ENGKAU TIDAK USAH TAKUT TERHADAP VIRUS CORONA

* Oleh: Pdt. Dr. Tjepy Jones B.

50

Mazmur 91:5-6, “Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.”

Narwastu.id – Jikalau kita membaca keseluruhan Mazmur pasal 91, pasal ini dibuka dengan pernyataan, untuk orang yang duduk dalam lindungan dan naungan Allah dan kemudian diakhiri dengan pernyataan bahwa Allah akan memperlihatkan kepada orang tersebut keselamatan (Yeshuah) yang adalah Yesus sendiri. Jadi Mazmur ini sedang berbicara tentang hubungan intim kita dengan Allah di dalam Kristus, dan bukan sekadar mengklaim janji-janji Tuhan, seolah-olah Tuhan berkewajiban memenuhi janjiNya kalau kita sudah mengucapkan ayat-ayat tersebut. Tetapi kita harus sadar betul bahwa ada alam Roh yang menyelubungi kita seperti tertulis di Kolose 3:3, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Kemudian di dalam 1 Yohanes 4:4b, ”Sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.”

Di dalam pasal ini kita akan melihat bahwa dunia ini memang penuh dengan teror bahaya maupun sakit penyakit, juga musuh-musuh yang digerakkan oleh kuasa-kuasa gelap. Tetapi janji yang Tuhan berikan adalah bahwa kita dilindungi, dinaungi, dan dilepaskan dari segala bentuk teror tersebut. Bahkan sekalipun teror itu menimpa orang- orang di sekitar kita, itu tidak akan menimpa kita. Bukankah ini suatu janji yang indah dan penuh kuasa. Karena itu jangan sampai kita salah meminta kepada Tuhan untuk menjauhkan semua masalah itu dari kita, nanti kita akan menjadi lemah, karena semua masalah itu memang sudah ada di dunia ini. Sebaliknya, mari kita ambil kekuatan kuasa Allah ini untuk berdiri teguh di dalam FirmanNya. Ujilah diri kita sendiri, yakinkah kita bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kita, sebab kalau tidak, maka kita tidak akan teguh berdiri (2 Korintus 13:5).

Cara yang Alkitab berikan supaya Firman Tuhan itu berbicara kepada kita adalah dengan cara meditasi FirmanNya. Meditasi di dalam Alkitab seperti yang ditulis dalam Yosua 1:8 dan Mazmur 1:2, memakai kata Ibrani “hagah” yang artinya bergumam atau mengucapkan kata-kata dengan suara pelan tetapi secara berulang-ulang. Tentu kita tidak melakukannya seperti mengucapkan mantera. Ada suatu prinsip Alkitab tentang hubungan antara perkataan dan apa yang tersimpan di dalam hati. Amsal 18:8, “Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati.” Jadi perkataan itu menaruh sesuatu di dalam hati kita, baik perkataan yang negatif maupun perkataan yang positif. Hal inilah yang sekarang justru banyak terjadi, dan orang-orang lebih suka berbicara dalam group-group WA maupun media sosial lainnya mengenai kedahsyatan virus corona yang mematikan dibandingkan membicarakan kuasa janji Allah di dalam Kristus yang menyembuhkan dan menghidupkan.

Dengan memperkatakan Firman Allah, kita tidak sedang meremehkan virus yang mematikan itu. Sebaliknya kita sedang membesarkan Firman Allah di dalam pikiran dan hati kita yang membawa kepada kehidupan. Kita harus sadar betul bahwa proses meditasi atau hagah di atas adalah proses yang sangat familiar bagi setiap kita, karena setiap kita sudah melakukannya sehari-hari. Tetapi yang membedakan adalah substansi apa yang kita bicarakan di dalamnya, apakah membicarakan dahsyatnya virus kematian atau kuasa FirmanNya yang memberi kehidupan.

Proses memperkatakan berulang-ulang ini adalah perintah Allah juga di dalam Kitab Ulangan 6:7, yang intinya bukan karena Allah adalah pribadi yang sulit dimintai pertolongan sehingga kita harus membujuk Dia untuk menolong kita. Sebaliknya maksud perkataan yang berulang-ulang ini lebih kepada membujuk hati kita untuk menyimpan dan lebih mempercayai Firman Allah ketimbang fakta yang kita lihat. Terlebih lagi karena hati kita biasanya cenderung lebih mudah menyimpan hal-hal negatif yang ada di sekitar kita. Firman Allah adalah benih yang siap ditabur (Lukas 8:11), tetapi Firman Allah adalah juga Roh yang menghidupkan (Yohanes 6:63). Kalau kita merenungkan dengan cara mengucapkannya berulang-ulang, maka benih Firman yang adalah Roh itu akan mencabut, merobohkan dan membinasakan semua persepsi yang bukan berasal dari Allah sekaligus menanam dan membangun serta memberi kita kehidupan (Yeremia 1:9-10).  Oleh sebab itu, mari kita biasakan hidup dalam damai sejahtera dan dalam kesehatan yang sempurna bersama FirmanNya setiap hari. Amin.

 

* Penulis adalah Gembala Jemaat Cibubur City Blessing, Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here