Ephorus Emeritus Sinode HKBP, Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. Senator yang Giat Melayani Masyarakat Sumut di Tengah Wabah Covid-19

257
Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. bersama istri tercinta Ibu H. boru Purba.

Narwastu.id – Tokoh umat yang pernah dipercaya menjadi Sekjen Sinode HKBP, Ketua Rapat Pendeta Sinode HKBP dan Ephorus Sinode HKBP ini, sejak menjadi anggota DPD-RI (Senator) kesibukannya semakin padat. Kini Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. yang juga pimpinan di CCA (Conference Church Asia/Persekutuan Gereja-gereja Se-Asia) dan United Evangelical in Mission (UEM/Persekutuan Gereja-gereja di Asia, Eropa dan Afrika) serta anggota Komite Pusat Dewan Gereja-gereja Se-Dunia (WCC) semakin sering turun ke lapangan untuk menyapa masyarakat yang terdampak wabah pandemi virus corona Covid-19. Terutama di daerah pemilihannya di Sumatera Utara (Sumut) ia sering berkomunikasi dengan warga, dan menyampaikan aspirasi mereka ke Pemerintah Provinsi Sumut.

Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. bersama Presiden RI Joko Widodo.

Selain itu, melalui tiga koran berpengaruh di Sumut plus berita-berita televisi serta berita online ia aktif mengikuti perkembangan tentang situasi di tengah masyarakat di Sumut. Menurut Pdt. Willem T.P. Simarmata yang merupakan suami tercinta Ibu H. boru Purba ini, tugasnya sebagai wakil rakyat atau senator asal Sumut terus memacunya untuk menyuarakan keadilan, kebaikan, kesejahteraan dan kedamaian di tengah masyarakat. “Sejak saya terpilih menjadi anggota DPD-RI dari Sumut dengan perolehan suara terbanyak (803.638 suara), sebenarnya ini semakin memotivasi saya untuk menyuarakan kebaikan Tuhan kepada masyarakat dan menunjukkan sikap ketaatan kepada Tuhan,” ujar mantan Ketua Umum PGI Wilayah Sumut dan mantan Ketua Umum Forum Komunikasi Antargereja Se-Sumut yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2011 Pilihan Majalah NARWASTU” ini.

Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. bersama Menkumham, Prof. Dr. Yasonna Laoly, S.H. dalam sebuah acara.

Kepada Majalah NARWASTU, mantan aktivis GMKI dan KNPI kelahiran Samosir (Sumut) 4 Juli 1954 ini menceritakan, ketika ia bangun pagi sebelum jam lima ia sudah siap melayani komunikasi dan curahan hati masyarakat. Pagi hari setelah berdoa dan membaca Alkitab untuk meminta hikmat dan kekuatan dari Tuhan, ia biasanya mencek alat komunikasi (Smartphone-nya) guna melihat pesan-pesan WA, SMS dan email yang masuk. Selain ia mencek urusan pekerjaannya sebagai anggota DPD-RI, biasanya sekitar 200-an pesan WA atau SMS (pesan pendek) sudah ia terima.

Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. bersama keluarga tercinta.

“Setelah membaca semua pesan-pesan yang masuk terutama dari warga Sumut, lalu saya balas satu persatu meskipun agak terlambat. Karena saya merasa bahwa saya berhutang pada masyarakat Sumut. Sehingga apa yang menjadi aspirasinya akan saya perhatikan. Dan semua aspirasi yang masuk itu saya simak sambil minum kopi dan makan ubi. Dan saya juga selalu sempatkan berolahraga pagi dengan naik sepeda agar saya tetap sehat dan bugar sebelum beraktivitas,” ujar Hamba Tuhan yang pada saat HKBP diintervensi penguasa Orde Baru (1992-1998) pernah menjadi korban penculikan oleh oknum militer.

Pdt. WTP Simarmata yang pada bulan Juli 2020 ini genap berusia 66 tahun menerangkan, dibandingkan dengan jabatan dulu sebagai Ephorus HKBP atau pimpinan gereja terbesar di Indonesia dan Asia, jabatannya sekarang sebagai senator tidak mengubah banyak sikapnya. Menurutnya, kalau dulu ke mana-mana ia selalu didampingi sopir dan seorang staf serta sering disambut jemaat, kalau sekarang ia lebih bebas beraktivitas sebagai wakil rakyat. “Jadi tugas saya tetap menyatakan kebaikan Tuhan kepada masyarakat,” papar Pdt. Simarmata yang kini banyak juga menerima undangan sebagai narasumber di acara diskusi live via Zoom tentang persoalan di tengah masyarakat dan seputar Pilkada.

Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. bersama tokoh Muhammadiyah Prof. H. Din Syamsuddin.

Sejak wabah Covid-19 melanda Indonesia, hingga tulisan ini diturunkan sudah tiga bulan Pdt. Simarmata berada di Medan, Sumut, sambil mencermati keberadaan masyarakat yang terdampak Covid-19. Menurutnya, ada 33 kabupaten/kota di Sumut yang belum ia kunjungi semua saat masa pandemi ini, namun melalui para sahabatnya ia terus memantau situasi di setiap daerah. “Sebagai wakil rakyat, apalagi saya dulu pemimpin gereja, saya harus dekat kepada rakyat dan harus menyampaikan aspirasi mereka ke pemerintah agar diperhatikan. Seperti baru-baru ini, saat ada masalah di sebuah daerah terkait Covid-19, langsung saya komunikasikan dengan pihak Pemerintah Provinsi Sumut, dan ternyata segera ditangani,” ucap lulusan STT HKBP Pematang Siantar dan alumni S2 dari Universitas Silliman, Filipina ini.

Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. bersama tokoh-tokoh NU, seperti KH Hasyim Muzadi (alm.).

Di samping itu, Pdt. Simarmata bersama timnya hingga tulisan ini diturunkan sudah membantu warga yang terdampak Covid-19 dengan 400 karung beras, telur, minyak goreng, masker, dan hand sanitizer buat 3.000 warga. Termasuk ratusan pendeta pensiunan dan kaum ibu janda di HKBP di Kota Medan dan Pematang Siantar ia bantu dengan sembako. Yang patut diacungi jempol untuk mendanai sembako yang ia sumbang itu disisihkan dari gaji dan tunjangannya sebagai anggota DPD-RI. “Keluarga saya juga ikut mendukung agar gaji dan tunjangan sebulan disisihkan untuk membantu masyarakat yang terdampak virus corona,” kata mantan Direktur Departemen Pendidikan HKBP dan mantan Pendeta HKBP Resort Batam ini.

Pdt. Simarmata menegaskan, sebagai umat Tuhan apalagi di masa Covid-19 ini kita jangan takut berbagi pada sesama yang berkekurangan. Harus ada kerelaan berbagi dan menyatakan solidaritas. “Tuhan itu baik pada setiap umatNya yang mau berbagi. Dan Tuhan akan memberi balasan juga pada orang yang suka berbagi,” terang mantan Praeses HKBP Distrik VI Dairi, yang pernah dipercaya sebagai Staf Khusus Sekjen HKBP itu.

Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. bersama KH Said Aqil Siradj (Ketua Umum PB NU), Menkopolhukam RI, Prof. Mahfud MD dan pemuka Muslim.

Tak hanya membantu gereja-gereja, sejumlah pesantren di Sumut pun tak luput dari perhatian Pdt. WTP Simarmata. Bahkan, hubungannya dengan pemuka Muslim yang disegani di Sumut, Tuan Syekh Ali Akbar Marbun yang merupakan pimpinan Pesantren Al Kautsar cukup baik. Begitu juga hubungannya dengan pimpinan Pesantren Al Hidayah di Deli Serdang, cukup baik. Bahkan sebagai tokoh senior di HKBP Pdt. Simarmata diminta menjadi pengayom di pesantren besar itu. “Bagi saya, bangsa yang besar dan majemuk ini harus kita bangun dengan cinta kasih dan kebaikan dari Tuhan. Kemajemukan di Indonesia sesungguhnya adalah kekayaan dan kekuatan bagi kita supaya kita terus bersatu dalam negara Pancasila,” tukas Pdt. Simarmata yang punya lima anak, dan sering menjadi pembicara di acara-acara seminar dan diskusi umat Kristen berskala internasional itu.

Pdt. Simarmata yang punya 39 group WA (WhatsApp) di ponselnya menuturkan, wabah Covid-19 yang terjadi di negeri ini memang amat memprihatinkan, karena banyak warga masyarakat yang terdampak terutama di bidang ekonomi, kesehatan dan sosial. Hanya saja, kata peraih gelar doktor dari Hanil University and Presbyterian Theological Seminary, Korea Selatan, ini setiap umat harus tetap optimis dan berpikir positif dalam menghadapi tantangan kehidupan ini serta terus bergantung kepada Tuhan. Menurutnya, dari wabah Covid-19 kita semua sesungguhnya diajak untuk memperhatikan perlunya pembaharuan sikap, pola pikir dan perilaku. “Kita juga dipaksa untuk menjaga diri, menjaga kesehatan dan tetap tinggal di rumah. Dengan pemberlakuan new normal sekarang oleh Pemerintah kita harapkan ekonomi agar bisa bergerak, tetapi di sisi lain harus dijaga pula kesehatan, selalu berdisiplin serta taat pada protokol kesehatan yang sudah dibuat Pemerintah. Di era new normal ini ekonomi harus bergerak agar masyarakat bisa bekerja, dan tidak terjadi lagi PHK,” ujarnya.

Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. memberi sumbangan kemanusiaan pada warga yang terdampak Covid-19 di Sumut.

Di sisi lain, ibadah kita sekarang dipaksa untuk dilakukan di rumah, dan ini membuat banyak pimpinan gereja berubah. Serta pendeta dipaksa agar tahu dan paham dengan IT atau teknologi komunikasi. Dengan kegiatan ibadah di rumah sebenarnya kita patut bangga, karena di rumah sekarang kita memuji Tuhan dan mengumpulkan persembahan bagi Tuhan. “Jadi jangan dianggap bahwa nilai atau spiritualitas beribadah di rumah lebih rendah daripada di gedung gereja. Itu tidak benar. Justru kita boleh bangga karena bisa memuji Tuhan bersama keluarga kita di rumah,” terang Pdt. Simarmata yang ditahbiskan jadi pendeta pada 23 Oktober 1983.

Dikatakan Pdt. Simarmata, kita tidak tahu kapan wabah Covid-19 akan berakhir dari negeri kita. Namun gereja-gereja harus siap menyatakan kebaikan Tuhan, dengan menampung orang-orang sakit di gereja. Dulu pada tahun 1875 silam Pdt. I.L. Nommensen pun menghadapi wabah kolera yang hebat di Tanah Batak. Dan saat itu Pdt. Nommensen punya strategi pelayanan untuk menangani orang-orang yang terserang kolera dengan mengubah gereja jadi bangsal atau tempat penampungan orang-orang sakit.

Sebagai tokoh masyarakat Sumut, senator dan pemuka gereja berskala internasional, Pdt. Simarmata pun meminta rakyat Indonesia agar terus berdoa bagi pemerintah dalam mengatasi Covid-19 ini. Menurutnya, beban negara dan masyarakat saat ini memang berat, tapi perlu kita ingat bahwa sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945 bahwa tugas negara adalah melindungi, mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat. “Kita harus ingat ungkapan: Salus populi supreme lex esto atau hukum tertinggi adalah keselamatan rakyat. Sehingga kita mendukung pemerintah dalam menyelamatkan rakyat. Dan kepentingan rakyat harus diutamakan, dan semua usaha harus diupayakan untuk kepentingan rakyat,” cetus Pak Pendeta yang hobi menanam berbagai sayur-sayuran, rempah-rempah, buah-buahan dan memelihara ikan di pekarangan rumahnya itu.

Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. bersama mantan Ketua Umum PGI dan Ephorus Emeritus HKBP, Pdt. DR. SAE Nababan. Pdt. Dr. J.R. Hutauruk dan Pdt. Dr. Bonar Napitupulu dalam sebuah acara.

Menurutnya, ia dan istrinya yang berasal dari keluarga guru dan petani memang sejak muda sudah senang memelihara tanaman di pekarangan rumah dan memelihara ikan. “Kami dari dulu suka alam. Makanya kalau sarapan pun saya sering makan ubi dan minum kopi. Dengan menanam tanaman di pekarangan rumah dan memelihara ikan, itu juga cara menjaga ketahanan pangan,” kata Pdt. Simarmata, yang merupakan pengagum tokoh Alkitab, Abraham yang merupakan “Bapa Orang Beriman.”

Saat ditanya Majalah NARWASTU, apa refleksi dan harapannya di usianya yang kini 66 tahun? Pdt. Simarmata yang pada 2004 lalu di Sidang Raya PGI pernah disebut-sebut figur yang amat layak memimpin PGI menjawab, “Semakin bertambah umur dan tua, saya semakin banyak bersyukur kepada Tuhan. Saya bersyukur dengan keluarga yang Tuhan berikan semua sehat, dan terus mendukung dan mendoakan saya. Istri saya itu mendidik anak-anak dengan disiplin, dan dialah ibarat kepala sekolah di rumah kami. Saya juga punya cucu-cucu, itu semua anugerah Tuhan. Setelah selesai menjalankan tugas sebagai Ephorus HKBP saya masih sehat, dan saya masih dipakai Tuhan untuk menjadi anggota DPD-RI. Obsesi saya, saya ingin terus selalu sehat dan berguna bagi banyak orang. Hidup ini rasanya sayang sekali kalau kita tidak bisa memberikan manfaat bagi banyak orang,” ujarnya. Di akhir perbincangan dengan Majalah NARWASTU, Pdt. Simarmata tak lupa berdoa khusus untuk majalah kesayangan kita ini, supaya terus disertai Tuhan dalam menyuarakan suara kenabian di Indonesia, serta timnya diberkati dan diberikan hikmat oleh Tuhan. GH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here