Refleksi Hari Pemuda: Sumpah Pemuda, Sampai Kapankah?

* Oleh: Drs. Alidin Sitanggang, M.M., M.Th.

17

Narwastu.id – Hingga menyelesaikan studi Sarjana Sosial Politik di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan,  penulis mempelajari empat angkatan dalam sejarah perjuangan nasional. Masing-masing angkatan berbeda dalam latar belakang, arah perjuangan, dan  momentum. Ada pejuang yang sama masih ikut dalam angkatan selanjutnya  atau pergantian secara alamiah. Pergantian bisa terjadi karena meninggal, perbedaan visi misi, atau regenerasi. Angkatan 1908 yakni momentum strategis ketika rakyat mulai menimbulkan rasa nasionalisme. Peristiwa yang tersohor berdirinya Boedi Utomo. Selanjutnya disebut Hari Kebangkitan Nasional dan diperingati setiap tanggal 20 Mei. Para pejuang berhasil meletakkan dasar-dasar bangkitnya suatu bangsa yang lama dicengkeram oleh kolonial. Para pejuang dengan gigih  berani muncul dalam tekanan berat penjajah untuk mengobarkan api semangat juang rakyat yang sudah bosan dalam penindasan.

Angkatan 1928, yang terkenal dengan Sumpah Pemuda, diperingati sebagai Hari Pemuda setiap tanggal 28 Oktober. Saat itu para  pahlawan pemuda menyadari bahwa perjuangan yang bergerak sendiri-sendiri dipastikan tidak akan memperoleh kemenangan. Organisasi-organisasi atau gerakan-gerakan pemuda harus sepakat untuk bersatu dan mempersatukan diri.

Angkatan 1945 yakni kesatuan para pahlawan yang berhasil mewujudkan cita-cita luhur kedua angkatan sebelumnya.  Kemerdekaan Republik Indonesia berhasil diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno dan Wakil Presiden, Drs. Moh. Hatta, atas nama bangsa Indonesia. Kedua angkatan ini hanya  berjarak sekitar 17 tahun sehingga ada kesinambungan khusus dan  keberadaan para  personilnya. Angkatan terakhir yakni angkatan 66, yang gerak geriknya beroperasi  21 tahun setelah hari kemerdekaan.  Berbeda dari sebelumnya, angkatan ini tidak memikul bambu runcing dan senjata. Tidak pula pergi ke medan perang meninggalkan keluarga atau mengorbankan jiwa dan raga.  Perjuangan orang-orang di sini  bisa dikatakan tidak jelas atau spesifik karakteristik  arahnya  dalam konteks heroisme dan tidak ada keistimewaan yang signifikan.  Sejarah mencatat bahwa pada ketiga angkatan sebelumnya telah menghasilkan buah dari peperangan sekian abad. Kepada banyak pejuangnya diberikan oleh Presiden   berbagai  tanda penghargaan sebagai pahlawan. Kepada Angkatan 66, gelar pahlawan apakah yang layak dan cocok?

Sumpah Pemuda dan Kekuatannya

Kita salut kepada para pemimpin pemuda dari berbagai macam gerakan yang mau bersatu dengan mengesampingkan kepentingan lokal masing-masing.  Beberapa di antaranya, Pemuda Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, Jawa, Sunda, dan lain-lain telah mematikan egonya demi sesuatu yang lebih penting dan luas. Keangkuhan, sektarianisme, kesukuan, perasaan mampu berjuang sendiri, dan nafsu memperoleh kemenangan individu semua luluh di bawah panji persatuan. Lalu, meskipun dalam teror dan ancaman penjajah, dengan keberanian super heroik, pada Kongres Pemuda Kedua, mereka menghasilkan Sumpah Pemuda yang rumusannya ditulis oleh Muhammad Yamin dan disodorkan kepada Soegondo serta peserta untuk disetujui  bersama.

Sekadar mengingatkan, berikut isi Sumpah Pemuda:

  1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Kandungan  Sumpah Pemuda  hanya  terdiri dari 3 kalimat, tetapi daya energinya menakutkan Belanda. Powernya mampu mewujudkan kesepahaman  tingkat tinggi secara nasional. Tekad bulat  itu mengantarkan kepada proklamasi kemerdekaan. Menjadi momentum yang sangat efektif  untuk bersatunya bangsa Indonesia, yang sebelumnya terpecah-pecah,   dalam satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa. Gebrakan dimaksud  berhasil  menunjukkan kekuatan persatuan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Semua elemen pemuda menerima naskah Sumpah Pemuda untuk   menyatukan bangsa Indonesia yang sangat heterogen. Poin Sumpah Pemuda jika digali dengan seksama  dan mengarahkan pandangan futuristik,  memiliki  makna filosofis: yang radikal mendalam tembus sampai ke akar samubari rakyat;  komprehensif, artinya perjuangan dilakukan secara lengkap oleh semua kekuatan rakyat yang dimotori oleh para pemuda;  universal, semua elemen tanpa kecuali telah bersatu  untuk kepentingan bersama bangsa pada saat itu dan sepanjang masa Indonesia;  dan terbuka maksudnya semua, tanpa dikotomi agama, suku, bahasa daerah, ras, golongan, paham/aliran,  mampu  mengambil bagian dalam mewujudkan. Terbuka juga mengandung makna eskatologis yaitu tuntuk diperbincangkan oleh generasi demi generasi.

Power (Kekuatan) lain dari Sumpah Pemuda yang sangat bombastis berupa  pernyataan sikap bulat putra putri terbaik bangsa Indonesia. Semua memiliki tumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, memiliki bangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Padahal, menyatukan mindset kawula muda bukanlah pekerjaan  yang ringan dan gampang, tetapi butuh best efforts  berat dan berkelanjutan. Fantastisnya lagi, Sumpah Pemuda dapat memadukan perspektif kenegaraan  yang beraneka ragam ke dalam zona satu perasaan, sependeritaan, dan sepenanggungan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kita rugi sementara penjajah bertepuk tangan.

Antisipasi Zaman Now

Kalau diceritakan sejarah perjuangan bangsa, khususnya latar belakang lahirnya Sumpah Pemuda sebagai bentuk persatuan dan kesatuan bangsa untuk mengusir Belanda,  kepada generasi muda gen X, Y, Z, milenial, atau generasi zaman now, maka respons yang diterima berwarna warni. Uraian dianggap dongeng, cerita horor, dibuat- buat, atau kenangan masa lampau.  Minat mendengar kisah pun minimalis  apalagi untuk mencari tahu lebih luas perjuangan dan pengorbanan para pemuda saat itu. Karena sejak lahir hingga  sekarang,  generasi ini telah merasakan bersatunya bangsa Indonesia.

Menjelaskan sejarah dianggap kemunduran zaman dan kisah melankolis. Itu masa dahulu dan sekarang sudah jauh berbeda serta tidak ada hubungan dengan masa yang akan datang. Seolah-olah Sumpah Pemuda terbatas hanya sebagai produk sejarah dan dibiarkan  tinggal sebagai catatan semata. Setiap tanggal 28 Oktober diperingati, selepas itu dimasukkan ke  dalam peti besi lalu digembok dan  dikeluarkan lagi tahun berikutnya. Penghargaan terhadap pertaruhan nyawa para pendahulu mengalami erosi dan hampir-hampir sirna. Ilustrasi seorang guru yang bertanya pada murid berapa jumlah ķaki 1 ekor ayam. Murid-murid menjawab 3, 4, 1 karena melihat kaki ayam yang dihidangkan di meja makan. Mereka tidak mengenal apalagi ikut serta dalam proses hingga menjadi ayam goreng, gulai, dan lain-lain. Serba instant, tidak perlu capek-capek, dan tinggal menikmati saja.

Bagi generasi muda sekarang dan yang akan datang, bagaimana proses hingga keluar Sumpah Pemuda tidaklah terlalu penting. Minat mempelajari sejarah pun di kalangan mereka pada umumnya sangat kurang dan dicap buang waktu, lebih asyik mempelajari sosial media, youtube, facebook, instagram, WhatsApp dan lain-lain akses telekomunikasi terkini. Berbagai konten  dicari-cari semaunya, tetapi sangat langka yang mengunduh dan yang mengerti pengaruh  Sumpah Pemuda dalam  kehidupan sehari-hari.

Sumpah Pemuda dan Pandemi Covid-19

Saat Kongres Pemuda II tanggal 27-28 Oktober 1928 berlangsung, tidak tercatat dalam buku sejarah sedang  terjadi  pandemi penyakit yang  mematikan seperti Covid-19 saat ini. Raga para pemuda sehat walafiat sehingga mampu berkongres. Tetapi ada penyakit yang mewabah sebelumnya yakni virus perpecahan, kepentingan daerah/golongan masing-masing, menjilat dan gampang diadu domba oleh Belanda dengan politik devide et impera-nya, serta kesombongan lokal. Virus-virus itu telah menerpa dan melanda rakyat sekitar 3,5 abad. Banyak penduduk kerja rodi, terpapar mati dibunuh penjajah atau bangsa sendiri. Virus itu terbukti hilang dengan Sumpah Pemuda hingga puncaknya 17 Agustus 1945. Merdeka dari pandemi Covid 3,5 (Colonial Viruses Disease 3,5 abad).

Dalam masa pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020, Sumpah Pemuda  mampu menunjukkan taringnya. Bukti yang dapat dilihat adalah bahwa hampir-hampir tidak ada kelompok dan organisasi kaum tertentu yang  melanggar kalimat pertama Sumpah Pemuda. Sebelum Maret 2020, Pemerintah dan aparat keamanan direpotkan oleh kelakuan  kelompok-kelompok  yang ingin mengganti tanah air Indonesia dengan negara agama, hendak mendirikan negara sendiri, atau memisahkan diri dari NKRI.  Teror, serangan kepada kepolisian, tentara, tempat umum, dan gereja tercatat dalam sejarah pencobaan disintegrasi NKRI, gangguan keamanan ketertiban masyarakat, dan intoleransi.

Mereka menahan diri dulu, mungkin karena takut mati dihantam  Covid-19 dan variannya (bukan timah panas aparat), sumber dana  menipis,    funder/sponsor sudah bertobat,  atau sedang mempersiapkan diri untuk  operasi pasca pandemi. Yang terakhir ini harus menjadi kajian intelijen yang serius sekaligus kesiapan membatalkan atau mengantisipasi sejak awal sebelum kejadian.

Pemerintah dengan segenap kekuatannya  sedang fokus dan super serius menangani dampak pandemi covid 19. Segala daya, upaya, dan APBN dikerahkan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Beratus trilyun rupiah telah dihabiskan dan disediakan agar keduanya bisa berhasil.  Sisi lain, Pemerintah Pusat dan Daerah tidak boleh tergerus dengan hal di atas, tetapi secara paralel mengatasi mereka  yang akan menghianati Sumpah Pemuda  pasca  vaksinasi nasional.

Dampak buruk yang lebih  vital dan fatal  yang akan terjadi  adalah   penghinaan dan pengkhianatan  butir 1 dan 2. Penguatan dan pemantapan ideologi Pancasila, sosialisasi dan internalisasi  4 pilar kebangsaan, serta peran para tokoh menjadi penting dan strategis untuk dieksekusi. Saat  kesakitan dan dirawat oleh pawangnya, harimau  manut-manut, tetapi setelah sehat dan si pawang lengah sedikit, harimau akan mencabik- cabiknya. So, be watchful & beware!

Tanggung jawab siapa

Melihat fenomena sosial dan gelagat pemuda akhir-akhir ini ada kekhawatiran  terjadi erosi dan abrasi  persatuan dan kesatuan bangsa  pada masa mendatang. Maka pengertian  dan implementasi isi Sumpah Pemuda sudah saatnya dilakukan redefining yang mengakar, rutin,  dan masif.  Tindakan radikalisme dan teroris serta nafsu mendirikan negara atas dasar agama tertentu semuanya memanfaatkan para pemuda. Otak mereka dicuci, diperdaya dan  dirusak  tanpa disadari.

Paradigma dan perspektif setiap kelompok generasi pasti berbeda-beda dalam merespon kejadian masa lalu, khususnya sejarah perjuangan bangsanya. Reaksi yang paling buruk adalah   tidak mau menengok sejarah dan tidak memperdulikan. Gejala psikologis ini berpotensi muncul di sebagian besar orang Indonesia kelahiran di atas  tahun 1980. Perkembangan modernitas dan teknologi turut memberi pengaruh terhadap alur berpikirnya.

Jika sindrom  dan kecenderungan di atas terjadi, bagaimana nantinya  nasib Sumpah Pemuda, patutlah menjadi suatu kekhawatiran yang tidak boleh disepelekan. Ketika terjadi perpecahan  bangsa  seperti  sebelum Sumpah Pemuda, rakyat terkena ‘new covid  3,5, maka   akan saling menyalahkan.

Untuk Itu,  semua orang Indonesia, yang pernah muda, sewajarnyalah memiliki tanggung jawab bersama untuk mewariskan sejarah yang baik kepada generasi sesudahnya. Bisa saja terjadi suatu saat nanti   bahwa peristiwa lama yang pernah tercatat dalam sejarah, akan terjadi lagi. Bentuk dan karakteristiknya  berbeda, tapi esensinya sama. Misal, sekian tahun kemudian negara kita  dijajah oleh negara maju dan besar.

Orang tua sebagai garda terdepan untuk mendidik dan mengajari anak-anaknya tentang sejarah kemerdekaan dan peranan para pendahulu dalam medan perang.  Tetapi sangat disayangkan jika orang tua  tidak mengetahui sejarah,  isi dan roh Sumpah Pemuda.

Guru dan para pendidik, yang setiap hari berjumpa dengan murid, menanamkan rasa persatuan dan kesatuan bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu yakni Indonesia. Meski tidak dalam studi sejarah, namun tidak salah diselipkan  issu ini untuk mengingatkan anak didik.

Peranan para tokoh politik.  negara, masyarakat, adat, bisnis, organisasi (formal, informal, dan nonformal), serta public figures  untuk menularkan virus persatuan dan kesatuan bangsa kepada simpatisan, fans, anak buah, dan masyarakat lainnya. Orang-orang terpandang lebih efektif dan didengar oleh anak-anak muda. Yang tidak kalah pengaruhnya adalah  Keteladanan dari yang  lebih tua untuk memberikan dan mewariskan contoh panutan. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.

Saran Aplikatif

Bangsa yang beradab adalah bangsa yang tidak pernah meninggalkan sejarahnya. Mengapa?  Peristiwa masa lalu menjadi sejarah dan politik  masa kini. Politik saat ini  menjadi sejarah pada  masa yang akan datang. Artinya terjadi keterkaitan antara 3 masa yang berbeda. Melupakan sejarah bisa  disamakan dengan penghianatan dan tidak menghargai perjuangan para pendahulu.  Sumpah Pemuda sebagai bagian sejarah kemerdekaan yang tidak boleh dipetimatikan.  Bila pemahaman ketiga butirnya dangkal dan putus, ancaman bagi kecintaan nasionalisme  dan keutuhan bangsa. Berbicara khusus tentang  tanah air dan bangsa, dalam perspektif iman kekristenan, Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa orang percaya memiliki dwikewarganegaraan.

“Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” (Filipi 3:20).

Kebangsaannya juga dua. “Tetapi  kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib” (1 Petrus  2:9). Dari dimensi kemanusiaan, dalam diri seseorang terdapat  status sebagai warga negara di Republik Indonesia dan sebagai bangsa Indonesia. Dari dimensi spiritual kerohanian, setiap orang memiliki ‘kuasa’ untuk memperoleh  status kewarganegaraan surgawi  dan menjadi  bangsa yang terpilih,  kaum yang memiliki kerajaan, dan bangsa yang kudus.

Dwi Citizenship dan dwi Nationality disandang pada saat yang sama. Umat beragama lain kemungkinan juga  mèngajarkan hal yang serupa meski tidak sama tetapi tujuannya sama dalam kalimat yang berbeda.  Oleh sebab itu, semasa hidup dalam tubuh manusia di tanah air dan bangsa Indonesia,  adalah wajar dan benar untuk mengimplementasikan ketiga butir Sumpah Pemuda dimaksud. Tiada agama  atau kepercayaan apapun yang ditentang dan dilanggar oleh naskah Sumpah Pemuda.

Pemahaman dan aplikasi  panggilan dari   Sumpah Pemuda harus disosialisasikan dan diinternalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, bertanah air, berbangsa, dan bernegara Indonesia  yang terdiri dari berbagai ragam latar belakang dan asal usul. Sampai kapan? Sejak tinggal di tanah air Indonesia dan menjadi bangsa Indonesia, turun temurun  dari generasi ke generasi selanjutnya  sampai Maranatha, Tuhan Yesus datang kembali. Imanuel. Amin. Salam persatuan dan kesatuan.

 

* Penulis adalah mahasiswa program Doktoral STT IKAT, Jakarta, Wakil Ketua Umum Partai Indonesia Damai (PID), Founder Yayasan Ayo Bangkit Generasi Muda, partnership Relations Director KAP Griselda, W & A Jakarta, mantan bankir BUMN dan mantan Guru PMP di SLTA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here