PIKI Awards Digelar untuk Mengapresiasi Tokoh Lintas Agama dan Profesi

5
Para intelektual di PIKI Awards.

Narwastu.id – Memiliki keteladanan, integritas dan pengabdian bagi bangsa. Kriteria tersebut menjadi tolak ukur dalam pemberian penghargaan kepada para tokoh dalam PIKI Awards 2026. Mengusung tema “Terang Allah Membawa Kebenaran (Efesus 4:15),” malam penganugerahan PIKI Awards disiarkan langsung di Metro TV pada pukul 20.00 WIB pada Minggu, 25 Oktober 2026. Dalam proses penjaringan dan penjurian PIKI Awards 2026 dilaksanakan secara terbuka lewat jejaring PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia) yang bekerjasama dengan survei independen Indikator. Dan ada 30 juri yang terlibat dalam proses tersebut, yang terdiri dari para tokoh yang dikenal kredibel serta berkompeten dalam bidangnya.

Ketua Umum PIKI Maruarar Sirait.

Sedangkan untuk penilaian didasarkan pada empat dimensi, yakni integritas, inovasi, berdampak dan kebelanjutan. Untuk prosesnya sendiri dilakukan secara obyektif, transparan serta akuntabel. Dan ada 8 tokoh yang terpilih, yakni Prof. Dr. Abidin Wakano, M. Ag. sebagai “Tokoh Toleransi.” Pria yang berprofesi sebagai akademisi, mediator konfik dan penggerak dialog lintas iman selama dua dekade terakhir ini ada di garis depan dalam kerja bina damai di Maluku. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh Muslim yang sejak awal kerusuhan muncul di Ambon, Maluku, memilih untuk jalan perjumpaan. Dan bukan alih-alih untuk membela salah satu kelompok, tapi berpasangan dengan tokoh-tokoh Kristen untuk memutus rantai kekerasan komunal.

Pendiri dan pemimpin Ambon Reconciliation and Mediation Center (ARMC) ini turut membidani Peace Provocateurs bersama Ketua Umum PGI Pdt. Jacklevyn Manuputty. Sampai saat ini ia tetap konsisten menyuarakan bahwa Maluku telah bertransformasi dari labolatorium konflik menjadi laboratorium kerukunan. Lewat pengalamannya itu ia layak menjadi rujukan nasional maupun internasional.

Lalu Prof (H.C.) Dr. Carina Citra Dewi Joe, B.Sc. M.Sc., Ph.D., alumnus SMA BPK Penabur terpilih sebagai “Tokoh Riset dan Inovasi.” Senior Postdoctoral Research Scientist pada Jenner Institute, University of Oxford ini berperan penting dalam pengembangan teknologi massal vaksin Covid-19 Astra Zaneca.

Kontribusi Carina berada pada titik yang sangat menentukan, yakni proses scale-up manufacturing, tahapan yang memastikan vaksin dapat diproduksi dalam jumlah besar secara efisien dan tetap aman. Dan pada 15 Januari 2020 ia berhasil menemukan metode awal produksi yang menjadi kunci teknologi Oxford-AstraZeneca. Buah dari kerja keras dari perempuan berusia 38 tahun itu pun mendapat pengakuan luas mulai dari People of Britain Award 2021 bersama tim Oxford, GQ Awards Special Recognition, People of the Year 2021 kategori Terobosan Ilmiah dari Metro TV serta penghargaan lainnya.

Suasana acara PIKI Award di Jakarta.

Untuk “Tokoh Kesehatan” diberikan kepada dr. Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D., Sp.B., Sp.BTKV. Dokter ahli bedah dengan empat spesialisasi lulusan program doktoral Free University of Berlin, Jerman, ini merupakan pendiri rumah sakit apung (RSA) swasta pertama di Indonesia, bahkan disebut yang pertama dan terkecil di dunia. Idenya berawal dari sebuah peristiwa di Langgur, Kei Kecil, waktu itu seorang ibu datang membawa anak perempuan berusia 9 tahun dengan usus terjepit, setelah berlayar tiga hari dua malam. Padahal kondisinya harus dioperasi dalam enam sampai 8 jam. Peristiwa itu membekas dalam hatinya. Kemudian ia menjual rumahnya untuk membiayai kapal pertama sebagai RSA yang berlayar dengan seluruh layanan medis diberikan dengan cuma-cuma pada 2013.

Namun pada Juni 2021 kapal pertamanya karam di perairan Selat Sape. Tapi semangatnya untuk melayani sesama tak pernah padam. Hal itu dibuktikannya lewat doctorSHARE yang telah mengoperasikan beberapa rumah sakit apung. Seperti RSA dr. Lie Dharmawan II, RSA Nusa Waluya II, RSA dr. Lie Dharmawan III (Putra Tomia) yang resmi diluncurkan pada 2024 dengan melayani berbagai desa di sepanjang Sungai Mahakam. Dr. Lie Dharmawan juga menggagas program Dokter Terbang sejak 2015 untuk masyarakat pegunungan terpencil.

Suasana acara PIKI Awards.

Berikutnya Dr. Bambang Noorsena, S.H., B.A., M.H., terpilih sebagai “Tokoh Kebudayaan.” Gagasan besarnya ialah membebaskan kekristenan Indonesia dari anggapan sebagai agama Barat. Menghubungkan kekristenan Indonesia pada konteks oriental dan semitik aslinya termasuk Bahasa Arab yang dipakai bersama umat Islam dan Kristen di Timur Tengah, dan ia menawarkan jalan keluar dari kebuntuan dialog teologis Kristen-islam. Dengan merujuk pada Pancasila dan akar budaya Jawa dan semitik tempat gereja-gereja lokal bertumbuh. Pria kelahiran Ponorogo, 31 Maret 1964 ini dikenal sebagai teolog, filolog, sejarawan dan pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS) sejak akhir 1997. Ia menempuh riset ke gereja-gereja Timur di Yordania dan Suriah, mempelajari The Dead Sea Scrolls di Israel dan mengambil studi Bahasa Arab di Dar Comboni Institute, Kairo.

Pria sederhana yang mendedikasikan hidupnya sebagai penggerak konservasi pesisir Sendangbiru, Saptoyo terpilih sebagai “Tokoh Lingkungan Hidup.” Penghargaan tersebut memang layak diterimanya dalam mewujudkan pelestarian alam lewat advokasi lingkungan yang tidak mudah. Hal itu terbukti saat memulai inisiatif reboisasi lahan pesisir yang hancur dibabat sejak 1998. Bahkan, sempat ditangkap oleh aparat kepolisian karena melakukan pungutan liar (pungli) dan terpaksa harus mendekam di markas Polres Malang ketika menggalang donasi bibit mangrove.

Selanjutnya Gusti Ngurah Anom (Ajik Krisna) terpilih sebagai “Tokoh Pemberdayaan UMKM (Ekonomi).” Didirikan pada 2007, Krisna berkembang dengan menjajakan produk lokal mulai dari makanan, fashion, kerajinan, suvenir dan lain sebagainya. Maka tak heran, kalau Gusti Ngurah Anom diganjar awards sebagai Tokoh Pemberdayaan UMKM, karena perannya dalam menciptakan saluran pemasaran bagi produk lokal dan menghubungkan seluruh produknya dengan pasar wisatawan. Sementara “Tokoh Pendidikan” disematkan kepada Saur Marlina Manurung.

Para intelektual Kristen ingin menunjukkan kepedulian PIKI untuk gereja, masyarakat dan bangsa

Perempuan yang akrab disapa Butet Manurung ini adalah pelopor pendidikan kontekstual untuk masyarakat adat dan komunitas di luar jangkauan pendidikan formal. Melalui Sokola Institute, perempuan berdarah Batak ini mengembangkan pendekatan pendidikan yang bertolak dari kehidupan, kebudayaan, kebutuhan dan persoalan nyata masyarakat yang dilayani. Dalam pendekatan itu diketahui pendidikan tidak berhenti hanya pada kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Bahwa literasi menjadi sarana pemberdayaan agar masyarakat dapat memahami perubahan yang terjadi di sekitarnya, mengenali hak-haknya, mengambil keputusan dan mempertahankan identitas serta ruang hidupnya. Konsistensinya dalam memperjuangkan pendidikan yang inklusif dan kontekstual bagi komunitas yang kerap di pinggiran sistem pendidikan menunjukkan kepeloporan sekaligus keberpihakan yang kuat.

Sedangkan Prof. Dr. Artijo Alkostar terpilih sebagai “Tokoh Anti-Korupsi” (anumerta). Dikenal sebagai salah satu tokoh hukum Indonesia yang cukup disegani karena memiliki rekam jejak dalam bidang penegakan hukum, pemberantasan korupsi, integritas peradilan, bantuan hukum dan hak asasi manusia. Mengawali karier sebagai dosen di Universitas Islam Indonesia, hingga kariernya melesat menjadi advokat dan aktivis bantuan hukum.

Ia pun dipercaya untuk memimpin LBH Yogyakarta, advokasi HAM di Human Rights Watch hingga didapuk sebagai Hakim Agung Mahkamah Agung RI pada 2000. Selama mengemban tugas sebagai Hakim Agung ia berhasil memutus 19.708 berkas perkara. Pada 2018 Artidjo memasuki masa pensiun sebagai Hakim Agung, ia pun ditunjuk sebagai anggota Dewan Pengawas KPK pada 2019-2021. Sementara dua apresiasi lainnya, pertama, Lembaga Filantropi, Yayasan Buddha Tzu Chi atas dedikasinya dalam bidang kemanusiaan lintas suku, agama dan golongan.

Kedua, penggiat kebebasan beribadah, Gugun Gumilar, Ph.D. Pria murah senyum ini didapuk penghargaan atas konsistensinya dalam jaminan konstitusi dan kebebasan beragama serta kehadirannya secara langsung di tengah masyarakat yang multikultural.

Menurut Ketua Umum DPP PIKI Maruarar Sirait, ini menjadi momentum bahwa apa yang dikerjakan selama empat bulan ini, bagaimana kita bisa berdiri di atas kekuatan sendiri, di kaki sendiri dengan mengandalkan Tuhan Yesus. “Itu spirit yang kita bangun. Kita dididik Tuhan jadi kepala bukan ekor, baik kepala dalam iman, dalam pekerjaan dana apapun itu,” ujar kader Partai Gerindra itu.

Lebih lanjut ia menuturkan, PIKI telah melakukan berbagai kegiatan seperti seminar nasional kesehatan di Bandung, seminar nasional dana bagi hasil di Tentena Poso, simposium energi nasional di UPH Karawaci, Tangerang, Banten, seminar nasional hukum di Balai Kartini, Jakarta, dan sejumlah FGD yang berkaitan dengan berbagai isu serta tantangan yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia. PIKI juga memberikan bantuan kemanusiaan ketika terjadi bencana banjir di Sumatera Utara serta wilayah berdampak lainnya, termasuk memberikan bantuan saat gempa bumi di Flores, Karhutla di Palangka Raya dan Pontianak.

Dari buah pemikiran PIKI menghasilkan rekomendasi yang diterima dan direspon baik oleh pemerintah. Bahkan, menjadi pijakan dalam menyiapkan berbagai program/kebijakan guna kemajuan bangsa. Sebut saja dari hasil simposium nasional energi mendorong pembangunan PLTN dan pengutamaan pembangunan penyediaan listrik di daerah 3T yang langsung diterima oleh Menko Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. PIKI diajak bekerjasama dalam kolaborasi kerja program hilirisasi. Di sisi lain, dalam seminar nasional hukum diterima secara langsung oleh Jaksa Agung, S.T. Burhanuddin, di antaranya terkait mekanisme kepailitan untuk penyelesaian kolektif korban tindak pidana.

“Dua bulan ke depan Pak Barita Simanjuntak akan menyiapkan DPD di berbagai daerah di Indonesia. Kita melakukan dengan gotong-royong. Karena organisasi yang sehat mempunyai visi misi yang benar. Saya ingin PIKI mencapai keemasan dalam lima tahun ke depan. Ukurannya dapat dipercaya, berdampak, bicara dan bisa melahirkan SDM yang berkualitas,” ujarnya. Ara, begitu panggilan mantan aktivis GMKI di Bandung ini menambahkan, melalui PIKI mereka ingin melahirkan tokoh-tokoh, seperti Leimena, T.B. Simatupang, Radius Prawiro, Sabam Sirait, Peter Sumbung dan tokoh-tokoh lainnya. “Perjuangan kita bukan hanya untuk umat Kristen, tetapi juga untuk semua masyarakat,” tukasnya.

Sementara itu, Pdt. Prof. Binsar Jonathan Pakpahan, Ph.D yang ditunjuk sebagai Ketua Panitia PIKI Awards mengatakan, PIKI Awards diadakan untuk menjadikan PIKI ini sebagai organisasi yang inklusif dan terbuka, bukan hanya bagi orang Kristen tapi untuk orang Indonesia, dan orang-orang yang memberikan karyanya bagi bangsa. “Rencananya kami akan mengadakan ini setiap tahun, dan ini adalah yang pertama dan kami yakin bahwa tahun depan dengan arahan ketua umum pasti akan banyak lagi orang-orang didaftarkan untuk menjadi calon. Setelah melihat ini mungkin tahun depan orang akan banyak mengirimkan calon yang bersentuhan, ada kebudayaan cenderawasih misalnya, dari Timor, Aceh, dan lainnya tahun depan pasti akan lebih semarak lagi,” terangnya di sela-sela acara.

Dan guna menghidupi semangat Ad Caritas Et Veritas (Demi kasih dan Kebenaran) PIKI pun dikatakan ingin menegaskan bahwa kasih dan kebenaran harus berjalan beriringan dalam melayani bangsa. Kerja-kerja kemanusiaan sering dijalani dalam kesunyian, akan tetapi dampaknya dapat dirasakan oleh lintas generasi. PIKI berharap keteladanan para penerima penghargaan semakin menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya bagi bangsa. BTY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here