Angel Damayanti, M.Si, Ph.D Dosen Berprestasi dari UKI Jakarta dan yang Giat Melayani

132
Angel Damayanti, M.Si, Ph.D,

Narwastu.id – Aksi teroris di Tanah Air yang menghebohkan pada medio 2018 lalu, tak hanya membuat gempar masyarakat Indonesia, tapi juga menjadi sorotan dunia internasional. Akibatnya ada beberapa negara yang mengeluarkan travel advice kepada warganya yang akan berwisata ke Indonesia. Tentu peristiwa ini membuat pemerintah mengambil langkah cepat untuk memberantas para pelaku bom. Selain mengesahkan revisi UU Terorisme diadakan pula kerjasama antara TNI dan Polri untuk memerangi terorisme.

Sesungguhnya aksi terorisme yang terjadi merupakan bagian dari radikalisme. Pengamat politik dan Dekan FISIPOL Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, Angel Damayanti, M.Si, Ph.D, menerangkan kepada Majalah NARWASTU, radikalisme memiliki definisi, yaitu gagasan yang ingin mengubah sebuah situasi sosial politik secara drastis sampai ke akar-akarnya. “Dari radikalisme itu muncullah aksi-aksi, baik itu dalam bentuk intoleransi, seperti penutupan atau pengrusakan rumah ibadah dan juga terorisme. Jadi yang bahaya bukan terorisme semata-mata, tetapi juga radikalisme yang melatarbelakanginya,” jelas perempuan cantik yang juga pernah mengasuh renungan harian kaum profesional Kristen Pijar itu.

Menurut Wakil Sekretaris Umum DPP PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia) dan Dekan FISIP UKI Jakarta yang sering diundang sebagai pembicara dan moderator diskusi seputar politik itu, radikalisme yang berasal dari kata “radix” berarti “akar”, tidak selamanya berbentuk aksi, melainkan ada dalam bentuk pemikiran atau kombinasi keduanya. Sebut saja HTI  (Hizbut Tahrir Indonesia) yang menitikberatkan pada pemikiran dan keinginan yang radikal untuk mengubah Pancasila sebagai ideologi negara, namun tidak diwujudkan dalam aksi. Ada pula ormas yang dikenal cukup keras di Indonesia lebih menekankan radikalisme dalam bentuk aksi, tapi tidak ada keinginan untuk mengubah ideologi negara,” tukas Angel, dosen berprestasi (peringkat 1) di UKI Jakarta (2017) dan peringkat 1 dalam “10 Dosen Berprestasi” di tingkat LLDikti Wilayah III yang mencakup DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat (333 perguruan tinggi).

Tentu, katanya, ada berbagai faktor yang menyebabkan radikalisme terjadi. Selain karena ada gagasan untuk mengubah situasi sosial politik, radikalisme pun bisa muncul karena adanya faktor ketidakpuasan atau rasa diperlakukan tidak adil di bidang ekonomi, sosial dan politik dari pemerintah yang dianggap tidak melakukan hal-hal yang seturut dengan pandangan mereka. “Ditambah lagi dengan faktor-faktor kemarahan secara psikologis, karena merasa saudara-saudaranya diperlakukan tidak adil. Dan mereka merasa sepenanggungan untuk berbuat sesuatu,” tukas ibu dua anak, Dylan Kusuma dan Keenam Kusuma, serta istri tercinta Ellia Dian Kusuma ini. Angel menyelesaikan S1 Hubungan Intewrnasional di UKI Jakarta (2000) dan S2 Hubungan Internasional di UI, Jakarta. Sedangkan S3 diselesaikannya di University Sains Penang, Malaysia, dan National University Singapore.

Sesungguhnya radikalisme telah ada sejak zaman dahulu kala. Walaupun eksistensinya tidak selamanya merugikan, namun radikalisme saat ini terlanjur mengandung stigma kurang menyenangkan. Angel yang berjemaat dan juga Wakil Gembala Jemaat di Gereja Kristen Getsemani (GKG) Jemaat Anugerah Kelapa Gading, Jakarta Utara, ini menuturkan, radikalisme sebetulnya kata netral, bisa menjadi positif atau negatif. Tergantung pada situasi sosial politik. Akan menjadi negatif, misalnya, jika Indonesia yang memiliki ideologi Pancasila dan telah disepakati oleh para founding fathers serta dianggap mampu mengayomi berbagai kelompok masyarakat yang beragam, kemudian ingin diubah oleh sekelompok orang dengan ideologi tertentu. Hal ini tentunya dapat menimbulkan perpecahan.

Menurut wanita yang juga pernah menulis di Jakarta Post dan jurnal ilmiah ini, tidak bisa dipungkiri, jika saat ini paham radikalisme sudah menyusup ke area-area strategis, seperti kampus atau lembaga pemerintah. Untuk itu dibutuhkan tindakan preventif, apalagi ada dugaan kuat bahwa generasi muda menaruh  simpati dan mengidolakan kaum radikalis. Sudah barang tentu jika hal ini terus dibiarkan akan membawa kerugian bagi bangsa ini. Contohnya, HTI yang akhirnya harus menelan pil pahit, karena dianggap tidak sejalan dengan pemerintah dan bertentangan dengan UU Ormas.

“Yang paling basic adalah edukasi. Misalnya, sedini mungkin sudah diberikan pengetahuan dan wawasan tentang nusantara, Pancasila dan bela negara sebagai kurikulum di sekolah. Dengan begitu maka akan muncul pemahaman dan kesadaran bahwa inilah negara kita, yang harus dicintai, inilah nilai-nilai luhur yang harus diamalkan dan dipertahankan oleh penduduknya,” jelasnya, selain juga faktor pendidikan karakter di dalam keluarga yang juga ikut memegang peranan.

Angel beberapa waktu lalu saat berbicara mengenai kondisi bangsa dan negara ini, ia

menuturkan, kita prihatin kalau dibiarkan tindakan-tindakan rasisme, baik itu yang disampaikan secara langsung maupun melalui media sosial. Ini, ujarnya, ujian buat Pemerintah, bagaimana Pemerintah menghadapi gerakan-gerakan radikal, dan kalau Pemerintah berhasil melewati ini ke depan, maka keadaan bisa lebih stabil.

Harapan Angel kepada umat Kristiani dalam menyikapi keadaan saat ini, agar umat Kristiani lebih terbuka atau inklusif dan jangan bersikap eksklusif. Umat Kristiani perlu bersinergi dengan pemimpin-pemimpin lokal, tokoh agama, tokoh adat dan pemuda-pemuda setempat. Sehingga orang Kristen bisa menjadi berkat atau pembawa damai untuk semua. Dengan demikian, kata peneliti senior di Center for Security and Foreign Affairs Studies (CESPAS) UKI Jakarta, kedamaian dapat dirasakan oleh banyak pihak.

Berbicara tentang kiprah Angel sebagai cendekiawan Kristiani, ibundanya yang juga rohaniwan, Pdt. DR. Sarah Fifi, M.Si menuturkan, sejak kecil anaknya ini sudah punya motivasi tinggi untuk belajar dan berprestasi. “Saya sebagai orangtua hanya bisa mengarahkan, mendukung dan mendoakan. Sejak SD hingga SMA ia sudah berprestasi. Ini bagi saya anugerah Tuhan. Dulu saat sekolah, kalau ia dapat nilai 8 ia sudah stres, maunya dapat nilai 9 atau 10. Dan setelah lulus SMA, saya hanya menyampaikan kepada dia bahwa saya sebagai orangtuanya hanya bisa membiayainya sampai S1. Tapi ternyata dia bisa mencari sendiri dana beasiswa hingga kuliah S2 dan hingga S3 di Singapura. Luar biasa perjuangannya. Suaminya juga saya lihat sangat mendukungnya. Pesan saya kepada Angel agar dia selalu rendah hati dan terus giat melayani,” ujar Pdt. Sarah Fifi yang juga psikolog dan dosen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here