Anggota DPD-RI Terpilih dari Sumut, Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. Politik itu Mulia, dan Alat Tuhan untuk Membangun Bangsa

45
Pdt. WTP Simarmata, M.A. bersama Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

Narwastu.id – Ketika berkunjung baru-baru ini ke kantor Majalah NARWASTU di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Ephorus Emeritus Sinode HKBP ini banyak berbicara tentang kiprahnya saat mulai maju jadi Calon DPD-RI hingga kini berhasil masuk Gedung Senayan dengan perolehan suara terbanyak. Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. siapa yang tidak kenal? Dia pernah mendapat kepercayaan memegang sejumlah jabatan strategis di Sinode HKBP yang merupakan gereja terbesar di Indonesia dan Asia. Bahkan HKBP adalah gereja suku terbesar di dunia dengan jemaat lebih dari 6 jutaan orang. Ia pun pernah dipercaya sebagai Ketua Rapat Pendeta HKBP selain menjabat sekjen dan terakhir Ephorus HKBP.

Pdt. WTP Simarmata di awal era Reformasi pada Desember 1998 lalu, dipercaya sebagai Sekjen HKBP setelah dua kubu yang terlibat konflik sejak 1992 berdamai dalam Sinode Agung HKBP di Pematang Siantar, Sumut. Ia mendampingi Pdt. Dr. J.R. Hutauruk yang dipercaya sebagai Ephorus HKBP. Pdt. Simarmata yang semasa mudanya pernah aktif di GSKI (Gerakan Siswa Kristen Indonesia), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) sebenarnya sejak kecil sudah aktif menyikapi persoalan gereja dan kemasyarakatan. Dan sejak SD pun ia dikenal anak yang berani, cerdas serta sering jadi ketua kelas, dan hal tersebut tak lepas dari didikan orangtuanya yang seorang guru di sekolah dan guru huria (gereja) di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Makanya tak heran, saat ia menjadi pendeta sejumlah organisasi kepemudaan dan organisasi mahasiswa diikutinya. Lantaran karena cerdas dan punya jiwa kwpemimpinan pula ia pernah dipercaya sebagai Ketua Umum PGI Wilayah Sumatera Utara dan Ketua Umum Forum Komunikasi Antar Gereja Se-Sumatera Utara.

Pdt. WTP Simarmata, M.A. bersama Jonro I. Munthe, S.Sos, Ibu H. boru Purba dan Praeses HKBP Bekasi-Bogor, Pdt. Banner Siburian, M.Th saat berkunjung ke kantor NARWASTU.

Ketika berkunjung ke kantor NARWASTU, Pdt. Simarmata (65 tahun) yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2011 Pilihan Majalah NARWASTU” didampingi istri tercinta Ibu H. boru Purba (64 tahun) dan Praeses HKBP Distrik Bekasi-Bogor, Pdt. Banner Siburian, M.Th. “Saya sudah mengenal adik saya Jonro Munthe ini sejak awal 1999 saat mulai menjabat Sekjen HKBP. Dan Majalah NARWASTU-lah media Kristen dari Jakarta yang pertama kali mewawancarai saya eksklusif di Pearaja Tarutung setelah HKBP berdamai,” ujarnya tentang Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi, Jonro I. Munthe, S.Sos yang menerima kunjungannya saat itu.

Pdt. Willem T.P. Simarmata mengatakan, sebenarnya sudah sejak menjabat Sekjen HKBP ia ingin berkunjung ke kantor Majalah NARWASTU, namun karena kesibukannya keinginan tersebut tak kesampaian. Justru, katanya, setelah ia terpilih menjadi senator atau anggota DPD-RI keinginan tersebut akhirnya terkabul. “Ternyata semua ada waktunya, dan semua indah pada waktunya,” ujar Moderator United Evangelical in Mission (Persekutuan Gereja-gereja di Eropa, Asia dan Afrika) itu. Pdt. Simarmata yang juga dipercaya sebagai Moderator CCA (Conference Church Asia) kini pun menjabat sebagai anggota Central Committe Dewan Gereja-gereja Se-Dunia (WCC). Dengan jabatannya itu, tentu figur pria yang ramah namun tak pernah kehilangan ketegasannya itu adalah tokoh gereja kaliber internasional. Dia pun dikenal tokoh agama berpengaruh di Sumatera Utara.

Pdt. WTP Simarmata, M.A. bersama sesepuh HKBP, Pdt. Dr. SAE Nababan, Pdt. Dr. J.R. Hutauruk dan Pdt. Dr. Bonar Napitupulu.

Berbicara tentang perjuangannya di Pemilu 2019 lalu, kata Pdt. Simarmata, ia sangat bersyukur pada Tuhan karena ada banyak anggota jemaat yang membantunya terutama saat sosialisasi. “Di daerah Samosir dipasang spanduk saya banyak, ternyata ada orang yang bersimpati kepada saya. Juga kader-kader muda yang selama ini kita bina di berbagai daerah ikut kerja keras mensosialisasikan nama saya sebagai calon DPD-RI. Jadi saya maju di pencalonan ini tak ada money politics.  Justru saat bertemu dengan rakyat saya bisa memberi pencerdasan politik dan memotivasi mereka. Semua murni, dan sahabat saya banyak dan anggota jemaat serta kader-kader muda gereja membantu saya,” pungkas pria yang meraih gelar doktor dari Hanil University and Presbyterian Theological Seminary, Korea Selatan itu.

Saat ditanya Majalah NARWASTU, berapa dananya yang habis selama pencalegan? Pdt. Simarmata mengatakan, tak lebih dari Rp 300 jutaan, dan sisanya para sahabatnya yang membantu. Berbicara tentang politik, Pdt. Simarmata menegaskan, sebenarnya ia terinspirasi dengan kiprah Pdt. Lambe yang dulu terpilih jadi anggota DPD dari Sulawesi Selatan dan Pdt. Simaremare yang terpilih jadi anggota anggota DPD dari Papua, sehingga ia tergugah untuk tampil sebagai calon senator. “Jadi ketika saya maju jadi calon DPD-RI di Sumut, saya sejak awal sudah optimis akan masuk Senayan. Karena saya paham mengenai wilayah Sumut, dan banyak sahabat saya di sini, termasuk tokoh-tokoh di luar Kristen. Dan mereka banyak yang mendukung saya. Terbukti saya mendapat suara tertinggi di daerah pemilihan Sumatera Utara (803.638 suara). Semua karena ada kebersamaan, persahabatan dan mendukung yang baik,” cetus Pdt. Simarmata yang pernah dulu diculik oknum militer saat ia vokal berbicara ke penguasa Orde Baru supaya HKBP jangan diintervensi.

Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. bersama keluarga tercinta.

Di panggung politik, tukasnya, orang Kristen harus tampil beda. “Di panggung politik itu memang ada saja orang jahat. Saat jadi calon DPD saja saya sudah diserang habis dan berulang kali akan dijatuhkan, namun Tuhan membela yang benar. Orang Kristen mesti menjadi nabi untuk membela rakyat. Sekalipun di  politik itu ada orang jahat, tapi kita jangan dikalahkan yang jahat. Politik itu mulia dan harus dimanfaatkan untuk membela rakyat, menyatakan kebenaran dan keadilan serta menyampaikan suara kenabian,” tukasnya.

Itu sebabnya, imbuhnya, pendidikan politik pada kaum muda gereja penting agar mereka bisa ikut berpartisipasi membangun bangsa ini supaya lebih baik. Dan ia punya obsesi untuk membekali kaum muda Kristen untuk mengikuti kursus oikoumene dan demokrasi, dan di dalamnya nanti ada tokoh-tokoh muda politik Kristen yang akan memberi pendidikan politik tersebut. Pdt. Simarmata yang dikenal ayah dari 5 anak dan kakek dari 8 cucu adalah sosok suami, ayah dan ompung (kakek) yang kebapaan dan bijaksana. Bahkan, di rumahnya ia mau ikut membantu istri tercinta mencuci piring, kamar mandi dan beres-beres rumah. Dan ia sering membuat acara pertemuan keluarga di rumahnya. “Pemimpin itu harus melayani dan memberi teladan,” katanya.

Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. saat menerima gelar doktor dari Hanil University and Presbyterian Theological Seminary, Korea Selatan.

Pdt. Simarmata pun tak lupa bicara tentang penghargaan sebagai tokoh Kristiani 2011 yang pernah diterimanya dari Majalah NARWASTU. Namun penghargaan dari NARWASTU saat itu diterima Pdt. Colan Pakpahan, M.Th, Praeses Distrik DKI Jakarta untuk mewakilinya, karena kala itu Pdt. Simamata sedang berada di luar negeri. “Ketika saya disejajarkan dengan tokoh-tokoh Kristiani di Indonesia, tentu ada kebanggaan saya dan ini pun kehormatan bagi kami. Namun ini juga menuntut saya untuk terus berkarya, dan ada tanggung jawab saya besar di sini. Saya bangga dengan adik saya Jonro Munthe, orang muda yang luar biasa mempelopori pemberian penghargaan ini,” paparnya. Di akhir kunjungannya ke kantor Majalah NARWASTU yang hampir satu setengah jam, sembari menyeduh kopi dan menikmati kue-kue basah, tak lupa Pdt. Simarmata memanjatkan doa berkat kepada Tuhan Yesus supaya majalah ini dan timnya terus diberkatiNya. GF

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here