Berkat atau Kutuk Bagi Bangsa Kita?

* Oleh: Eliezer H. Hardjo Ph.D., CM

30

Narwastu.id – Israel negara liliput dibanding dengan negara-negara Arab sekitar yang memiliki tanah jauh lebih luas, merupakan negara paling makmur. Aneh tapi nyata. Dengan keputusan Presiden Amerika, Donald Trump untuk memindahkan KedutaanBesar Amerika ke Yerusalem dan terwujud pada tanggal 14 Mei 2018, tepat di hari kemerdekaan Israel, yakni tanggal 14 Mei 1948 di mana Presiden Harry Truman menandatangani pengakuan kemerdekaan Israel sekalipun memperoleh banyak tantangan termasuk Menteri Luar Negeri George Marshall.

Maka kembali mata dunia melihat ke Israel. Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, mengatakan bahwa Presiden Donald Trump telah menjadi bagian dari sejarah bangsa Israel, melalui keputusan sangat penting tersebut. Karena presiden-presiden sebelum Donald Trump hanya obral janji semata. Benyamin Netanyahu juga dalam salah satu pidatonya menyatakan bahwa umat Kristiani di seluruh dunia merupakan mitra yang tidak terpisahkan dari Israel. Satu per satu negara-negara lain pun mengikuti jejak Amerika dan memindahkan kedutaan besar mereka ke Yerusalem.

Sebetulnya Alkitab dengan jelas mencatat bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel, pada zaman Raja Daud memerintah sekitar 990 tahun sebelum Masehi: Dan Daud memerintah orang Israel selama empat puluh tahun; di Hebron ia memerintah tujuh tahun, dan di Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun (1 Raja-Raja 2:11).

Bagaimana posisi Indonesia menanggapi keputusan Amerika tersebut? Seperti biasa dan masih saja, Indonesia mengutuk Israel atas keputusan Amerika untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Dan inilah yang perlu menjadi keprihatinan kita karena kita bagian dari bangsa Indonesia. Firman Tuhan ya dan amin, dan kita semua tahu bahwa ada ikatan janji yang tidak akan Tuhan batalkan (eternal covenant) antara Tuhan dengan Abraham, cikal bakal bangsa Israel; bapak orang percaya bagi semua bangsa.

“Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang  yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12:13).

Firman Tuhan, “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau,” secara langsung maupun tidak langsung membagi bangsa-bangsa di dunia ke dalam dua kelompok: bangsa yang diberkati; atau bangsa yang dikutuk atau terkutuk. Itu adalah Firman Tuhan yang harus menjadi perenungan mendalam kita; sangat jelas dan tidak perlu membuat interpretasi lain yang melunakkan arti terutama tentang kutukan.

Kita dapat melacak negara-negara mana yang memberkati Israel, dan mana yang tidak kemudian kita melihat keadaan mereka. Salah satu tanda konkret memberkati Israel adalah dengan mengadakan hubungan bilateral. Sebuah fenomena terjadi dengan negeri Ethiopia, dahulu negara miskin, kini menjadi salah satu negara di Afrika yang paling kuat karena padang gurun yang tandus mereka telah berubah menjadi tanah subur yang dapat ditanami sayur dan buah-buahan yang di ekspor ke negara-negara lain di Afrika. Itu terjadi karena sentuhan para ahli agraris Israel.  Israel sudah sejak lama menjadi salah satu pemasok sayur dan buah-buahan ke negara-negara di Eropa.

Kembali ke negeri kita. Kita diingatkan akan peristiwa G-30-S, yakni bulan ini 53 tahun yang silam di mana telah terjadi pertumpahan darah atas penduduk negeri kita diiringi dengan peralihan kepemimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto. Satu juta lebih rakyat yang mungkin sebagian tidak berdosa menjadi korban pembantaian. Lalu disusul dengan peristiwa berdarah 1998 di mana etnis Tionghoa paling menderita. Dan bagaimana kini keadaan negeri kita setelah 73 tahun merdeka? Masing-masing dari kita dapat menilainya, dan membandingkannya dengan negara-begara lain yang telah merdeka dalam kurun waktu bersamaan.

Kini sebagian penduduk mengelompok dan menganggap diri sebagai pemilik yang sah dari negeri ini dengan strategi SARA, yang berkeinginan untuk menghalau penduduk lain yang berseberangan dan tidak setuju dengan perilaku diskriminasi mereka. Apa yang dapat dilakukan oleh kita-kita yang dianggap orang luar oleh mereka?

Kembali kepada Firman Tuhan: Dan jika umat-Ku memanggil nama-Ku, merendahkan diri, berdoa dan mencari Aku, serta meninggalkan jalan yang jahat, maka Aku akan mendengar mereka dari surga dan mengampuni dosa mereka serta memulihkan negeri mereka (2 Tawarikh 7:14). Kepada siapakah Firman itu ditujukan, apakah hanya kepada bangsa Israel zaman Raja Salomo ataukah bagi kita yang hidup di masa kini? Rasul Petrus mengungkapkan tentang hal ini: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9)

Kitalah yang dimaksud pada zaman ini, dan bagi kita pulalah berkat itu dilimpahkan atau sebaliknya kutuk ditimpakan: “Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu” (Galatia 3:14).

Ke depan sebagian merancang-rancang untuk memonopoli negeri ini, namun kita-kitalah yang akan membuat negeri ini diberkati, menjadi makmur dengan “Berkat Abraham” yang dicurahkan. Dengan memenangkan sesame anak bangsa untuk mengenal Kristus maka akan semakin pasti negeri kita akan menerima berkat Abrahan dan menjadi makmur. Tugas berat menanti kita dengan tetap berdoa dan bekerja bagi kebaikan bangsa dan kemuliaan Tuhan.

 

  • Penulis adalah salah satu Pembina/Penasihat Majalah NARWASTU.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here