Pdt. Dr. Ruyandi Hutasoit Termasuk dalam “20 Tokoh Kristiani 2007 Pilihan NARWASTU”

33
Pdt. Dr. Ruyandi Hutasoit. Politisi religius.

Narwastu.id – Pada akhir 2006 lalu, majalah ini sudah menampilkan “20 Tokoh Kristiani Terkemuka 2006”. Tentu saja versi NARWASTU. Figur yang kami tampilkan saat itu, ada yang berlatar belakang gembala sidang, tokoh lintas agama, pengacara, pejuang HAM, pemimpin sinode, aktivis ormas, aktivis LSM dan politisi. Ada pun 20 tokoh yang sudah diseleksi redaksi NARWASTU Pembaruan secara ketat dari 112 nama yang terjaring pada akhir 2006 lalu, yaitu Pdt. Dr. A.A. Yewangoe (Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia/PGI) dan Prof. Dr. Ing. K. Tunggul Sirait (Ketua Badan Penasihat Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia/MPK).

Lalu Gregorius Seto Harianto (Ketua Umum DPP Partai PDKB), Pdt. Dr. Andar Ismail (Penulis Buku Seri Selamat), Laksma TNI (Purn.) Drs. Ir. Bonar Simangunsong, M.Sc (Pendiri Forum Komunikasi Kristiani Jakarta/FKKJ), Dr. John N. Palinggi (Sekjen DPP Badan Interaksi Sosial Masyarakat/BISMA), Cornelius D. Ronowidjojo (Ketua Umum DPP Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia/PIKI), Constant M. Ponggawa, SH, L.LM (Mantan Ketua Fraksi Partai Damai Sejahtera/PDS), Pdt. DR. Nus Reimas (Ketua Umum Pengurus Pusat Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia/PGLII), Pdt. Dr. Jacob Nahuway (Ketua Umum MPS Gereja Bethel Indonesia/GBI) dan Pdt. A.H. Mandey (Ketua Umum Majelis Pusat Gereja Pantekosta di Indonesia/GPdI).

Selain itu, Pdt. DR. Freddy Pattiradjawane, M.Min (Sekretaris Umum Pengurus Pusat Persekutuan Gereja Pantekosta Indonesia/PGPI), Romo Benny Susetio (Sekretaris Eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia KWI), Eric S. Paat, SH (Pejuang HAM), Pdt. Herman Saud, M.Th, (Tokoh Papua), Drs. Sahrianta Tarigan (Anggota DPRD DKI Jakarta), Pdt. Rinaldy Damanik, M.Si (Ketua Umum Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah/GKST), Stien Djalil (Aktivis gereja), Ir. Edward Tanari, M.Si (Mantan Ketua Umum PP Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia/GMKI) dan Aris Merdeka Sirait (Aktivis LSM).

Saat itu, kriteria yang kami gunakan untuk memilih mereka, pertama, ia mesti populer dalam arti yang positif. Kedua, ia mesti peduli pada kebersamaan di tengah gereja, peduli pada penegakan keadilan, kebenaran dan HAM di tengah masyarakat, serta aktif dalam menjalin kerukunan umat beragama. Pada akhir 2007 ini, kembali kami tampilkan “20 Tokoh Pejuang Kristiani 2007”. Sekali lagi, ini versi NARWASTU Pembaruan. Sama seperti tahun lalu, kriteria yang kami patokkan untuk memilih para tokoh ini, ia mesti kerap menjadi perbincangan dan membuat berita (news maker). Apakah itu dengan gagasannya yang orisinil, inovatif, kreatif  atau kontroversial.

Dan, yang tak kalah pentingnya, kami pun meminta pendapat sejumlah rekan-rekan jurnalis Kristiani, pemimpin gereja, tokoh Kristen dan politisi tentang jejak para pejuang yang ditampilkan ini. Sekadar tahu, untuk memposisikan mereka sebagai “Tokoh Pejuang Kristiani 2007” tidaklah mudah. Soalnya, kiprah mereka mesti kami ikuti lewat media massa, baik media Kristiani maupun media nasional. Di samping itu, yang tak kalah pentingnya track record-nya kami cermati.

Bisa saja Anda menilai bahwa pemilihan para tokoh ini amat subjektif, tapi percayalah, kami sudah berupaya objektif. Dan amat manusiawi kalau tokoh-tokoh yang tampil pada nomor ini tidak sempurna alias bukan manusia suci. Nah, para tokoh yang kami pilih itu adalah, Prof. Frans Magnis Suseno (Rohaniwan), Asmara Nababan, S.H. (Pejuang HAM), Gregorius Seto Harianto (Politisi), Pdt. Saut H. Sirait, M.Th (Ketua Umum DPP Partisipasi Kristen Indonesia/Parkindo).

Para tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU yang religius, inspiratif dan Pancasilais.

Kardinal Julius Darmaatmadja (Tokoh KWI), Dr. George J. Aditjondro (Akademisi), Prof. J.E. Sahetapy, S.H., M.A. (Ketua Komisi Hukum Nasional), Constant M. Ponggawa, S.H., L.LM (Politisi), Dr. John N. Palinggi (Tokoh Lintas Agama), Ester Jusuf Indahyani, S.H. (Aktivis LSM), Hermawi F. Taslim, S.H. (Ketua Umum Forkoma Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia/PMKRI), Nikson Gans Lalu, S.H. (Tokoh Pemuda), Pdt. Dr. Ruyandi Hutasoit (Politisi), M.L. Denny Tewu, S.E., M.M. (Politisi), Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S. (Tokoh Masyarakat), T.P. Jose Silitonga, S.H., M.A. (Pengacara), Pdt. Silvana Ranti, S.Th (Rohaniwan), Prof. Yohanes Surya (Akademisi), Drs. Sahrianta Tarigan (Politisi) dan Ir. Robert Robianto (Ketua BPK Penabur Jakarta).

Sebenarnya masih ada sejumlah tokoh yang pantas diposisikan sebagai “Tokoh Pejuang Kristiani 2007”. Sayangnya halaman majalah kesayangan kita ini amat terbatas. Perlu dicatat, dari nama-nama tersebut di atas ada beberapa tokoh yang sudah terpilih sebagai “tokoh terkemuka pada 2006” lalu, masih terpilih juga sebagai “tokoh pejuang 2007”. Karena kami menilai perjuangan mereka masih layak diapresiasi.  NARWASTU Edisi Khusus Desember 2007-Januari 2008 ini menampilkan profil singkat para tokoh pejuang ini sebagai bentuk apresiasi kami atas perjuangan mereka selama ini di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Tentu kita semua berharap, melalui sajian ini akan muncul lagi tokoh-tokoh pejuang Kristiani di Indonesia setelah melihat sisi positif atau nilai-nilai juang dari para figur yang tampil di nomor kali ini. Selamat menyimak.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos saat diwawancarai wartawan seusai memberi penghargaan kepada para tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU.

Dari Yayasan Doulos Tampil Memimpin PDS

Pdt. Dr. Ruyandi Hutasoit, Sp.U, M.A. sepanjang tahun 2000 sampai 2007, boleh dibilang politisi Kristen  yang cukup sering membuat berita di berbagai media massa nasional. Mulai dari Suara Pembaruan sampai majalah bergengsi, Matra (majalah trend pria), pernah menampilkan figurnya. Dia tadinya hanya dokter, dosen dan pendeta biasa. Namun, ia bisa melejit bak meteor di panggung politik nasional. Partai Damai Sejahtera (PDS) yang dipimpinnya menjadi satu-satunya partai bernafas Kristiani yang ikut di Pemilu 2004. Kini Ruyandi dipercaya sebagai  Ketua Umum DPP PDS.

Lewat Pemilu 2004, PDS berhasil meraih 13 kursi untuk DPR-RI. Tokoh yang pernah menyatakan diri siap menjadi calon presiden (capres) RI ini, sebelumnya pernah menjabat sebagai Ketua II Pengurus Pusat Persekutuan Injili Indonesia (PII/Kini: Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili di Indonesia). Lantaran berani dicapreskan, ia pernah disebut-sebut tokoh kontroversial. Ruyandi tercatat sebagai sosok yang berani menjadi bakal calon presiden RI. Sebelumnya, Dr. Muchtar Pakpahan (Saat itu: Ketua Umum DPP Serikat Buruh Sejahtera Indonesia/SBSI, dan kini Ketua Umum DPP Partai Buruh) mencalonkan diri pada 1994. Lalu, Drs. Wimanjaya K. Liotohe (Penulis buku Primadosa) mencalonkan diri sebagai wapres pada 1997.

Ruyandi yang pernah jadi Ketua Yayasan Doulos dan Yayasan Bersinar Bagi Bangsa, mendeklarasikan PDS pada 28 Oktober 2001 di Jakarta bersama M.L. Denny Tewu, S.E., M.M. Kehadiran PDS, katanya, tak hanya menyalurkan aspirasi umat Kristen. Namun, juga bertekat membangun Indonesia tanpa membedakan agama, suku dan golongan. PDS punya syarat unik bagi para kadernya, yaitu tak boleh merokok, tak boleh KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme) dan mesti mapan secara finansial. Danm syarat-syarat ini sering menuai kritik, bahkan kecaman dari berbagai pihak yang anti pada PDS.

Pada akhir 1999 lalu, gedung Doulos di Cipayung yang dipimpin Ruyandi pernah dihancurkan sekelompok massa. Ini pun termasuk keprihatinan Ruyandi, sehingga ia tampil di PDS. Ruyandi yang lahir di Bandung, 28 Januari 1950 ini punya ayah Manixius Hutasoit (alm.). Manixius adalah mantan Sekjen Pendidikan dan Kebudayaan, dan Bappenas, serta salah satu tokoh Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Ibunya Raden Mantria (alm) yang berasal dari Bandung, Jawa Barat.

Ruyandi menyelesaikan studi kedokterannya dari Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta. Lalu ia mengikuti pascasarjana di bidang Urologi di Free University, Amsterdam, Belanda. Kemudian  pada 1996 memperoleh gelar Spesialis Urologi (Sp.U) dari Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Di tahun yang sama, mendapat gelar Master of Art (MA) bidang pastoral konseling dari STT Doulos, Jakarta. Pada 31 Oktober 1981, ia menikahi Ophelia Hutasoit S.Psi.

Yayasan Doulos yang dipimpinnya menonjol karena giat menangani kasus penyalahgunaan narkoba dan gangguan jiwa. Berkat pelayanannya di yayasan ini, Panitia Penyelenggara Penganugerahan Tokoh Peduli Narkoba Nasional, yang diketuai oleh Prof. Dr. A. Mone, disetujui oleh Dr. Sudirman, M.A., Sp.Kj, Direktur Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO), Jakarta, menetapkan Ruyandi sebagai salah satu “Tokoh Peduli Narkotika Nasional 2001.”

Di bidang pendidikan dan kesejahteraan, ia memimpin Yayasan Bersinar Bagi Bangsa, yang peduli terhadap generasi muda yang tak mendapat kesempatan mengecap pendidikan dengan memberi beasiswa. Beasiswa itu disalurkan melalui program kerjasama yang disebut POTA (Pelayanan Orang Tua Asuh). Keberadaan POTA diakui oleh lembaga internasional, karena mendapat dukungan penuh dari UNICEF. Saat ini ada 2.300 siswa yang menerima beasiswa dari POTA. Ruyandi pernah menjadi Pemimpin Umum majalah Esok dan tabloid Jemaat Indonesia.  KJ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here