Cara Laksono, MBA Orang Jakarta yang Giat Melayani di Pedesaan

52
Cara Laksono, MBA. Bijaksana menyikapi kehidupan.

Narwastu.id – Sekarang bersama Yayasan Anugerah Bina Bangsa (ABB) ia dan timnya fokus melayani di bidang pendidikan, pemberdayaan jemaat dan pembinaan rohani di pedesaan di kawasan Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ibu dari tiga anak kelahiran Medan, Sumatera Utara, 23 Maret 1966 ini adalah sosok pebisnis plus pelayan tangguh. Semangatnya berkobar-kobar ketika melayani orang-orang yang kurang beruntung, khususnya di daerah pedesaan. Perempuan yang menyelesaikan pendidikan S1 dari Fakultas Teknologi Mineral Jurusan Geologi Universitas Trisakti, Jakarta, dan S2 dari University of Hull di London, Inggris, ini kepada Majalah NARWASTU menerangkan, sejak ia mengalami hidup baru pada 2010 silam ia semakin tekun berdoa, membaca Alkitab dan beribadah serta giat melayani.

Menurutnya, saat ia mulai hidup baru dan mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia semakin sering merenung apa sebenarnya tujuan hidup kita di dunia ini. Dalam sebuah kesempatan, ketika ibu energik dan cantik ini mengantarkan anaknya sekolah di Inggris, ia pernah tinggal sendirian di hotel. Saat itulah ia seperti mendengar sebuah suara yang mengatakan hidupnya akan berubah. “Saya yakini itulah suara Roh Kudus. Dan saya bertanya-tanya, hidup saya berubah dalam hal apa. Saya memang sudah Kristen sejak kecil, namun tidak terlalu rajin baca Alkitab dan juga tidak aktif melayani di gereja,” cetus istri tercinta Dr. Agus Guntoro dan ibunda dari John P. Steven Guntoro, Jeremy E. Guntoro dan Maria C. Shannen Guntoro ini.

Lalu pada 11 Oktober 2010 ia dari London (Inggris) kembali pulang ke Jakarta. Mereka yang tinggal bersama ibunda tercintanya mendapati orangtuanya itu terserang stroke lalu masuk ICU. Kemudian pada tanggal 30 Oktober 2010 ibundanya dipanggil Tuhan ke sisiNya. Kepergian ibundanya itu sangat membuatnya shock. Karena ia sangat mencintai ibunya. Di saat mereka baru menyenangkan hati orangtuanya, ternyata Tuhan berkehendak lain, orangtuanya meninggal.

Ketika itulah ia berpuasa. Dan selama setahun ia belum move on karena belum siap menerima duka cita atas kepergian ibundanya. Dan saat itu ia seperti marah kepada Tuhan. Namun selanjutnya ia mengikuti ibadah di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Gilgal, Jakarta Barat. Di situlah ia mulai merasakan pertumbuhan rohani dan ia merasakan kasihNya, karena ia sudah ikut KKR, termasuk ikut dalam ibadah persekutuan kaum wanita. Setelah ia mendengarkan banyak firman Tuhan dalam ibadah-ibadah yang diikutinya, ia disadarkan bahwa hidup ini bukan hanya di dunia. “Saya ini pebisnis dan berpikir realistis serta kurang peduli pada pelayanan. Di London dulu saya kuliah mengambil Master of Busines. Saya dulu selalu mengandalkan logika kalau bekerja,” terang ibu yang terlihat semakin bijaksana, dan akrab dipanggil Ibu Sera itu.

Sebagai pebisnis, Sera sempat berpikir bahwa ia tak butuh Tuhan di dalam kehidupannya. Karena apa yang diraihnya dianggap hasil kerja keras dan kesuksesannya. “Saat itu tak ada jiwa empati kepada sesana,” pungkas Sera yang menyukai lagu rohani berjudul “Hidup Ini Adalah Kesempatan.” Pada tahun 2016 Sera mulai mengalami babak baru di dalam kehidupannya. Berkat perkenalannya dengan seorang hamba Tuhan yang tangguh, Pdt. DR. Sarah Fifi, M.Si lewat seorang temannya ia kemudian mulai ikut pelayanan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Di situ ia melihat ada orang-orang yang dipenjara namun mereka sangat bersukacita saat beribadah memuji Tuhan. Hati Sera kala itu tersentuh. Dari situ ia kemudian banyak belajar di Yayasan Anugerah Bina Bangsa. Lalu ia ikut melayani ke pedesaan di daerah Kupang, NTT. Menurut Sera, kalau sekarang ia sudah aktif di Yayasan Anugerah Bina Bangsa, itu semua diyakininya jalan Tuhan, apalagi ia sangat bersyukur karena dibimbing pendeta senior Pdt. Sarah Fifi yang juga salah satu Penasihat Majalah NARWASTU dan mantan Ketua Bidang Teologi DPP PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia). “Saya pertama kali berkunjung ke Kupang di Desa Merbaun, Kecamatan Ambarasi Barat, pada akhir 2016, kemudian pada Juni 2017. Dan pada Agustus 2017 saya bertanya ke Ibu Pdt. Sarah Fifi, apa yang bisa kita lakukan lagi di Kupang. Jawabnya sederhana, berdoa saja, dan Tuhan akan buka jalan, yang penting kita ada keinginan kuat untuk melayani orang-orang desa itu,” katanya.

Kemudian melalui proses yang berliku-liku plus doa yang tak putus-putusnya dipanjatkan kepada Tuhan, pada September 2017 di Desa Merbaum selain berdiri sebuah sekolah pun ada asramanya. “Kami bekerja dengan tim kecil untuk mencari dana guna membangunnya. Lalu angkatan pertama di SMK Pertanian dan Peternakan di situ ada 20 orang. Kepala sekolahnya dulu pernah di BPK Penabur di Jakarta. Dan sekarang sudah mulai berjalan baik kegiatan di sana. Dan semua ini berjalan karena pimpinan Tuhan. Kita juga membangun aula serba guna dan memberdayakan masyarakat dengan penggemukan ternak sapi. Ada banyak kami alami mukijizat Tuhan di dalam pelayanan di Kupang. Kami ingin membangun desa itu menjadi desa mandiri. Dari kota Kupang menuju desa itu kita menempuh jarak 60 kilometer,” cetusnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here