mengira bahwa pasti akan sama saja seperti  bekerja di media sekuler. Bagi saya, menulis di media rohani tidak hanya dituntut untuk terampil menulis dan menyampaikan pesan informatif ke publik, melainkan bagaimana tulisan tersebut memiliki kekuatan yang mampu menguatkan, memberi pencerahan, bahkan bisa merefleksikan topik yang diangkat kepada pembaca.

Jadi bukan sekadar menulis berita. Tapi, bagaimana hikmat dan pewahyuan Roh Kudus ikut mengerjakan di dalamnya, baik saya yang menulis maupun orang yang membaca tulisan. Jujur saja semua hanya karena kuasa RohNya. Sebelum bergabung dengan Majalah NARWASTU pada 2012 lalu, saya telah bergabung selama setahun (2010-2011) di Majalah Narwastu Pembaruan. Sebagai wartawan freelance banyak suka duka saya alami di sana. Pengalaman sukanya, di samping dapat berjumpa dengan tokoh-tokoh penting yang punya wawasan ciamik di bidang tertentu, juga bisa bertemu dengan kaum awam namun memiliki pengalaman luar biasa bersama Tuhan.

Sedangkan pengalaman dukanya, tidak jarang karena merasa menjadi narasumber yang dibutuhkan pendapatnya atas topik tertentu, kadang kala kita dituntut untuk ekstra sabar, karena narasumber bisa sekehendak hatinya mengubah jadwal wawancara. Bahkan membatalkannya, walaupun itu dijadwalkan sudah jauh-jauh hari. Kalau sudah begini kita hanya bisa gigit jari.

Namun usia Majalah Narwastu Pembaruan tidak bertahan lama. Majalah itu tutup tanpa ada pemberitahuan pamit pada pembacanya. Dan sebetulnya mengelola usaha penerbitan media cetak tidaklah mudah. Malah bisa dibilang sebagai industri mahal yang keuntungannya baru bisa dirasakan setelah 5 atau 10 tahun kemudian. Panjang pendeknya usia sebuah media cetak, terutama media Kristen sesungguhnya ditentukan oleh pengelolaan atau manajemennya. Jangan digabungkan kepentingan pribadi dengan keperluan perusahaan. Bila terjadi demikian, maka akan timpang sebelah, karena pengeluaran dan pemasukan akan tidak seimbang.

Mengelola media rohani pun tak sekadar mengandalkan modal dana, sumber daya manusia (SDM) dan jaringan. Tapi harus ada kekuatan lain yang menopangnya, yakni kuasa Roh Kudus atau tangan Tuhan yang tak terlihat. Salah satu caranya, yaitu membangun mezbah doa bersama dengan rekan sekerja di kantor maupun persekutuan pribadi. Namun yang paling penting adalah motivasi yang murni dalam bekerja.

Seperti saya katakan di atas di sini wartawan bukan semata-mata menjadikan ini profesi, tapi panggilan untuk melayani di ladang Tuhan. Jadi saya percaya siapa pun yang bekerja di media rohani adalah orang-orang pilihan untuk melayani Dia, Raja dari segala Raja. Dan itu menjadi sebuah kehormatan dan kepercayaan yang tidak terhingga dari Dia untuk saya pribadi. Kalau saya sejak 2012 lalu hingga pada 2020 saat ini berkarya di Majalah NARWASTU, saya imani itu karena panggilan. Dan tentu di Majalah NARWASTU kami tak sekadar mengandalkan kekuatan sendiri, tapi juga kuasa Tuhan.

* Penulis adalah jurnalis Majalah NARWASTU, anggota PERWAMKI, lulusan Fakultas Komunikasi IISIP Jakarta dan alumni Haggai Institute.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here