Dr. Ir. Martuama Saragi, M.M. Termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2020 Pilihan NARWASTU”

292
Dr. Ir. Martuama Saragi, M.M. Peduli kampung halaman.

Setiap akhir tahun Majalah NARWASTU yang kita cintai ini selalu hadir dengan sajian khusus, yakni menampilkan “21 Tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU” selain tulisan-tulisan seputar Natal dan menyambut tahun baru. Seperti tahun-tahun lalu, tokoh-tokoh yang kami tampilkan ini merupakan figur yang pernah diberitakan di majalah ini. Dan mereka dianggap Tim Redaksi Majalah NARWASTU figur yang inspiratif, mampu memotivasi, Pancasilais dan peduli pada permasalahan gereja dan masyarakat. Ke-21 figur ini diseleksi Tim Redaksi NARWASTU dari 100 lebih tokoh Kristiani yang pernah dipublikasikan Majalah NARWASTU.

Dan ada di antaranya berlatar belakang rohaniwan, akademisi, pakar hukum, pimpinan partai politik, wakil rakyat, pimpinan gereja, motivator, pejabat negara, jenderal purnawirawan, pengusaha, pimpinan ormas Kristen dan jurnalis. Majalah NARWASTU menilai mereka adalah sosok-sosok berpengaruh dan bisa menjadi teladan di tengah masyarakat. “Tokoh-tokoh yang kami tampilkan ini dikenal karena aktivitasnya yang menginspirasi, punya ide-ide atau pemikiran-pemikiran yang inovatif, mencerahkan, bahkan kontroversial, sehingga tak jarang jadi pembicaraan publik atau pemberitaan di media,” kata Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos, kepada pers baru-baru ini di Jakarta.

“Tokoh Kristiani yang ditampilkan ini, kembali kami garisbawahi merupakan sosok yang pernah muncul dalam pemberitaan majalah ini. Dan mereka pernah ‘membuat berita’ atas kiprah atau kegiatannya yang positif. Ke-21 tokoh ini bukanlah figur yang sempurna, karena mereka pun manusia biasa. Namun kami menilai mereka insan-insan Indonesia yang ikut membangun peradaban di tengah masyarakat dan bisa menularkan nilai-nilai kebaikan atau hal-hal yang positif pada sesama. Dan ke-21 tokoh ini sudah kami seleksi sejak Agustus 2020 lalu, dan profil singkat yang dipublikasikan ini merupakan apresiasi kami sebagai insan media bagi mereka di akhir tahun 2020 ini,” pungkas Jonro Munthe, yang merupakan lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta, alumni Lembaga Pendidikan Pers Doktor Soetomo (LPPDS) Jakarta, dan peraih award sebagai “Jurnalis Muda Motivator 2009 dari Majelis Pers Indonesia.”

Ke-21 tokoh Kristiani 2020 pilihan Majalah NARWASTU kali ini, yakni (1) Mayjen TNI (Purn.) Jan Pieter Ate, M.Bus, M.A., (Mantan petinggi di Kementerian Pertahanan RI), (2) Febry Calvin Tetelepta, M.H. (Deputi I Kantor Staf Presiden RI), (3) Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST (Teolog HKBP), (4) Pdt. Wilhelmus Latumahina/alm. (Pencipta lagu “Hidup ini Adalah Kesempatan”), (5) Kamaruddin Simanjuntak, S.H. (Pengacara), (6) Dr. Rofinus Neto Wuli, Pr. S.Fil., M.Si (Rohaniwan), (7) Hulman Panjaitan, S.H., M.H. (Pakar hukum), (8) Yunie Murwatie, S.E., CTM (Pengusaha), (9) Dr. Sahat HMT Sinaga, S.H. (Penatua gereja dan notaris), (10) Derman P. Nababan, S.H., M.H. (Hakim Pengadilan Negeri), (11) Pdt. Nicodemus Sahbudin, M.Th, M.A. (Rohaniwan), (12) Danang Priyadi, M.M. (Motivator), (13) Darwis Manalu (Pengusaha dan penatua gereja), (14) Dr. Ir. Rahmat Manullang, M.Si (Cendekiawan), (15) Frans M. Panggabean, M.M., MBA (Pengusaha), (16) Dwi Sapta Sedewa Brata (Cendekiawan), (17) Murfati Lidianto, S.E., M.A. (Anggota DPRD Kota Bekasi), (18) Maretta Dian Arthanti (Anggota DPRD Banten), (19) Dr. Ir. Martuama Saragi, M.M. (Tokoh masyarakat), (20) Drs. Paul Maku Goru, M.M. (Jurnalis senior), dan (21) Sahat M.P. Sinurat, S.T., M.T. (Pimpinan ormas Kristen).             

Cendekiawan Nasionalis, Religius yang Peduli Olahraga

Nah, pria Batak yang satu ini dikenal cukup peduli pada pembangunan kampung halamannya dan adat budaya sukunya. Selain itu, ia seorang cendekiawan. Dr. Ir. Martuama Saragi, M.M., yang lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, 16 Oktober 1965 adalah adalah sosok anak bangsa yang religius, nasionalis dan aktif di organisasi paguyuban marga Batak, olahraga nasional dan pelayanan gereja. Di tengah kesibukannya bekerja di lembaga tinggi negara, ia masih mau berlelah menjadi Sekjen Perhimpunan (Parsadaan) PARNA Se-Indonesia. PARNA (Parsadaan Naiambaton) adalah komunitas paguyuban dari lebih 50 marga-marga Batak yang hingga saat ini terikat pada janji atau komitmen untuk tidak saling menikahi.

Marga Parna itu adalah Parsadaan dari marga  Simbolon Tua, Tamba Tua, Saragi Tua, Munte Tua dan Nahampun Tua. Saat ini organisasi Parsadaan PARNA Se-Indonesia dipimpin ketua umum Letjen TNI (Purn.) Cornel Simbolon, yang merupakan tokoh nasional dan mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Dan bersama organisasi PARNA, Cornel Simbolon dan Martuama beserta tokoh-tokoh atau pemuka PARNA lainnya punya cita-cita mulia untuk membangun kebersamaan, baik di bidang pendidikan, sumber daya manusia maupun pemberdayaan Yayasan Parna untuk berkontribusi demi kebaikan negeri ini.

21 Tokoh Kristiani 2019 Pilihan Majalah NARWASTU saat menerima penghargaan di Graha Bethel, Jakarta Pusat, pada 10 Januari 2019. Pemberian penghargaan seperti ini sudah dimulai sejak 2007 lalu di Gedung LPMI, Jakarta Pusat.

Pria berpenampilan tenang ini juga sintua di Gereja HKBP Jakasampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat. Martuama semasa muda aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan pernah menjadi ketua pemuda Gereja HKBP Tebet, Jakarta Selatan, sekarang pun dipercaya sebagai Pembina GEMPAR (Generasi Muda PARNA) Se-Indonesia. Martuama yang menggondol gelar Doktor Ilmu Pemerintahan dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jakarta, dengan hasil memuaskan, saat ini bekerja sebagai Auditor  di BPK-RI. Mantan Ketua Umum Forum Komunikasi Parna Se-Jabodetabek pada 2002 ini menerangkan, di dalam hidup ini ia punya obsesi supaya dirinya bisa berdampak positif bagi orang lain.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos diwawancarai wartawan TV, media cetak dan online di sebuah acara pemberian penghargaan kepada 21 tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU.

Menurutnya, supaya kita bisa berdampak bagi sesama, maka kita harus optimal bekerja, bisa menjadi teladan bagi orang lain dan kalau melakukan sesuatu bagi orang lain mesti serius. Bicara mengenai aktivitas di gereja yang diikutinya, Martuama menuturkan, dalam aktivitas di gereja ia bisa merasakan dampak dari religiusitas. “Aktif di gereja bisa memberi nutrisi religi bagi kita,” kata ayah dua anak ini.  Martuama pun kini dipercaya juga sebagai Ketua Umum PESTI (Persatuan Soft Tennis Indonesia). Di masa periode kepemimpinannya tim Soft Tennis Indonesia telah berhasil dalam perolehan medali di Asian Games Incheon Korea Selatan dan Palembang, Indonesia.

Berbicara tentang wabah Covid-19 yang sekarang melanda dunia, mantan Wakil Ketua BAI KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) dan mantan anggota Dewan Pakar di Yayasan Pencinta Danau Toba ini menuturkan, wabah Covid-19 sesungguhnya membuat kita di dalam keluarga semakin sering bertemu dan saling memperhatikan. “Keluarga justru semakin menunjukkan kepeduliannya di saat wabah Covid-19 ini muncul, misalnya, jadi sering menanyakan kabar lewat telepon. Kita memang prihatin dengan situasi saat ini, apalagi wabah ini sangat berdampak pada kesehatan, ekonomi dan sosial,” ujar penerima penghargaan Satyalancana Karya 20 Tahun dari Presiden RI ini.

Menurut Presiden SEASTA (South East Asia Soft Tennis Asosiation) dan Vice Presiden ASTA (Asia Soft Tennis Asosiation)  ini, dikaitkan dengan situasi wabah Covid-19 ini, kita merefleksikan bahwa kekuatan atau kemampuan manusia itu sangat terbatas. “Kita tidak bisa mengklaim bahwa kita berkuasa, tapi kita sesungguhnya sangat kecil. Dan Tuhan itu maha besar. Kita tak ada apa-apanya bila kita lihat situasi dunia saat ini, namun kita percaya bahwa ada campur tangan Tuhan di tengah keadaan sekarang. Saat ini semua bisa terpengaruh karena wabah Covid-19. Harta bisa habis, pemimpin terpengaruh dan ekonomi sangat terpengaruh dengan situasi sekarang. Karenanya kita harus semakin dekat kepada Tuhan dan semakin meningkatkan religiusitas kita,” pungkas suami tercinta Retno Dewi boru Naiborhu dan ayah dua anak, Josua Saragi dan Jesika Saragi ini.

Berbicara mengenai filosofi orang Batak, yakni (Hagabeon, hamoraon dan hasangapon) atau punya keturunan, punya kekayaan dan hidup terhormat, Martuama Saragi mengatakan, tentang filosofi untuk meraih kekayaan di dalam kehidupan, tak bisa dimaknai bahwa itu hanya untuk mencapai materi atau harta saja. Kekayaan itu bukan menjadi tujuan hidup. Ketiga hal itu sesungguhnya tak bisa dicapai manusia, dan kalau manusia mencari ketiganya atau harta di dalam hidupnya, sebenarnya tujuannya sudah keliru.

“Dalam hidup ini tujuan kita yang utama adalah memuliakan Tuhan dan bisa hidup bermakna bagi orang lain, sehingga kita akan mencapai kedamaian hidup dan kebahagiaan hidup. Karena di dalam hidup ini, ada orang yang punya anak dan hartanya banyak, tapi belum tentu bahagia dan kehidupan keluarganya damai. Kalau ada orang yang hanya ingin mencapai ketiga hal itu, agaknya dia ambisius. Munculnya falsafah hagabeon, hamoraon dan hasangapon sesungguhnya itu wisdom,” pungkas pria yang dalam waktu dekat akan menerbitkan buku karyanya berjudul “Komunikasi Pemerintah atas Kepentingan Politik.”

Selama ini kalau Martuama dikenal begitu semangat menimba ilmu, katanya, itu sebenarnya bagian dari cita-citanya guna menimba ilmu. Dan orangtua di kalangan masyarakat Batak sangat bangga bila anak-anaknya bisa mengikuti pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Karena pendidikan itulah yang mengubah pola pikir dan pendidikan itu memgubah kehidupan supaya lebih baik. “Dengan mengikuti pendidikan saya ingin berdampak pada orang lain. Dengan mengikuti pendidikan pun kita bisa merasakan atau mengikuti tahapan-tahapan pendidikan yang ada,” ujar Martuama Saragi yang mengikuti S1 di Institut Sains Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta dan lulus pada 1990, lalu studi S2 jurusan managemen keuangan di Universitas Satyagama, Jakarta, dan S3 di IPDN.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here