Transfigurasi Mental

* Oleh: Hojot Marluga

25

Narwastu.id – Ungkapan tak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan, artinya perubahan hal yang tak bisa dihindari dan selalu menantang untuk dihidupi. Karenanya, di kehidupan ini perubahan tak akan pernah hengkang di kehidupan, karenanya disebut-sebut faktor yang mempengaruhi keberhasilan oleh kemampuan mengelola perubahan. Memang konsekuensi tuntutan dari perubahan ada hal-hal yang dihilangkan, dibuang. Dimulai mengubah pikiran hingga kemudian tindakan. Dimulai dari penalaran dilanjutkan mengeksekusi. Mengapa dimulai dari pikiran, sebab pikiranlah yang membentuk dan mengkristalisasinya. Pikiran akan membentuk keputusan.

Keputusan akan membentuk tindakan. Tindakan tentu juga membentuknya jadi habitus. Ala bisa karena bisa, kebiasaan, refetisi atau pengulangan. Dari kebiasaan jadi terbentuknya karakter, sedangkan karakter jadi sikap diri, percaya diri dan yakin. Transfigurasi mental membawa jadi berkarakter baik, sebab sifat baik lebih penting daripada prestasi, ramah dan suka bergaul, berbagi, peka terhadap perasaan orang lain. Pandai mengambil hati, tabah hatinya. Oleh karena berubah, mengubah diri, mengkondisikan diri pada gelas kosong. Pikiran siap menampung hal yang berbeda, diisi hal-hal yang baru dengan mengisinya yang baru. Di sinilah ditemukan daya tahan, imun. Tentu soal daya tahan menghadapi setiap keadaan juga akan teruji orang-orang yang telah memiliki transfigurasi mental.

Contoh pada saat mengalami bencana, misalnya banjir. Di berbagai daerah terjadi banjir, sudah tentu banyak orang yang terganggu, mengungsi bahkan tertekan oleh banjir. Demikian juga di kehidupan, ekspektasi setiap orang berbeda-beda saat ingin melihat perubahan, tetapi nyatanya tetap tak ada perubahan, yang ada banjir terjadi terus menerus. Tentu, orang yang positif melihat keadaan, bencana banjir, akan memetik hikmat darinya. Paling tidak dimulai dari keputusannya, mencari tempat tinggal yang lebih aman dari banjir. Nyatanya tak sedikit orang tetap bertahan di kenyataan yang demikian, walau sudah mengganggu, tetap saja bertahan, tinggal di kawasan banjir. Orang yang negatif hanya menggerutui banjir, mengomel dan memaki-maki dan mempersalahkan keadaan, menyalahkan pemerintah. Namun orang yang melihat keadaan itu dengan kaca mata positif, justru di saat situasi demikian memiliki keputusan besar, berubah. Ada keputusan atas momentum.

Kata lain setiap keadaan itu netral, tetapi membuatnya berbeda adalah respons pribadi. Ada orang membuat perubahan oleh karena mawas diri, mengotokritik diri atas diri yang terninabobokan oleh keadaan. Di sinilah keyakinan penting, berjumpa dengan momentum. Momentun dipercaya cara Sang Pencipta untuk menyapa orang yang ingin berubah. Setiap orang yang berjumpa dengan Pencipta, pasti menyadari keterbatasan dan salah jalan yang telah lama dilaluinya. Hingga di titik ini berubah. Maka orang yang tercerahkan akan bergumul dengan hati nurani yang tergugah, kesadaran diri.

Bahwa diri tak sempurna diundang maha sempurna untuk mengikuti jalanNya. Karenanya orang yang menyatakan diri telah berjumpa dengan yang tak terpahami, akan sampai pada yang transendental. Tentu itu melampaui pemahaman terhadap pengalaman biasa dan penjelasan ilmiah. Melintas nalar dan logika, hanya bisa terjelaskan iman. Di sinilah berubah pola lama ke pola baru, berpikir seperti rencana pembuatNya.

Alih-alih perubahan tak diawali dari orang lain, tetapi dimulai dari diri sendiri. Tak ada guna ingin mengubah orang lain jika diri tak mau berubah sendiri diri. Istilah transfigurasi sebenarnya berasal dari istilah metamorfosa yang di dalam teks Kitab Suci, bahasa Yunani disebut metemorphethe atau transfigurasi. Bila salah dalam mengelola perubahan, jelas transfigurasi yang dilakukan terhadap keadaan, tak membawa dampak apa-apa, yang ada raya kepayahan dan terus dilindas perubahan tanpa mengalami perubahan. Padahal, perubahan adalah keniscayaan. Siapa yang tak bisa mengikuti perubahan akan dilindas. Di sinilah pemimpin mesti membawa perubahan dimulai dari diri sendiri.

Transfigurasi bahasa lain, bahwa hidup yang lama, yang fana dibaharui dengan pemahaman yang baru, dengan tubuh yang sama tetapi dengan pembaharuan budi. Tentu, budi di sini dimulai dari pikiran kemudian menyatu dengan hati. Satunya pikiran dan hati. Ini tentu misteri, bahwa pembaharuan itu tak bisa diubah diri sebelum menyerahkan kepada empuNya diri. Kebangkitan semangat oleh kebangkitan spirit, disingkapkan dalam peristiwa transfigurasi perjumpaan denganNya. Sebab memang kita dipanggil, setiap orang, tetapi keterpilihan soal respons dari setiap orang untuk memenuhi panggilan untuk mengesahkan kita sebagai orang yang disiapkan. Maka di sinilah perlu belief sistem yang tak meragukan keabsahan dari kuasa dari Pencipta untuk mengubah diri. Tentu, dasar iman belief sistem yang demikian akan mempersekutukan diri kita dengan diri Sang Pencipta, sehingga sesungguhnya persekutuan kitalah yang yang mentransformasikan kehidupan kita untuk berubah.

Sistem Keyakinan

Belief sistem pondasi berpijak dari keyakinan, sebab dengan keyakinanlah yang melatarbelakangi seseorang bersikap dan berperilaku. Sistem kepercayaan adalah inti dari segala sesuatu yang kita yakini sebagai realitas, kebenaran, nilai hidup. Konsekuensi keyakinan membawa transfigurasi, perubahan yang dalam pengertian para filsuf menyebut kepercayaan. Keyakinan tentu tak lepas dari sikap personal terhadap satu pemahaman atau gagasan. Itu tentu membawa kepercayaan. Eric Schwitzgebel profesor filsafat Amerika Serikat di University of California, yang minat utamanya tentang koneksi antara psikologi empiris dan filsafat pikiran dan sifat keyakinan. Dia sampai kepada pertanyaan, bagaimana organisme fisik dapat memiliki kepercayaan? Di sinilah keyakinan kita mesti terus dikritisi. Jadi sistem keyakinan muncul oleh karena sudah diuji, dihidupi dan direnungkan mendalam. Bukan seperti keyakinan yang sebagian besar orang meyakini agama yang diajarkan sejak kecil kepada mereka. Keyakinan yang ditanamkan sejak kecil tanpa diuji tak akan menjadi sistim nilai dalam kehidupan.

Sahabat dan guru saya, Eloy Zalukhu lahir dengan nama Elifati Zalukhu, pendengung Theocentric Motivation. Sejak mengalami lahir baru itu dia menata hidup dari nol hingga kemudian bisa berdampak. Yang dilakukan adalah komitmen dan keberanian untuk meninggalkan masa lalu. Dari pengalaman itu muncul ungkapan dari gagasannya, “Masa lalu bukan keselaluan, hidup bisa berubah.” Sejak membuat komitmen ingin berubah, di Australia pula Eloy menemukan talenta, jadi pembicara. Dia berpikir barangkali profesi yang tepat menjadi seorang pendeta. Itu sebabnya sepulang dari Australia dia mendaftarkan diri ke Sekolah Tinggi Teologi di Batu Malang, Jawa Timur.

Menurutnya, pesan penting yang hilang dari para pembicara hanya berpusat pada diri. Atas semacam kegundahan dalam batinnya untuk menemukan format apa yang digunakan. Satu waktu Eloy bergumul untuk mencari tema yang bisa merogoh hati dan benar-benar menyentuh kedalaman batin hingga kemudian dia menemukan Theocentic Motivator. Baginya, perlu memahami theocentic, sebab jika hanya fokus anthropocentric tak akan pernah menemukan esensi kedalaman hidup. “Di sinilah peran Theocentric Motivation mengajak menyadari kuasa Tuhan. Kita manusia berdosa. Tak bisa menolong diri sendiri. Kita butuh Tuhan.”

Baginya, pembicara theocentric terpanggil merangkul kedua perihal, kuasa Tuhan dan potensi manusia dalam proporsi yang tepat. Di satu sisi, manusia sadar kelemahannya, maka butuh Tuhan. Sisi lain manusia harus berusaha maksimal berusaha sebab memang diberikan potensi. Tentu dampaknya, pertama, pengenalan akan tujuan hidup dan talenta atau bakat khusus yang Tuhan percayakan kepadanya yang mana hal itu akan melahirkan passion, yaitu semacam keinginan atau kesukaan dalam mengerjakan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kedua, seseorang belajar dan berlatih 10 kali lebih tekun dan lebih baik dibandingkan manusia rata-rata.

Hal senada pernah disampaikan Ketua Umum Perhimpunan Profesi Hukum Kristiani Indonesia (PPHKI), Fredrik J. Pinakunary dan menyebut, tentu yang tak memiliki kepercayaan yang sama dengan kita banyak. Mereka punya belief sistem atau sistem kepercayaan sendiri. Orang humanis punya kepercayaan sendiri, bahkan dalam satu agama pun bisa berbeda-beda kadar imannya. Tetapi hanya orang yang bergaul erat dengan Pencipta punya belief system yang benar.

Pinakunary menambahkan, agar memiliki belief sistem yang benar, sesuai dengan Firman Tuhan, kita tak cukup membaca Alkitab di dalam hati, tetapi perkatakan dengan suara nyaring agar telinga kita mendengar dan suara kebenaran itu masuk dan berdiam di dalam hati dan pikiran kita. “Jika kita sering perkatakan firman Tuhan dengan nyaring, maka telinga kita mendengar dan hati kita terkondisikan untuk mempercayai kebenaran dan itulah yang akan membentuk belief sistem kita yang benar,” ujarnya.

Baginya, untuk memahami bahwa hidup ini bukan lari sprint, tetapi marathon atau lari jarak jauh. Demikian memang di kehidupan ini, seperti filosofi berlari marathon. Berlari jarak jauh seperti dalam ajang marathon bukanlah sebuah kegiatan yang mudah. Tentu di sini dibutuhkan mental yang kuat saat menghadapi tantangan berat. Maka hidup bukan berlari cepat, melesat cepat, namun soal ketahanan menempuh lari jarak jauh.

Akhirnya, keyakinan membentuk sikap hidup selama hidup. Di sinilah pentingnya beriman, menjalani kehidupan dengan keyakinan sebaik mungkin, dan perdalam pemahaman spiritual, sebab sisi spiritual membawa kesadaran bahwa ada rencana besar yang belum tersingkap dalam kehidupan kita. Sebab pencipta memberi kita bakat dan diberi berbeda dengan orang lain. Jika sampai saat ini kita belum menemukan potensi itu, kesadaran akan potensi terdahsyat yang Tuhan beri.

 

 

* Penulis adalah seorang jurnalis, editor dan motivator, penerima certified theocentric motivation (CTM). Bisa dikontak di Facebook: Hojot Marluga, Twitter: @HojotMarluga2 dan Instagram: hojotmarluga_book.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here