Belajar Peduli untuk Berdoa Bagi Orang lain

* Oleh: Betty Bahagianty, S.Sos

69

Narwastu.id – Dalam waktu kurang sebulan saya punya misi pribadi, yakni mendoakan orang lain. Tiap malam saya membuat daftar 3 sampai 5 orang untuk didoakan. Orang-orang yang saya doakan dimulai dari yang paling dekat, seperti keluarga, komunitas, sahabat, sampai teman bergaul. Pada mulanya agak aneh dan cenderung canggung untuk terbeban mendoakan mereka. Jujur, saya merasa tertantang karena ini adalah pelayanan pribadi pertama kalinya. Apalagi jika dilihat tipe saya yang cenderung cuek, dan bukan model orang yang gemar untuk bertanya-tanya kepada orang lain soal beban atau masalah yang mereka hadapi. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk memulainya. Satu persatu saya WhatsApp (WA) dan tanyakan adakah hal yang ingin dibantu untuk didoakan?

Melihat respons mereka pun sangat beragam. Ada yang suprise dan senang karena merasa dipedulikan walau hanya sebatas doa. Ada yang biasa saja menanggapinya dan meminta dukungan untuk hal kesehatan, keberhasilan studi, naik pangkat, dapat jodoh, kepentingan untuk bangsa dan negara, gereja, pelayanan, pekerjaan, bahkan ada yang ingin cepat menjadi seorang yang kaya raya. Namun di sisi lain ada pula yang menolak mentah-mentah dan merasa bahwa pergumulan merupakan area privacy yang tidak melulu harus dibagikan bebannya kepada orang lain.

Melihat respons tersebut tentu saja hati saya berwarna warni. Antara heran, bingung, aneh bahkan sama sekali di luar dugaan. Terlepas dari apapun itu yang jelas bahwa setiap manusia memang tidak luput dari persoalan dan ingin dapat menikmati hidup sesuai dengan harapannya.

Betty Bahagianty, S.Sos

Jika boleh memilih barangkali setiap kita ingin terbebas dari masalah. Padahal, di balik persoalan atau pergumulan yang ada justru membuat kita mengalami pengalaman pribadi akan kuasaNya.

Sejatinya, doa adalah percakapan dari hati ke hati antara kita dengan Bapa di Surga untuk mengemukakan rasa syukur, uneg-uneg yang tengah kita rasakan, argumen dari buah pikiran dan logika, bahkan keluh kesah dari setiap hal yang kita rasakan di hadapan-Nya. Untuk kebiasaan berdoa barangkali saya belajar dari kebiasaan di kantor kami, Majalah NARWASTU. Setiap harinya sebelum mengawali dan menutup hari kami berdoa untuk bangsa dan negara, presiden sampai lini pemerintahan terkecil, gereja dan hamba Tuhan, orang yang sedang sakit, pergumulan pribadi maupun untuk kebutuhan kantor dan lain sebagainya.

Dalam pelayanan ini kita tidak hanya sekadar berlatih untuk peka akan pergumulan dari orang-orang yang akan kita doakan. Tetapi, di balik itu semua sebetulnya kita sedang diajarkan untuk peduli kepada sesama, dan meneladani apa yang pernah dilakukan Tuhan Yesus, yang mengajarkan kepada kita untuk berdoa dan berjaga-jaga (Kolose 4:2). Pelayanan ini sangatlah sederhana, bisa dilakukan oleh siapa saja dari segala usia namun memberikan dampak yang luar biasa. Tidak hanya bagi orang lain yang didoakan, melainkan juga bagi setiap kita yang mendoakan. “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji baik untuk hidup ini, maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4).

 

* Penulis adalah jurnalis Majalah NARWASTU, alumni Fakultas Komunikasi IISIP Jakarta dan anggota PERWAMKI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here