“Gowok Kamasutra Jawa” Jadi Sorotan Tajam dari Sisi Budaya, Etika, Sosial dan Agama

* Oleh: Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom

36
Profesi gowok berawal dari seorang perempuan Cina yang datang ke Indonesia.

Narwastu.id – Film “Gowok Kamasutra Jawa” salah satu film karya sinematik lokal yang mencoba memadukan unsur tradisi dan modernitas dengan pendekatan yang mengundang kontroversi. Judul film ini saja sudah cukup provokatif, karena menyandingkan dua hal yang kontras: “Gowok” yang bernuansa lokal atau kedaerahan, dan “Kamasutra”, teks klasik dari India yang identik dengan seksualitas dan seni bercinta. Paduan ini membuka ruang refleksi mendalam dari berbagai perspektif, antara lain budaya, etika, sosial, dan agama. Yuk, kita sorot. Dari sisi budaya, film ini jelas menabrak pakem. Di Indonesia, apalagi di daerah-daerah, hal-hal berbau seks biasanya dibicarakan diam-diam, bahkan dalam keluarga sering jadi topik yang dihindari.

Poster film “Gowok Kamasutra Jawa.”

Lalu datanglah film ini, yang membawa tema tersebut ke layar lebar dengan gaya blak-blakan. Bagi sebagian orang, ini seperti membuka jendela yang sudah lama tertutup. Tapi bagi yang lain, ini seperti lemparan batu ke kaca jendela adat. Film ini menjadi potret tentang budaya luar dapat dengan mudah masuk dan membaur dengan budaya lokal, namun seringkali tanpa proses filtrasi nilai yang matang. Hal ini mengundang kekhawatiran terhadap degradasi budaya lokal yang mengutamakan tata krama, kesopanan, dan rasa malu.

Bagaimana dengan etika ? film ini memunculkan pertanyaan: “Perlu nggak sih, topik seperti ini diangkat secara vulgar?” Kalau memang tujuannya edukasi atau kritik sosial, yup oke. Tapi kalau sekadar untuk hiburan yang memancing sensasi, iya wajar kalau banyak yang merasa tak nyaman. Soalnya, kita semua tahu, batas antara seni dan sensasi itu tipis banget. Film ini mengangkat tema yang sensitif tanpa secara eksplisit memberikan ruang edukatif atau pemahaman moral yang kuat. Jika film ini dimaksudkan sebagai bentuk edukasi atau satire terhadap pemahaman sempit tentang seks, maka mestinya ada kehati-hatian dalam penyampaian pesan agar tidak justru menimbulkan kesan vulgar dan tidak senonoh.

Secara etika komunikasi, cara penyampaian pesan dalam film ini rentan disalahartikan dan bisa menyinggung sensitivitas publik, khususnya bagi anak-anak remaja. Kita sorot secara sosial, efeknya bisa ke mana-mana. Ada yang bilang film ini membuka mata tentang pentingnya edukasi seks yang sehat. Tapi ada juga yang khawatir, jangan-jangan justru bisa menormalisasi hal-hal yang seharusnya masih ada batasnya. Apalagi kalau ditonton tanpa pendampingan atau pemahaman yang benar. Dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi norma-norma sosial berbasis nilai kekeluargaan, tata susila, dan kehormatan, film ini berpotensi menciptakan kegelisahan sosial, khususnya dari kalangan orang tua, tokoh adat, atau pemuka masyarakat.

Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom

Nah, bagaimana soal agama? Ini bagian paling sensitif. Hampir semua agama di Indonesia punya pandangan yang jelas soal seks dan hubungan antarmanusia. Biasanya ditempatkan dalam konteks suci, seperti pernikahan. Jadi wajar kalau film dengan tema terbuka begini langsung menuai kritik dari banyak kalangan rohaniwan. Pandangan agama-agama di Indonesia, baik Islam, Kristen, Hindu, maupun Budha, pada umumnya memposisikan seksualitas sebagai sesuatu yang sakral dan berada dalam bingkai pernikahan. Keterbukaan berlebihan terhadap eksplorasi seksual, seperti yang diangkat dalam film “Gowok Kamasutra Jawa” dapat dianggap melanggar prinsip-prinsip kesucian hubungan suami istri. Gowok sendiri adalah peran yang dilakoni seorang perempuan dewasa tapi cantik, yang punya kemampuan seperti dukun, dan ia bisa membimbing pria muda (Remaja) yang akan kawin guna belajar bersetubuh dan membimbing pria muda agar peka terhadap hati perempuan.

Nah, dari sisi agama, itu menekankan pentingnya menahan hawa nafsu, menjaga kesucian tubuh, dan memuliakan pasangan. Oleh karena itu, film ini secara teologis menimbulkan penolakan karena dianggap menormalisasi hasrat seksual di luar nilai-nilai religius. Tapi iya, di balik semua kontroversi itu, “Gowok Kamasutra Jawa” sebenarnya mengajak kita berpikir. Tentang budaya kita yang terus berubah. Tentang bagaimana kita memandang tubuh, cinta, dan norma sosial. Dan yang paling penting, bagaimana kita sebagai penonton juga harus bijak memilih dan memaknai tontonan. Karena, pada akhirnya, film bukan cuma soal hiburan. Tapi juga cermin dari masyarakat yang sedang berubah.

* Penulis adalah dosen ilmu komunikasi, praktisi pendidikan dan pemerhati sosial kemasyarakatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here