Pdt. DR. Nus ReimasTermasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2007 Pilihan NARWASTU”

20
Pdt. DR. Nus Reimas. Tokoh lintas agama.

Narwastu.id – Pada akhir 2006 lalu, majalah ini sudah menampilkan “21 Tokoh Kristiani Terkemuka 2006”. Tentu saja versi NARWASTU. Figur yang kami tampilkan saat itu, ada yang berlatar belakang gembala sidang, tokoh lintas agama, pengacara, pejuang HAM, pemimpin sinode, aktivis ormas, aktivis LSM dan politisi. Ada pun 21 tokoh yang sudah diseleksi redaksi NARWASTU secara ketat dari 112 nama yang terjaring pada akhir 2006 lalu, yaitu Pdt. Dr. A.A. Yewangoe (Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia/PGI) dan Prof. Dr. Ing. K. Tunggul Sirait (Ketua Badan Penasihat Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia/MPK).

Lalu Gregorius Seto Harianto (Ketua Umum DPP Partai PDKB), Pdt. Dr. Andar Ismail (Penulis Buku Seri Selamat), Laksma TNI (Purn.) Drs. Ir. Bonar Simangunsong, M.Sc (Pendiri Forum Komunikasi Kristiani Jakarta/FKKJ), Dr. John N. Palinggi (Sekjen DPP Badan Interaksi Sosial Masyarakat/BISMA), Cornelius D. Ronowidjojo (Ketua Umum DPP Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia/PIKI), Constant M. Ponggawa, SH, L.LM (Mantan Ketua Fraksi Partai Damai Sejahtera/PDS), Pdt. DR. Nus Reimas (Ketua Umum Pengurus Pusat Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia/PGLII), Pdt. Dr. Jacob Nahuway (Ketua Umum MPS Gereja Bethel Indonesia/GBI) dan Pdt. A.H. Mandey (Ketua Umum Majelis Pusat Gereja Pantekosta di Indonesia/GPdI).

Selain itu, Pdt. DR. Freddy Pattiradjawane, M.Min (Sekretaris Umum Pengurus Pusat Persekutuan Gereja Pantekosta Indonesia/PGPI), Romo Benny Susetio (Sekretaris Eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia KWI), Eric S. Paat, SH (Pejuang HAM), Pdt. Herman Saud, M.Th, (Tokoh Papua), Drs. Sahrianta Tarigan (Anggota DPRD DKI Jakarta), Pdt. Rinaldy Damanik, M.Si (Ketua Umum Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah/GKST), Stien Djalil (Aktivis gereja), Ir. Edward Tanari, M.Si (Mantan Ketua Umum PP Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia/GMKI) dan Aris Merdeka Sirait (Aktivis LSM).

Saat itu, kriteria yang kami gunakan untuk memilih mereka, pertama, ia mesti populer dalam arti yang positif. Kedua, ia mesti peduli pada kebersamaan di tengah gereja, peduli pada penegakan keadilan, kebenaran dan HAM di tengah masyarakat, serta aktif dalam menjalin kerukunan umat beragama. Pada akhir 2007 ini, kembali kami tampilkan “21 Tokoh Pejuang Kristiani 2007”. Sekali lagi, ini versi NARWASTU. Sama seperti tahun lalu, kriteria yang kami patokkan untuk memilih para tokoh ini, ia mesti kerap menjadi perbincangan dan membuat berita (news maker). Apakah itu dengan gagasannya yang orisinil, inovatif, kreatif  atau kontroversial.

Dan, yang tak kalah pentingnya, kami pun meminta pendapat sejumlah rekan-rekan jurnalis Kristiani, pemimpin gereja, tokoh Kristen dan politisi tentang jejak para pejuang yang ditampilkan ini. Sekadar tahu, untuk memposisikan mereka sebagai “Tokoh Pejuang Kristiani 2007” tidaklah mudah. Soalnya, kiprah mereka mesti kami ikuti lewat media massa, baik media Kristiani maupun media nasional. Di samping itu, yang tak kalah pentingnya track record-nya kami cermati.

Bisa saja Anda menilai bahwa pemilihan para tokoh ini amat subjektif, tapi percayalah, kami sudah berupaya objektif. Dan amat manusiawi kalau tokoh-tokoh yang tampil pada nomor ini tidak sempurna alias bukan manusia suci. Nah, para tokoh yang kami pilih itu adalah, Prof. Frans Magnis Suseno (Rohaniwan), Asmara Nababan, S.H. (Pejuang HAM), Gregorius Seto Harianto (Politisi), Pdt. Saut H. Sirait, M.Th (Ketua Umum DPP Partisipasi Kristen Indonesia/Parkindo).

Kardinal Julius Darmaatmadja (Tokoh KWI), Dr. George J. Aditjondro (Akademisi), Prof. J.E. Sahetapy, S.H., M.A. (Ketua Komisi Hukum Nasional), Constant M. Ponggawa, S.H., L.LM (Politisi), Dr. John N. Palinggi (Tokoh Lintas Agama), Ester Jusuf Indahyani, S.H. (Aktivis LSM), Hermawi F. Taslim, S.H. (Ketua Umum Forkoma Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia/PMKRI), Nikson Gans Lalu, S.H. (Tokoh Pemuda), Pdt. Dr. Ruyandi Hutasoit (Politisi), M.L. Denny Tewu, S.E., M.M. (Politisi), Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S. (Tokoh Masyarakat), T.P. Jose Silitonga, S.H. (Pengacara), Pdt. Silvana Ranti, S.Th (Rohaniwan), Prof. Yohanes Surya (Akademisi), Drs. Sahrianta Tarigan (Politisi) dan Ir. Robert Robianto (Ketua BPK Penabur Jakarta).

Sebenarnya masih ada sejumlah tokoh yang pantas diposisikan sebagai “Tokoh Pejuang Kristiani 2007”. Sayangnya halaman majalah kesayangan kita ini amat terbatas. Perlu dicatat, dari nama-nama tersebut di atas ada beberapa tokoh yang sudah terpilih sebagai “tokoh terkemuka pada 2006” lalu, masih terpilih juga sebagai “tokoh pejuang 2007”. Karena kami menilai perjuangan mereka masih layak diapresiasi. NARWASTU Edisi Khusus Desember 2007-Januari 2008 ini menampilkan profil singkat para tokoh pejuang ini sebagai bentuk apresiasi kami atas perjuangan mereka selama ini di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Tentu kita semua berharap, melalui sajian ini akan muncul lagi tokoh-tokoh pejuang Kristiani di Indonesia setelah melihat sisi positif atau nilai-nilai juang dari para figur yang tampil di nomor kali ini. Selamat menyimak.

Para tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU yang religius, inspiratif dan Pancasilais.

Dari GPIB Jadi Pemimpin Gereja Aras Nasional

Pdt. DR. Nus Reimas tergolong pemimpin gereja berpengaruh di negeri ini. Tak heran, kalau institusi seperti Angkatan Darat (AD) pernah mengundangnya untuk menyampaikan siraman rohani, misalnya saat perayaan Natal. Pria kelahiran Ambon, Maluku, 28 November 1951, ini pun tergolong figur pemimpin gereja yang unik. Direktur Nasional LPMI (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia) ini sebenarnya berlatar belakang Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB), tapi ia terpilih menjadi orang nomor satu di lembaga gerejawi beraliran Injili. Sedangkan GPIB dikenal berafiliasi ke Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos diwawancarai wartawan TV, media cetak dan online di sebuah acara pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU di Jakarta.

Pdt. Nus Reimas masuk ke dalam komunitas Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII/Dulu: PII), ternyata karena LPMI yang dipimpinnya merupakan anggota PGLII. Di PGLII kepemimpinannya telah teruji. Dan sebelum menjadi orang nomor satu di PGLII, ia sudah dipercaya sebagai sekretaris umum. Di tengah banyaknya tantangan yang dihadapi LPMI dan PGLII, ia masih mampu menuai kesuksesan sebagai pemimpin gereja. Karena kesuksesannya itulah, pada akhir 2004 lalu, ia mendapat gelar doktor honoris causa dari International Council for Higher Education (ICHE), Wina, Austria. ICHE menilainya sebagai salah satu pemimpin umat terbaik di Indonesia.

Jabatan suami tercinta Dience Reimas yang punya dua anak ini di lembaga keumatan pun cukup banyak. “Saya lupa di mana saja saya pernah diminta menjabat atau sebagai penasihat. Di partai politik pun saya sering dimintai nasihat. Tapi, saya tak mau berpartai. Saya hanya ingin menggarami dunia politik agar bisa memberi manfaat bagi banyak orang,” ujar lelaki yang turut membidani kelahiran Forum Bakti Kasih Kristiani (FBKK) dan Komite Musyawarah Umat Kristiani Indonesia (KMUKI) ini.

Dalam perjalanan pelayanannya, Pdt. Nus Reimas cukup giat mendorong gerakan oikoumene di  Indonesia. Hal itu bisa dibuktikan dari perannya yang ikut membidani lahirnya Forum Komunikasi Lembaga-lembaga Gerejawi Aras Nasional. Lembaga gereja aras nasional, yaitu PGLII, Persekutuan Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI) dan PGI akhir-akhir ini cukup aktif menyikapi persoalan gereja, masyarakat dan bangsa. Melalui lembaga ini pula ia tekun menjalin kerukunan dengan tokoh-tokoh agama terkemuka di Tanah Air. Sedangkan melalui LPMI ia sering mengadakan dialog lintas agama untuk mencapai kerukunan.

Lelaki yang akrab dipanggil Pak Nus, ini mengatakan, kerukunan harus terus kita upayakan di Indonesia. “Kalau Indonesia hidup rukun, maka kita akan sejahtera,” ujar salah satu penasihat Majelis Pendidikan Kristen (MPK) di Indonesia, yang pernah diminta sebuah produk obat-obatan untuk menjadi bintang iklannya itu.

Bersama LPMI, ia pun aktif mengadakan pelayanan kemanusiaan di berbagai daerah. Saat LPMI membantu korban tsunami beberapa tahun lalu di Nanggroe Aceh Darussalam, sebuah universitas Islam di daerah setempat merasa tersentuh dengan aksi mereka. Sehingga universitas tersebut hingga kini menjalin hubungan yang amat baik dengan LPMI. Pdt. Nus Reimas berpendapat, untuk mewujudkan kasih kepada sesama perlu proses. “Kita harus tulus mengasihi dan berdialog dengan sesama. Melalui dialog akan terwujud kasih. Dan itu yang selalu saya terapkan jika melayani,” ujar Pdt. Nus Reimas yang sering juga menyuarakan persoalan umat melalui surat-surat yang ditujukannya ke lembaga tinggi negara.

Sebagai hamba Tuhan, Pdt. Nus Reimas pun cukup peduli atas keberadaan partai-partai Kristen. Itu sebabnya, ia bersama pimpinan PGI dan PGPI pernah memotori pengadaan sebuah seminar bertajuk “Perlukah Partai Politik Kristen?” yang dihadiri puluhan tokoh Kristen dan Katolik. Agak berbeda dengan pimpinan gereja lainnya, Pdt. Nus Reimas yang kerap didatangi tokoh-tokoh partai Kristen untuk meminta nasihat, tak segan-segan mengatakan, bahwa di Indonesia diperlukan partai nasionalis yang berjuang dengan nilai-nilai Kristiani, seperti PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa). Menurutnya, PDKB meskipun kecil, tapi vokal dan menjunjung nilai-nilai moral dan integritas saat berjuang di pentas politik (Baca: NARWASTU Pembaruan Edisi Maret 2007).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here