Pdt. Banner Siburian, M.Th Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi yang Peduli Pendidikan Jemaat

76
Pdt. Banner Siburian, M.Th. Peduli pelayanan diakonia.

Narwastu.id – Bila menelisik sejarah Sinode HKBP, bahwa pendidikan, sejak awal berdirinya gereja ini menjadi salah satu fokus pelayanannya. Mengapa pendidikan? Sebab memang, kemajuan dari satu peradaban dilihat dari kemajuan pendidikannya. “Generasi muda sekarang harus terus belajar. Walau peradaban makin maju, tetapi tantangan ke depan justru makin besar. Maka dibutuhkan pendidikan yang mumpuni bagi anak-anak kita. Dengan pendidikan bisa memicu potensi sumber daya manusia yang hebat. Anak-anaklah menjadi calon pemimpin di masa yang akan datang,” ujar Pdt. Banner Siburian, M.Th, Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi. Prases yang membuat fokus pelayanan di bidang Diakonia Distrik dengan membuat beasiswa dengan orangtua asuh untuk membantu anak-anak yang tak mampu.

Konsep pria kelahiran  Paranginan, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, 21 November 1966 ini, bahwa pendidikan itu adalah hak setia anak-anak. Maka gereja harus berperan, walau tak seluruhnya bisa dilakukan tetapi paling tidak gereja juga punya pelayanan untuk membantu anak-anak jemaat yang kesulitan untuk menopang pendidikan.

Pdt. Banner sendiri melewatkan Sekolah Dasar dan SMP di Paranginan. Di SMA dia sudah aktif menjadi aktivis pemuda gereja. Bahkan, sejak belia sudah mengasuh diri untuk mandiri, memberi perhatian untuk sesama. Tentu, sikap kemandirian tidak bisa dibentuk instant, sudah tentu membutuhkan proses yang panjang untuk mengasuh kesabaran, sikap dan tingkah laku, jadi punya hati melayani. Tahun 1986 Pdt. Banner masuk kuliah dan lulus tahun 1991, lalu ditahbiskan menjadi pendeta oleh Ephorus HKBP, waktu itu Pdt. Dr. SAE Nababan setelah dua tahun lebih menjadi vikaris.

Tentu, reputasi pelayanannya beragam sebelum kemudian menjadi salah satu pimpinan wilayah di HKBP sebagai Praeses. Ketika Pdt. WTP Simarmata, M.A. menjadi Ephorus HKBP, Pdt. Banner dipercayakan menjadi Praeses Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Kalimatan Selatan. Di kepemimpinannya sebagai praeses kala itu, semua jemaat terlayani, yang dibuatnya, satu resort satu pos untuk menjangkau warga jemaat pedalaman. Lalu, membuat pendeta zending. Dampaknya, banyak dari wilayah lain membantu mengirimkan Alkitab, termasuk sepeda motor untuk disumbangkan.

Di Kalimatan dia juga menggagas dibuat distrik center. Setelah dari Kalimantan memimpin HKBP di Bekasi. Di kepimimpinan Pdt. Dr. Darwin Lumban Tobing sebagai Ephorus HKBP, Pdt. Banner juga dipercayakan menjadi Praeses di Distrik XIX Bekasi. Sebagai praeses dia berharap agar anak-anak jemaat yang tak mampu jangan sampai putus sekolah. Karena faktanya dia menemukan, walau sudah di kota tak sedikit anggota HKBP di Distrik XIX Bekasi khususnya, masih banyak jemaat yang berjuang untuk penghidupan, terutama kesulitan untuk membiayai sekolah anak-anak mereka.

Menurutnya gereja perlu menggambil bagian. “Tentu harapan kita jangan sampai ada anak jemaat yang putus sekolah oleh karena orangtuanya tak punya dana,” cetusnya. Karena itu, dia mengimbau juga pada jemaat, “Diperlukan uluran tangan kita semua. Jemaat yang mendapat rezeki lebih boleh membantu, menyokong anak-anak yang kesulitan biaya sekolah. Ini perlu. Agar anak-anak jangan sampai putus sekolah, dapat kembali menggapai kesempatan meraih mimpinya.”

Saat ini sudah ratusan orang dibantu distrik untuk jenjang Diploma III. Karena itu, Pdt. Banner menyebutkan, bahwa kegiatan diakonia harus bermanfaat sebagai aksi sosial. “Sampai sekarang kami memberikan perhatian khusus bagi mereka yang tak mampu sampai tahap Diploma III. Walau bantuan dana itu terbatas, tetapi paling tidak hal ini menyemangati orang tua dan anak yang mendapat bantuan,” ujarnya.

Praeses yang aktif menulis ini juga menyebut, setelah dibuat konsep beasiswa, mencari orang tua asuh untuk membiayai anak asuh, justru ternyata masih banyak anggota jemaat yang tak mampu menyekolahkan anak-anaknya. “Program ini baru pertama kali di Distrik Bekasi, malah mungkin program ini hanya ada di Distrik Bekasi.” Karenanya, Pdt. Banner mengharapkan kepedulian jemaat di Distrik XIX Bekasi, agar makin banyak orangtua asuh yang memberikan perhatian untuk menopang anak-anak jemaat yang tak mampu. “Tampaknya, semakin banyak kita layani, makin banyak yang harus dibantu,” ujarnya.

Lalu, bagaimana menetapkan bahwa setiap anak layak mendapat beasiswa dari gereja? Tentu, tak ujuk-ujuk mereka yang sudah mengajukan diri langsung bisa menerima beasiswa. “Pertama tentu diumumkan  melalui gereja lokal. Tetapi selain itu, sintua atau majelis di mana si anak asuh tinggal juga diharapkan aktif mengusulkan  layak tidaknya anggota jemaat tersebut ditopang gereja. Sesudah nama itu ada di panitia, tim juga mensurvei ke lapangan, benar tidaknya hal ini,” ujar ayah empat anak ini.

Dia menambahkan, bahwa jemaat lokal mesti menjadi pionir dalam mengembangkan orangtua asuh. Syukur di HKBP Maranatha, Resort Rawalumbu, Kota Bekasi, hal ini sudah konstan berjalan, walau masih sebatas memberi beasiswa kepada SD sampai SMA. Sedangkan Distrik memprioritaskan ke Diploma III. Diharapkan ke depan bisa juga diikuti seluruh gereja lokal yang ada di Distrik XIX Bekasi. Tentu, sebagai praeses dia yang mensupervisi kegiatan ini, dan tak lupa berterima kasih kepada pelaksana Bidang Diakonia dibantu Persekutuan Parompuan Distrik (PPD) yang mewujudkan pelayanan diakonia ini bisa berjalan dengan baik, dan ke depan diharapkan makin lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here