Iman, Pengharapan dan Kasih

* Oleh : Pdt. Tjepy Jones Budidharma

18

1 Korintus 13:13,Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Narwastu.id – Sebagai orang percaya kehidupan kita pada akhirnya sangat ditentukan oleh iman, pengharapan dan kasih. Di mana yang terbesar sebagai sumbernya adalah kasih. Bukan intelektual kita, bukan pula predikat apapun yang melekat pada setiap kita, bahkan bukan pelayanan atau aktivitas kita yang lainnya. Sekarang mari kita lihat satu persatu dari ketiga substansi di atas, dimulai dari urutan terbesar, yaitu kasih. Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:16). Itu sebabnya, kasih sebagai yang terbesar di mana salah satu julukan Allah di 1 Petrus 5:10, adalah “The God of all Grace” atau Allah Kasih Karunia.

Allah menyatakan diriNya melalui Firman yang disebut Firman Kasih Karunia (Kis. 20:32). Jadi kasih adalah Allah sendiri atau Firman Allah yang hidup yang juga adalah Allah Kasih Karunia yang diberitakan dalam Injil. Bagaimana dengan pengharapan? Di Kolose 1:5, ”…Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil.” Ternyata pengharapan pun bersumber dari Allah melalui Firman Kebenaran, yaitu Injil.

Firman kebenaran inilah memberikan pengharapan akan janji-janji Allah, maka 1 Petrus 1:13 berkata, kita harus meletakkan seluruh pengharapan kita akan kasih karunia yang adalah Allah sendiri di dalam Yesus kristus. Tentu kita juga bisa meletakkan pengharapan itu sebagian kepada hal lain selain kasih karunia Allah, tetapi ada konskuensinya. Apa konsekuensinya itu? Mari kita lanjutakan dahulu mengenai substansi yang terakhir, yaitu iman.

Ibrani 11:1 versi King James menjelaskan, iman adalah substansi dari apa yang kita harapkan dan bukti dari segala janji Allah yang belum kita lihat (Faith is the substance of things hope for, and the evidence of things not seen). Jadi substansi atau penggenapan dari pengharapan kita akan selalu berasal dari tempat di mana pengharapan itu kita letakkan. Jikalau kita mau belajar tunduk kepada Firman Allah untuk menaruh semua pengharapan kita kepada kasih karunia Allah, maka Allah sendiri yang akan mengajar kita untuk senantiasa menerima substansi demi substansi dari semua pengharapan kita.

Sebut saja pengharapan dalam masalah keluarga, finansial, hubungan kita dengan orang lain, pekerjaan, pelayanan dan lain sebagainya. Allah ingin kita menjadikanNya sebagai satu-satunya sumber pengharapan kita, supaya Dia juga yang menjadi satu-satunya sumber substansi untuk kita. Mengapa begitu, karena Allah juga berfirman, “Tanpa iman tidak seorangpun berkenan kepadaNya”, atau tanpa substansi yang dari Allah, seseorang belum membuat Tuhan berkenan (bukan berarti hilang keselamatan).

Lalu apa itu iman sesungguhnya? Di Kitab Galatia 3: 23-25, kata iman dan Kristus dipakai sebagai kata yang saling menggantikan, dimulai dengan “iman datang.” Kemudian ditulis juga sebagai “Kristus datang” dst. Itu artinya iman adalah Kristus sendiri. Dalam 1 Yohanes 5: 4 dikatakan, iman kitalah yang mengalahkan dunia. Sementara itu di Yohanes 16:33, Yesus berkata bahwa Dialah yang mengalahkan dunia. Jadi iman kita adalah Yesus sendiri yang di Roma 10:8 disebut sebagai Firman Iman.

Jadi benar bahwa tanpa Yesus kita tidak dapat berkenan datang kepada Allah yang hidup. Benarlah apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan dalam Kitab Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Amin.

 

* Penulis adalah Gembala Sidang GKBI Kasih Karunia, Jakarta.  Tersedia seri khotbah melalui Youtube oleh Pdt. Tjepy Jones.    

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here