Saor Siagian, S.H., M.Hum Termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2012 Pilihan NARWASTU”

52
Saor Siagian, S.H., M.Hum. Pejuang HAM.

Narwastu.id – Kalau kita cermati perjalanan hidup bangsa ini sepanjang tahun 2012, cukup banyak peristiwa menarik, baik di bidang sosial, politik, hukum, HAM, kemasyarakatan, ekonomi, budaya dan pendidikan yang patut direkam. Berbarengan dengan itulah muncul sejumlah figur pejuang (Baca: tokoh) yang terlibat atau bersentuhan dengan peristiwa itu, termasuk figur-figur dari kalangan Kristiani. Sekaitan dengan itulah, seperti tahun-tahun yang lalu, pada akhir 2012 ini, Majalah NARWASTU yang kita cintai ini kembali menampilkan tokoh-tokoh Kristiani “pembuat berita” (news maker).

Masih seperti yang dulu, ada tiga kriteria yang dipatok untuk menempatkan seseorang itu agar jadi “tokoh pembuat berita” pilihan NARWASTU. Pertama, si tokoh mesti populer dalam arti yang positif di bidangnya. Kedua, si tokoh mesti peduli pada persoalan warga gereja, masyarakat dan nasionalis (Pancasilais). Ketiga, si tokoh kerap jadi perbincangan dan muncul di media massa, baik karena pemikiran-pemikirannya yang inovatif atau ide-idenya kontroversial. Alhasil, si tokoh kerap menjadi sumber inspirasi dan motivasi di tengah jemaat atau masyarakat.

Bagi tim redaksi NARWASTU, tak mudah untuk menempatkan seseorang menjadi “tokoh Kristiani”. Pasalnya, kiprah mereka harus kami ikuti pula lewat media massa, khususnya media Kristen, termasuk mencermati aktivitasnya dan menelisik track record-nya. Pada akhir 2012 ini, kami kembali pilih “21 Tokoh Kristiani Pembuat Berita Sepanjang 2012.” Seperti tahun lalu, sosok yang diangkat ini, ada berlatarbelakang advokat, politisi, tokoh lintas agama, pengusaha, aktivis HAM, pemimpin gereja, aktivis gereja, pimpinan ormas, dan aktivis LSM.

Dari deretan 21 tokoh yang sudah diseleksi redaksi NARWASTU secara ketat dari 120 nama yang terkumpul ada beberapa tokoh yang tahun lalu juga terpilih, seperti Pdt. DR. WTP Simarmata, M.A. (Ephorus HKBP), Dr. Anti Solaiman (Dosen UKI Jakarta), Pdt. Brigjen TNI Harsanto Adi S., M.M. (Asisten VII Deputi Menkopolhukam), U.T. Murphy Hutagalung, MBA (Pengusaha dan politisi), Edwin P. Situmorang, S.H., M.H. (Mantan Jaksa Agung Muda Intelijen di Kejaksaan Agung RI), Drs. Sahrianta Tarigan, M.A. (Politisi) dan Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, M.Th (Ketua DPP PIKI).

Juga Aldentua Siringoringo, S.H. (Advokat), Pdt. Dr. Matheus Mangentang (Rektor STT SETIA), Saor Siagian, S.H., M.Hum (Aktivis HAM), Johanes Mardjuki (Profesional), Drs. Hardy M.L. Tobing (Auditor dan aktivis gereja), Drs. Ronny Wongkar, M.A. (Politisi), Ir. David Johanes Tjandra, M.A. (Ketua Umum MPK), Pdt. Dr. Jaharianson Saragih (Ephorus GKPS), DR. Erwin A. Pohe (Pengusaha dan pengamat politik), Y. Deddy Madong, S.H. (Advokat), Pdt. Elia Rantenusa Nenoharan, S.E., M.Th (GEKINDO), Ronny B. Tambayong, S.E., MACM (Pengusaha dan aktivis gereja), Anthony Putihrai, B.Sc (Pengusaha), dan DR. Maria A. Sondakh (Aktivis organisasi).

Sejatinya masih ada sejumlah nama yang layak diposisikan sebagai “Tokoh Kristiani 2012”, namun karena keterbatasan halaman dan kesepakatan tim, maka kami batasi hanya memuat 21 tokoh. Kami menampilkan profil singkat ke-21 tokoh di NARWASTU Edisi Khusus Desember 2012-Januari 2013 ini sebagai wujud apresiasi (penghargaan) kami atas perjuangan mereka selama ini di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Harapan dan doa kami, kiranya kiprah mereka selama ini bisa memberikan inspirasi, motivasi, pencerahan dan pencerdasan untuk kebaikan gereja, masyarakat dan bangsa ini.

Pembaca yang budiman, boleh-boleh saja Bapak/Ibu/Saudara menganggap pemilihan para tokoh ini subjektif, tapi percayalah, kami sudah berupaya objektif untuk memilihnya. Memang kami tak bisa memuaskan harapan semua pihak, dan amat manusiawi kalau tokoh-tokoh yang tampil ini punya kekurangan, karena mereka bukan orang suci atau malaikat. Sekadar tahu, di tengah tim majalah ini tak jarang muncul perdebatan mengenai figur seseorang ketika namanya dimunculkan. Dalam pemilihan ini, perlu dicatat kami menghindari agar dalam 21 tokoh ini tak ada “orang dalam” dari NARWASTU, seperti Pembina/Penasihat, meskipun kami akui ada di antaranya yang layak masuk.

Melalui tulisan ini, kiranya kita bisa melihat sisi positif atau nilai-nilai juang dari ke-21 tokoh ini. Kepada mereka yang termasuk dalam 21 tokoh ini, kami sampaikan pula bahwa inilah hadiah Natal terindah dari NARWASTU sebagai insan media Kristiani kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang telah berupaya ikut membentuk karakter bangsa ini. Akhirnya, kami sampaikan, selamat Hari Natal 2012 dan Tahun Baru 2013. Kiranya, Tuhan selalu memberkati kita semua, syalom.

Para tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU yang religius, inspiratif dan Pancasilais.

Advokat Pejuang Kebebasan Beribadah

Sejak tahun 2005 lalu, nama Saor Siagian, S.H., M.Hum cukup sering muncul di berbagai pemberitaan media massa, baik media nasional maupun media Kristiani. Pasalnya, ia kerap berjuang untuk membela atau mengadvokasi warga gereja yang mendapat hambatan beribadah. Pengalamannya yang kerap menangani kasus-kasus gangguan beribadah, kemudian membuatnya menjadi advokat yang sering berhadapan dengan massa radikal. Ia tidak takut pasang badan, dan ia pun sering tidak mendapat uang lelah atas jasanya sebagai pengacara.

Selama ini, Saor yang merupakan lulusan S2 dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, cukup gigih membela kaum lemah. Dan suami dari Mery Rohana Sibarani, yang punya tiga anak ini berani berhadapan dengan penguasa maupun kelompok-kelompok radikal saat menjalankan tugasnya yang cukup mulia itu. Menurut anggota jemaat Gereja POUK Kemang Pratama, Kota Bekasi, Jawa Barat, ini menjaga dan membela konstitusi adalah misi dari profesi advokat. Alhasil, ia dijuluki “Advokat Penjaga Konstitusi.”

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos saat diwawancarai wartawan seusai memberi penghargaan kepada para tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU.

Koordinator Komisi Hukum dan Property di POUK (Persekutuan Oikoumene Umat Kristen) Kemang Pratama ini, adalah satu dari sedikit advokat yang mampu menepis pandangan negatif terhadap profesi advokat. Bahkan, ia selalu bersikap maju tak gentar membela yang benar di dalam tugasnya. Hanya saja, bagi Saor yang juga Koordinator Tim Pembela Kebebasan Beragama, tentang rezeki atau berkat itu, Tuhan yang mengatur. “Yang terpenting adalah bagaimana kita merasakan damai sejahtera melalui apa yang kita kerjakan, dan itu tidak dapat dibeli berapapun harganya,” pungkas anggota DPC PERADI Jakarta Utara ini.

Bagi Ketua Dewan Etik Asosiasi Penasihat Hukum dan HAM (APHI) ini, pengalaman berhadapan dengan massa radikal saat menjalankan tugasnya adalah hal biasa. Baginya, hidup adalah Kristus, kematian adalah keberuntungan. Dan itu pula yang menjadi motto hidupnya sebagai advokat. Apapun profesi kita, kata Saor, pasti dapat berguna untuk memberkati orang lain. “Dan sebenarnya Tuhan memanggil setiap orang untuk menjadi berkat bagi orang lain melalui talenta atau profesinya,” cetusnya.

Sekadar tahu, dalam kiprahnya sebagai pengacara, Saor pernah membela jemaat GEKINDO dan sejumlah jemaat di Kota Bekasi, jemaat HKBP Ciketing, serta ia pernah menjadi pengacara Lia Eden. Dan banyak lagi kasus diskriminasi yang ditanganinya. Ia pun tak jarang turun berdemo untuk membela kaum tertindas, termasuk menyuarakan aspirasi jemaat GKI Yasmin, Bogor, yang selalu dihalangi Wali Kota Bogor untuk beribadah di gedung ibadahnya. Dan Saor selalu terlihat bersemangat menjalankan tugas mulia itu.

Saor berpendapat, hampir bisa dipastikan bahwa tindakan kekerasan bernuansa agama yang terjadi di negeri ini, itu tidak lepas dari pemahaman yang keliru tentang substansi ajaran agama. “Padahal, kita sering menggelar konferensi dunia mengenai agama dan perdamaian (World Conference on Religion and Peace). Namun, ternyata itu belum mampu membangun iman yang dapat menyejukkan dan mengurangi aksi teror di negeri tercinta ini. Bahkan, isu-isu kekerasan berbau SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) di masyarakat kerap memicu terjadinya konflik,” terangnya.

Munculnya konflik bernuansa SARA, dan berbagai aksi teror belakangan ini, menurut Saor Siagian, itu tidak terlepas dari ketidaktegasan pemerintah. “Pemimpin kita, dalam hal ini kepala negara, tidak tegas, sehingga masyarakat leluasa melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum,” ucapnya. Negara ini, imbuhnya, seharusnya berdaulat bahwa kita sepakat bahwa Indonesia adalah negara hukum, bukan negara agama tertentu. “Bukan pula Indonesia ini negaranya presiden. Tapi di depan mata kita, ada kasus, presiden sendiri tidak berkomentar apapun,” pungkas kuasa hukum dari Gereja HKBP Ciketing ini.

Seharusnya Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ujar Saor, mengembalikan mandat yang telah diberikan kepadanya. “Ketika dilantik, presiden berjanji akan taat kepada konstitusi. Nah, ketika sekarang konstitusi banyak dilanggar, sementara presiden tak berbuat apa-apa, ketika kewajiban konstitusinya sebagai kepala negara tidak dilakukan, seharusnya dia mengembalikan mandat itu,” tukas anggota Forum Advokat Peduli Konstitusi (FAKSI) ini. Ia menambahkan, jika pelanggaran konstitusi terus dibiarkan, maka potensi konflik horizontal bakal terus mengancam negara ini.

Dengan tak adanya ketegasan dari pemerintah, itu pun menambah subur agenda-agenda tertentu yang digunakan sebagai alat politik oleh kelompok-kelompok tertentu. Padahal, katanya, sejak negara ini dibentuk bertujuan demi kesejahteraan bersama, bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.  “Sejahtera maksud saya, dalam arti luas, di mana kebutuhan setiap orang, misalnya, sandang, pangan, dan kebutuhan rohaninya atau hak beribadah dapat terpenuhi. Nah, ketika hak beribadah, hak yang paling esensial, sudah tak dapat lagi kita rasakan, ketika orang beribadah di atas got dan trotoar, terancam, bahkan berdarah-darah, lalu apa hakekat kita mengatakan, negara ini merdeka,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here