Pdt. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.H, M.PdK Termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2017 Pilihan NARWASTU”

14
Pdt. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.H., M.M., M.PdK. Nasionalis dan religius.

Narwastu.id – Salah satu tokoh hukum di negeri ini, yang juga advokat/pengacara senior, Said Damanik, S.H., M.H. di sebuah kesempatan mengatakan, sadar atau tak sadar tokoh-tokoh yang diangkat Majalah NARWASTU telah membuka mata publik bahwa mereka berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. “Kita mesti bersyukur, karena media seperti NARWASTU konsisten memilih tokoh-tokoh Kristiani setiap tahun, lalu diberi penghargaan. Kalau tak diangkat NARWASTU, rasanya tak banyak orang yang tahu apa karya mereka,” ujar mantan Plt. Sekjen DPN PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia) dan kini Sekretaris Dewan Kehormatan PERADI serta pejuang HAM yang termasuk dalam “20 Tokoh Kristiani 2009 Pilihan NARWASTU” itu.

Senada dengan itu, advokat dan aktivis HAM yang juga Ketua III PGLII, Y. Deddy A. Madong, S.H., M.A. berpendapat, media Kristen seperti NARWASTU sesungguhnya punya peran amat penting di dalam mengorbitkan calon pemimpin. Pemikiran-pemikiran mereka dan karya nyata mereka diangkat di media, sehingga banyak orang tahu. Kita lihat Ahok, sebelum jadi pemimpin fenomenal dan tokoh antikorupsi sudah dimunculkan NARWASTU. Jadi media Kristen seperti NARWASTU ikut andil dan berdoa untuk melahirkan pemimpin. Dan pemimpin yang punya visi dan misi untuk mencerdaskan bangsa ini mesti terus diangkat NARWASTU,” ujar Deddy Madong yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2011 Pilihan NARWASTU.”

Wakil Ketua Badan Hukum DPP Partai NasDem, Hermawi Taslim, S.H. juga menerangkan, pemilihan tokoh-tokoh Kristiani setiap akhir tahun oleh NARWASTU sesungguhnya langkah berani dan inovatif. Karena, kata salah satu Ketua DPN PERADI ini, tokoh-tokoh yang dihimpun NARWASTU berasal dari berbagai latar belakang gereja, politik dan suku. Dan kemudian mereka bisa berkumpul, dan punya sebuah wadah, yakni Forum Komunikasi (FORKOM) Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU (FORKOM NARWASTU). “Tak banyak organisasi atau media yang bisa melakukan ini. Kita bisa dikumpulkan NARWASTU, itu luar biasa. Dengan berdiskusi, kita bisa bicara tentang persoalan masyarakat dan bangsa ini,” ujar Ketua Presidium FORKOMA PMKRI ini.

Nah, seperti para tokoh pilihan tahun lalu, di akhir tahun 2017 ini kembali kami pilih “21 Tokoh Kristiani 2017 Pilihan NARWASTU.” Mereka kami nilai sosok pelayan yang mampu menginspirasi dan mampu memotivasi sesuai dengan profesi atau pelayanannya. Misalnya, ada yang aktif di organisasi gerejawi, sosial, politik, hukum, HAM, kepala daerah, aktif di bidang kemasyarakatan, ekonomi, budaya dan pendidikan, dan itu cukup menarik dicermati dan direkam. Dari situlah kami lihat sepanjang tahun 2017 ini ada muncul sejumlah figur pejuang (Baca: tokoh) yang bersentuhan dengan berbagai peristiwa menarik di tengah gereja, masyarakat dan bangsa ini.

Dan seperti tahun-tahun lalu, pada akhir 2017 ini, NARWASTU yang kita cintai ini menampilkan kembali 21 tokoh Kristiani “pembuat berita” (news maker).  Dan ada tiga kriteria dari tim redaksi NARWASTU untuk memilih seseorang agar disebut tokoh pembuat berita. Pertama, si tokoh mesti populer dalam arti positif di bidangnya. Kedua, si tokoh mesti peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan nasionalis (Pancasilais). Ketiga, si tokoh kerap jadi perbincangan dan muncul di media massa (terutama di NARWASTU), baik karena pemikiran-pemikirannya yang inovatif, aktivitas atau ide-idenya kontroversial. Si tokoh pun jadi figur inspirator dan motivator di tengah jemaat atau masyarakat.

Bagi tim NARWASTU, tak mudah untuk memilih seseorang agar jadi “tokoh Kristiani.” Lantaran kiprahnya harus kami ikuti pula lewat media massa, khususnya media Kristen, termasuk mencermati track record-nya. Pada akhir 2017 ini, kami pilih lagi “21 Tokoh Kristiani 2017.” Seperti tahun lalu, ada berlatarbelakang advokat, politisi, jenderal, tokoh lintas agama, pengusaha, aktivis HAM, pemimpin gereja, aktivis gereja, jurnalis, pimpinan ormas, dan aktivis LSM.

Dari hasil seleksi tim NARWASTU sejak awal September 2017 lalu, dari 100-an nama yang terkumpul, berikut kami tampilkan 21 tokoh, yakni: (1) Prof. Thomas Pentury, M.Si (2) Drs. Steven Kandouw, (3) Dr. Ayub Titu Eky, (4) dr. Gilbert Simanjuntak, (5) Dennis Firmansjah, (6) Piter Siringoringo, S.H., (7) Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, (8) Laksma TNI (Purn.) Paruntungan Girsang, M.Sc, (9) Dr. dr. Ampera Mattipanna, (10) Pdt. Osil Totongan, S.Th, M.Min, (11) Pdt. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, M.M., S.H., M.H., (12) Pdt. M. Tomana, M.Th, (13) Pdt. Gunawan Iskandar, S.E., M.M., (14) Jemmy Mongan, (15) Pdt. William Wairata, (16) Ir. Fajar Seto Hardono, M.M., (17) Esra Manurung, (18) dr. Aris Tambing, MARS, (19) Heben Heser Ginting, S.E., AM.d, (20) Pdt. Halomoan Simanjuntak, S.Th dan (21) Jefri Kadang.

Kepada Bapak/Ibu dan saudara yang terpilih masuk dalam 21 tokoh Kristiani tahun ini, kami sampaikan, inilah hadiah Natal terindah atau apresiasi dari Majalah NARWASTU sebagai insan media kepada Bapak/Ibu dan saudara. Bapak/Ibu dan saudara selama ini kami nilai pula telah ikut membentuk karakter bangsa ini, selain bisa menginspirasi dan memotivasi banyak orang. Akhirnya, kami ucapkan: Selamat Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, kiranya Tuhan Yesus Yang Maha Rahmat senantiasa memberkati kita sekalian, amin. Syalom.

Tokoh Muda yang Melayani Lewat DPD API Jawa Barat  

Ketua DPD Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Jawa Barat, Pdt. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.H, M.PdK, menerangkan, bangsa ini membutuhkan figur-figur pemimpin berkarakater, berani, Pancasilais dan antikorupsi. Jangan dilihat seseorang pemimpin itu dari agama atau sukunya, tapi lihatlah apa yang dilakukannya kepada rakyat. Apakah pemimpin itu mampu mengangkat kehidupan masyarakat agar lebih sejahtera, dan apakah pemimpin itu melayani rakyat sesuai dengan konstitusi negara.

Para tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU yang religius, inspiratif dan Pancasilais.

“Saya melihat figur seperti Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. yang pernah memimpin DKI Jakarta) dibutuhkan bangsa ini,” tegas tokoh muda dan advokat/pengacara muda yang tergabung di DPN PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia) yang juga menggembalakan jemaat di Gereja Kristen Kudus Indonesia (GKKI) Jemaat Manna 2 Bandung, dan Ketua IV Majelis Pusat Sinode GKKI ini.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos di sebuah acara pemberian penghargaan kepada tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU.

Menurutnya, bulan-bulan yang lalu mata banyak orang di Indonesia tertuju ke Pilkada DKI Jakarta. Dan banyak elite politik yang berkepentingan dengan Pilkada DKI Jakarta. “Karena DKI Jakarta itu ibukota RI, dan saat itu ada fenomena Ahok. Ahok itu pemimpin yang berkarakter, antikorupsi, dan rakyat DKI Jakarta bisa melihat dan merasakan hasil kinerjanya selama ini. Ada sejumlah lawan politik yang ingin menjegal dia, namun sangat susah mencari kesalahannya. Makanya diupayakan berbagai cara untuk menjegal Ahok agar tidak bisa lagi menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk periode berikutnya. Fenomena Ahok ini pun mendapat perhatian dari media luar negeri, karena dia pemimpin berprestasi, dan ‘minoritas’ dari Kristen dan Tionghoa,” papar pria kelahiran Sumatera Utara, 17 Agustus 1974 ini.

Ahok, dalam pandangan Lukas, punya hati tulus, ia murni melayani masyarakat lewat jabatannya, antikorupsi, bekerja dengan hati untuk menata DKI Jakarta. Bahkan, Ahok berani mengatakan, ia siap mati demi kebenaran. “Dan itu disampaikannya sesuai dengan imannya. Tak ada pemimpin seperti Ahok yang berani mengatakan, siap mati kalau memang itu untuk kebenaran. Ahok pun seorang suami yang baik, ayah yang baik dan koko yang baik bagi saudara-saudaranya. Karena ada pemimpin yang hebat, namun di dalam keluarga tidak mampu menjadi suami, ayah dan kakak yang baik,” ujarnya.

Lukas Kacaribu yang kini menjabat Direktur PT. Pacifik Sumatera Indonesia (SUMTECH), yang pabriknya ada di Medan dan Bandung, menerangkan, kalau pada akhir 2016 lalu ada demo-demo besar terjadi di DKI Jakarta, yang sempat mengkhawatirkan banyak orang, Lukas melihat demo itu jelas bertujuan politik. “Demo itu tak murni lagi, karena tujuannya untuk menjatuhkan Ahok. Kalau Ahok tidak lagi jadi gubernur, maka kepentingan mereka bisa diwujudkan, dan selama Ahok menjabat, kepentingan mereka terganggu,” cetus salah satu mantan Wakil Sekjen DPP PDS, dan kini giat mencermati Pilkada Jawa Barat yang akan diadakan dalam waktu dekat ini.

“Banyak orang percaya yang berdoa agar bangsa ini, terutama DKI Jakarta, aman, damai dan tidak terjadi konflik. Kita bersyukur, karena Presiden RI yang kita banggakan Pak Jokowi, Panglima TNI, Kapolri, semua aparat keamanan, dan ring 1 dari Presiden RI bisa bekerjasama dengan baik, sehingga di negeri ini tak sempat terjadi perpecahan atau kerusuhan karena aksi demo besar tersebut,” katanya.

“Puji Tuhan, keadaan sosial dan politik cukup stabil, sehingga ini berdampak pada keadaan ekonomi yang juga stabil. Jadi Pemerintah berhasil menjaga kestabilan di bidang sosial, politik dan ekonomi. Dan hukum bisa ditegakkan. Saya amati selama ini, Kapolri dan Panglima TNI begitu luar biasa dalam menangani demo-demo besar di DKI Jakarta pada akhir 2016 dan awal 2017 ini. Dan tentu itu semua didukung oleh “invisible hand”, atau dalam bahasa rohani tangan-tangan dari surga atau perlindungan Tuhan,” terang Ketua Forum Bhinneka Tunggal Ika Indonesia, yang di Pilpres 2014 lalu ikut menggaungkan kedamaian dan kerukunan di tengah gereja, masyarakat dan bangsa.

Secara rohani, kata Lukas, kalau kita cermati demo-demo massa yang luar biasa di DKI Jakarta pada 11 November dan 2 Desember 2016 lalu, suasana saat itu di negeri ini, terutama DKI Jakarta begitu  mengkhawatirkan. Apalagi saat itu ada juga daerah seperti Papua, Ambon dan Nusa Tenggara Timur yang juga membela dan bersimpati kepada Ahok yang merupakan sasaran aksi demo. “Saat itulah banyak jaringan doa yang bergerak untuk mendoakan bangsa dan negara ini agar aman, damai dan rukun,” ujar pria yang juga dulu aktif di Jaringan Sosial Media (Jasmed) Jokowi-JK di Pilpres 2014 lalu.

Lukas menerangkan, kita lihat aksi demo pada akhir 2016 kemarin tampak begitu damai dan tenang. Kalau bukan tangan Tuhan atau malaikat Tuhan yang menjaga, maka bisa kita bayangkan apa yang bakal terjadi di DKI Jakarta ketika itu. Dan bisa saja kekacauan yang terjadi. “Orang-orang yang mengangkat tangan ke sorga atau berdoa saat terjadi demo-demo besar itu, sangat banyak. Kalau banyak umat yang berdoa, maka Tuhan tak akan tinggal diam. Pasti Tuhan mendengarkan doa-doa umat yang berserah dan tulus berdoa kepadaNya. Tuhan pun akan menjaga dan melindungi orang-orang yang berserah, seperti di DKI Jakarta dan Indonesia ini. Karena itu, kita harus terus bergandengan tangan dan terus berdoa untuk gereja, bangsa dan negara ini,” tukasnya.

Kalau kita bicara dari sisi spiritual, imbuhnya, sebuah bangsa, kota atau provinsi akan damai, sejahtera dan aman, kalau di situ ada orang-orang Kristen yang terus berdoa dan menyembah Tuhan. “Jadi jangan sesekali kita lupakan berdoa. Dalam hidup ini kita membutuhkan bimbingan atau tuntunan Tuhan. Sehingga kita mesti ada kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan setiap waktu. Kalau kita mau berdoa dan menyembahNya, maka Roh Kudus akan turun. Dan Dia yang akan memberikan bimbingan, ketenangan dan kedamaian bagi kita,” papar Lukas yang sudah selesai menyusun tesis S2 bidang kepailitan di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung.

Berbicara soal harapannya kepada warga gereja dan pemimpin gereja, Lukas mengatakan, warga gereja harus ikut berperan di setiap pilkada atau event-event politik untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian. Para pemimpin gereja kita harapkan dapat bergandengan tangan dan merendahkan hati. PS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here