Merdeka dan Tanggung Jawab Sejarah

* Oleh: Jefri Gultom

13

Narwastu.id – Merdeka itu ibarat buah simalakama. Kalau merdeka dipahami hanya sebagai bebas dari kolonialisme, kita sudah peroleh. Kita juga tak perlu berjuang untuk keberlangsungan peradaban bangsa. Tetapi kalau merdeka dipahami sebagai proses untuk terus bertumbuh, maka sejarah merdeka adalah kisah hidup sehari-hari. Konteks yang kedua inilah, tugas menunaikan tanggung jawab sejarah sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa ini patut direfleksikan.

Memahami sejarah, apalagi sejarah bangsa sendiri adalah kesanggupan moral untuk melihat kehidupan masa kini dengan perspektif waktu, lalu menilainya agar ada kepastian dalam melangkah dan berjuang. Bahwa setiap waktu punya kisah yang unik, tapi ia tidak berdiri sendiri. Setiap masa bergerak maju dengan ingatan masa lalu sekaligus tersimpul harapan untuk masa depan.

Merdeka itu sebuah proses  mengafirmasi kehendak bebas yang berhadapan dengan rumitnya berbagai tantangan zaman. Oleh karena itu, jauh sebelum cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia diraih, berbagai daerah yang dengan kekhasannya masing-masing, yang masih bernama Nusantara, penduduk setempat sudah bergeliat untuk membebaskan daerahnya dari kungkungan kolonialisme.

 

Merdeka di kemudian hari menjadi sebuah inisiasi gerakan politik kebangsaan dalam arti sebenarnya baru dimulai pada awal abad ke-20 setelah paham nasionalisme mulai menjalar dan berkembang di Eropa diserap oleh kesadaran dan pemikiran kaum terpelajar yang memperoleh pendidikan Barat zaman itu. Menurut Ignas Kleden, ada dua sifat yang membedakan gerakan kebangsaan dengan gerakan-gerakan sebelumnya. Pertama, gerakan kebangsaan tak lahir dari sekadar rasa tidak puas terhadap kebijakan kolonial atas nasib daerah tertentu, tetapi dari keyakinan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa sehingga kolonialisme merupakan pelanggaran suatu hak yang bersifat universal dan harus ditolak. Kedua, gerakan kebangsaan tidak lagi memakai perlawanan bersenjata sebagai jalan utama menghadapi pihak penjajah, tetapi mengubah perlawanannya menjadi suatu perjuangan politik.  Dalam sistem hukum kolonial perjuangan bersenjata dengan mudah dianggap pemberontakan yang ilegal secara hukum, sedangkan perjuangan politik adalah aksi yang legal secara hukum meskipun selalu dapat dicari dalih untuk menjadikannya ilegal. Lantas, bagaimana kita menegaskan komitmen nasional untuk menunaikan tanggung jawab sejarah tersebut?

 

Merawat Solidaritas Sosial

Kita merayakan kemerdekaan di tengah situasi global sedang melawan pandemi Covid-19. Tahun ini adalah yang kedua kalinya kita merayakan kemerdekaan dengan sederhana dan bersifat terbatas dengan aturan dan protokol kesehatan karena Covid-19.

Meski tak seperti biasanya yang dikemas dengan beragam kegiatan, berbagai ekspresi untuk merayakan kemerdekaan ini sudah tampak sejak awal bulan Agustus. Antusias ini kian terasa dengan kado medali emas di ajang Olimpiade Tokyo 2020. Di tengah pemerintah sedang bekerja keras dengan menerapkan PPKM, berbagai gerakan sosial tumbuh dengan sangat antusias dan mengesankan. Kolaborasi dari berbagai pihak, lembaga, komunitas, juga institusi menuai harapan yang besar akan cita-cita kemerdekaan itu. Gerakan-gerakan tersebut, bahkan diinisiasi oleh beragam latar belakang. Semua demi menunaikan tanggung jawab sejarah yang terus bergerak maju untuk diperjuangkan.

Merawat gerakan sosial, menyelamatkan Indonesia dari pandemi. Itulah akar kemerdekaan yang sesungguhnya di masa pandemi ini.

Bahwa, tak ada bangsa yang akan bisa bertahan kalau akar sosio-kulturalnya keropos dari dalam, kalau masyarakat tidak solider dan patuh pada simpul budayanya. Sebab, hidup berbangsa bukan hanya urusan semua orang berimajinasi sebagai satu entitas sebagaimana yang dikemukan oleh Anderson, tapi soal bagaimana rekayasa sosial dan politik dalam menciptakan ekosistem pembangunan berkelanjutan dalam masyarakat. Hari-hari ini, kita terus diterpa berbagai isu yang berpotensi memecah belah. Isu ini dimanipulasi atas nama kemerdekaan atau pemisahan diri oleh sebagian kelompok masyarakat. Beredar secara massif ideologi serta maraknya ujaran kebencian di media sosial dan hoaks membenarkan rumitnya tantangan kemerdekaan saat ini.

Bahwa dalam kisah kemerdekaan, kehidupan itu sendiri adalah universalitas nilai. Simpul solidaritas sosial. Manusia itu homo socius. Maka ia tidak bisa mengikatkan diri pada satu aspek atau dimensi saja dalam hidupnya. Karena prinsip dasarnya satu dan sama. Semua aktivitas manusia adalah keterkaitan antara hubungan-hubungan dalam satu kesatuan.

Hal ini yang selalu mengingatkan kita pada nilai dan norma yang dibangun sejak kita belum bersatu sebagai Indonesia hingga hari ini. Fundamen ini juga yang mengikat kita untuk terus menunaikan tanggung jawab sejarah.

Mungkin! Kalau kemerdekaan dianggap sebagai simpul perjalanan bersama untuk saling mengikat maka perlu adanya keragaman, keterbukaan, kebersamaan, religiusitas dan solidaritas sosial. Konsep ini sebagai wahana spirit totalitas untuk saling memerdekakan.

Merdeka adalah proses yang tidak sekali jadi tapi akan terus bertumbuh. Setiap momentum kemerdekaan selalu mengabadikan masa lalu, masa kini, dan yang akan datang. Merdeka itu momentum mempersatukan. Bukan hanya milik warna kulit tertentu, suku ataupun komunitas tertentu saja, melainkan milik semua warna yang sudah bersepakat menjadi satu.

Melalui kemerdekaan, sejarah peradaban bangsa mengafirmasi eksistensi manusia secara universal. Itulah tanggung jawab sejarah untuk menjawab cita-cita kemerdekaan.

 

* Penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here