Jangan Pernah Ragukan Kuasa Tuhan Yesus (Refleksi atas Ketakutan Terhadap Masalah Hidup)

* Oleh: Shelly Samsie

330

Narwastu.id – Ketika manusia diperhadapkan pada sebuah masalah hidup, dan seakan-akan masalah itu tak ada jalan keluarnya, dan seakan-akan semua doa yang dipanjatkan tak mendapat jawaban, sering kita mulai meragukan kuasa Tuhan. Manusia mulai merasa cemas dan gelisah, sehingga tidak lagi tenang dan bersukacita. Sukacitanya telah dirampas oleh iblis, diganti dengan perasaan takut, gusar dan tak percaya. Manusia tidak pernah mau bersabar, dan selalu mau mengambil langkah sendiri. Mau menjadi heroik bagi dirinya sendiri. Orang yang ragu itu identik dengan tidak mempercayai kemampuan Tuhan.

Murid-murid Yesus pun mengalami hal yang serupa, sama seperti yang kita alami. Ingatkah kita pada kisah Yesus meredakan angin ribut? Ketika itu Yesus bersama-sama dengan murid-muridNya di dalam perahu yang sama. Tapi ketika ombak dan angin ribut datang menerpa perahu, mereka mulai cemas dan ketakutan. Mereka sibuk dengan ketakutan dan pikiran-pikiran yang membuat mereka semakin tak berdaya. Mereka lupa bahwa ada Yesus Kristus bersama-sama dengan mereka. Mereka takut dan cemas, karena meragukan kemampuan Tuhan. “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (Markus 4:38b). Itu yang dikatakan murid-murid Yesus pada saat mereka melihat  Yesus yang lagi tidur di buritan.

Seandainya mereka percaya dan tidak meragukan kemampuan Tuhan, tentunya mereka akan tenang-tenang saja, tidak panik dan ketakutan. Mereka melihat Yesus masih bisa tidur, sementara mereka di luar sudah berteriak-teriak ketakutan. Mereka melihat bahwa Yesus masih belum beraksi atau melakukan tindakan apa-apa. Sedangkan mereka sudah berupaya dengan kekuatan mereka sendiri untuk mengatasi angin ribut itu. Itulah jika manusia hanya mengandalkan diri sendiri, tanpa mau mengandalkan Tuhan. Apa yang manusia lakukan tanpa menyertakan Tuhan untuk ikut andil di dalamnya adalah kesia-siaan belaka. Tuhan pun mengutuk orang yang selalu mengandalkan kekuatannya sendiri (Yeremia 17:5).

Petrus pun pada saat melihat Yesus berjalan di atas air, dia pun ingin mencobanya. Yesus berkata, “Datanglah”, lalu Petrus mulai berjalan di atas air. Ketika Petrus focus atau mengarahkan pikirannya kepada Yesus, ia dapat berjalan di atas air tanpa masalah.  Pada saat angin mulai bertiup, Petrus tidak lagi fokus pada Yesus, tapi pikirannya mulai terpecah. Pikirannya tertuju pada angin sepoi-sepoi yang meniupnya, sehingga Petrus mulai memikirkan hal-hal lainnya. Petrus mulai merasakan kecemasan kalau-kalau nanti ia jatuh dan tenggelam.

Petrus tidak lagi fokus kepada Tuhan dan meragukan Tuhan, sehingga ia takut. Mulailah Petrus jatuh dan tenggelam (Matius 14:30). Kebimbangan dan ketidaksabaran manusia yang sering menjatuhkan manusia ke dalam kegagalan dan kehancuran. Seharusnya kita yang adalah anak-anak Tuhan harus selalu percaya, dan selalu tetap mengandalkan Tuhan, serta selalu sabar menantikan waktu Tuhan (Kairos). Tidak seharusnya kita meragukan Tuhan (Matius 14:31, Markus 4:40).

Mengapa kita harus takut dan tidak percaya? Padahal kita sudah memiliki Yesus yang sanggup menghardik segala topan dan badai masalah dalam hidup kita. Yesus sendiri berkata kepada kita, “Karena itu Aku berkata kepadamu, apa saja yang kamu minta dan doakan percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Markus 11:24). Juga di Markus 9:23 dikatakan, tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya. Ini sudah ditegaskan oleh Yesus, sehingga tidak ada satu alasanpun yang dapat membuat kita menjadi ragu.

 

Tuhan Memenuhi Kebutuhan Kita, Bukan Keinginan Kita

Keraguan menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Tapi dengan hati yang tenang dan percaya, maka segala kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan tak akan pernah menghampiri kita. Tuhan tahu segala kebutuhan kita, dan Dia yang akan memenuhi segala apa yang kita butuhkan. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Bukan keinginan kita yang akan Tuhan penuhi, tapi kebutuhan kita. Tidak semua keinginan kita itu merupakan kebutuhan kita.

Andalkan Tuhan di setiap jalan kita (Yeremia 17:7). Carilah Tuhan dan kekuatanNya, carilah wajahNya selalu (Mazmur 105:4). Dan tetaplah memiliki pengharapan yang teguh. Jangan pernah biarkan sukacita kita disabotase oleh iblis. Tetaplah rasakan sukacita tersebut karena itu memang pemberian Allah kepada kita. Sukacita itu memang diperuntukkan untuk kita umat pilihan Allah, dan percaya bahwa kita adalah orang-orang yang berkemenangan di dalam Kristus.

Dan ingatlah bahwa kepanikan tidak dapat membuat orang menemukan solusi atau jalan keluar yang tepat. Kepanikan malah membuat orang selalu mengambil langkah yang salah dan fatal. Tetaplah tenang dan berserah kepada Tuhan. Ingatlah Mazmur 94:18-19 mengatakan, “Ketika aku berpikir, ‘Kakiku goyang,” maka kasih setiaMu ya Tuhan, menyokong aku. Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburanMu menyenangkan jiwaku”.

Tuhan memberkati kita, amin.

 

* Penulis adalah jemaat Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT) Petra di Makassar, Sulawesi Selatan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here