Rebecca Olivia Haryuni Mahasiswi yang Terinspirasi dengan Jejak Bunda Teresa

108
Rebecca Olivia Haryuni. Berprestasi dan multitalenta.

Narwastu.id – Rebecca Olivia Haryuni adalah gadis muda cantik, energik, aktif, berprestasi serta tergolong figur insan  muda yang langka. Ia multitalenta. Selain berprestasi sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Bali, namun ia akan pindah ke Universitas Kridawacana, Jakarta, ia pun bisa menulis lagu rohani dan memainkan sejumlah alat musik. Ia piawai memainkan harpa, piano dan saxophone. Tak heran, dengan talenta tersebut ia kerap diminta melayani di gereja.

Rebecca, begitu ia akrab disapa, pun punya IPK (indeks prestasi komulatif) di atas tiga, bahkan hampir empat di kampusnya. Anggota jemaat Gereja Bethel Tabernakel, Jakarta, ini sekarang masih duduk di semester lima di kampusnya. Di tengah aktivitasnya yang padat sebagai mahasiswa, ia masih menyempatkan diri untuk aktivitas pelayanan gereja dan kegiatan kemanusiaan. Di kampusnya ia kerap ikut dalam kelompok mahasiswa peduli HIV/AIDS.

Soalnya, bukan rahasia umum lagi ada kaum muda yang terjangkit HIV/AIDS, dan mereka sering mendapat stigmaa negatif dari masyarakat. Makanya Rebecca ikut di dalam kelompok tersebut untuk memberi penguatan pada penderita HIV/AIDS. Keaktifan Rebecca di dalam kegiatan kemanusiaan dan pelayanan, tak lepas dari pengaruh ayahandanya yang juga giat dalam pelayanan serta pengusaha di bidang farmasi. Sedangkan ibundanya seorang dokter gigi, drg. Ella Karmila.

Keinginannya menjadi seorang dokter pun dilatarbelakangi dukungan orangtuanya. “Saya melihat profesi dokter itu tak hanya untuk menyembuhkan orang-orang sakit, namun nilai kemanusiaannya tinggi, karena bisa menolong orang yang kurang mampu atau miskin,” ujar Rebecca yang hobi olahraga basket dan badminton serta pernah meraih prestasi dalam lomba berbicara bahasa Inggris. Dan Rebecca pun kini sudah berupaya mandiri dengan membuka usaha rental gaun di Bali dan membuka usaha kafe di Jakarta.

Ibunda Rebecca, drg. Ella Karmila menerangkan, sejak umur empat tahun putrinya ini sudah menunjukkan perhatian kepada sesama yang kurang beruntung. Tak hanya itu, Rebecca sejak SMP hingga SMA pun peduli mengajar anak-anak yang kurang mampu dengan pelajaran Bahasa Inggris di tempat mamanya melayani. Menurut Rebecca, melayani adalah sebuah aktivitas yang membahagiakan. Karena ia bisa memberi sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain dan membuat mereka bersukacita.

Dalam hidup ini, kata Rebecca, ketika kita diberkati Tuhan, maka kita harus menjadi saluran berkatNya bagi sesama, terutama sesama yang kurang beruntung. Semakin banyak kita melayani dan berbuah, Tuhan pun akan melimpahi berkatNya buat kita. Itu sebabnya, Rebecca mengajak anak-anak muda agar giat melayani. Karena melayani itu sebenarnya juga melatih pribadi seseorang agar makin peka terhadap sesama. Dan melayani pun memuliakan nama Tuhan.

Rebecca menambahkan, saat ini gereja dan Indonesia membutuhkan orang-orang muda yang peduli melayani sesama. Kita pun butuh anak-anak muda yang bisa menginspirasi dan memotivasi sesama. “Anak-anak muda jangan takut dipakai Tuhan sebagai alatNya untuk melayani. Kalau kita dipakai Tuhan sebagai alatNya, memang kita sering berhadapan dengan hal-hal yang kurang enak. Namun di situlah sesungguhnya Tuhan memanggil kita untuk menjadi alatNya. Bahkan, melayani di desa-desa tertinggal atau pedalaman pun dibutuhkan peran dari anak-anak muda Kristen,” ujar Rebecca yang pernah memberikan motivasi kepada mahasiswa STT (Sekolah Tinggi Teologi) IKAT, Jakarta, agar semakin semangat melayani.

Rebecca pun sudah pernah terjun melayani ke pedalaman Papua Barat dan NTT (Nusa Tenggara Timur). Dia pun kerap diminta sebagai ketua penggalangan dana untuk penginjilan. Sementara Ella Karmila, sang mama dari Rebecca menuturkan, di tengah kehidupan ini, kita harus bisa menjadi lilin-lilin kecil di tengah kegelapan. Rebecca pun sangat kagum dan terinspirasi dengan pelayanan kemanusiaan Bunda Teresa.

“Bunda Teresa bahagia kalau bisa berbuat sesuatu bagi orang lain. Sepanjang hidupnya Bunda Teresa mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan dan untuk orang lain. Selalu ada sukacita atau kegembiraan di dalam kehidupan Bunda Theresa. Saya sangat mengidolakan Bunda Teresa. Dia mampu mengubah kehidupan. Sehingga media pun menyoroti aktivitas kemanusiaan Bunda Teresa,” ujar Rebecca, anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya Ruth Olivia Haryuni masih berusia empat tahun.

Rebecca yang pernah ikut pelayanan ke India untuk menggali sumur bagi orang-orang miskin, di mata pembimbing rohaninya yang juga Ketua Yayasan Apostel Bangun Bangsa (ABB), Pdt. Dr. Sarah Fifi, S.Th, M.PSi  adalah seorang gadis yang luar biasa. Ia punya kegigihan dalam pelayanan. “Dan sekarang ia Duta Yayasan ABB untuk pelayanan ke pedalaman. Kami berdoa dan terus mendukung dia, baik di dalam perkuliahan, pelayanan maupun di dalam keluarga. Kita butuh anak-anak muda yang cerdas, beriman, dan mau berbuat sesuatu untuk gereja, masyarakat dan bangsa,” pungkas Ibu Pendeta yang cantik yang juga psikolog dan salah satu Penasihat/Pembina Majalah NARWASTU itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here