Darwis Manalu Membangun Bangsa Lewat Semangat Wirausaha Mandiri

83
Darwis Manalu. Pengusaha tangguh dan nasionalis

Narwastu.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkali-kali menekankan pentingnya peran semua orang berkontribusi dalam membangu Indonesia. Tentu bentuk tindakan nyata dari usaha bela negara dan membangun bangsa pun dapat melalui berbagai cara dan berbagi bentuk tindakan yang nyata. Jelas peran itu tak sedikit diberikan oleh para entrepreneur, memilih membangun bisnis sendiri. Membangun bangsa dengan semangat wirausaha dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Salah satunya adalah T Darwis Manalu, pendiri Grup Darta, mantan tukang minyak keliling dan supir Metromini yang menjelma sebagai pengusaha nasional. Group bisnisnya kini menggurita, beroperasi di 37 kota besar. Sesungguhnya sejak usia muda Darwis sudah bercita-cita menjadi pengusaha pada usia 45 tahun. Untuk itu, sejak dia masih bekerja di perusahaan lain pada tahun 2000, Darwis sudah mempersiapkan relasi yang kuat demi menjalankan bisnisnya kelak.

Sudah tentu untuk mencapai itu tak lain oleh karena kerja keras dan konsistensi, daya juang Darwis yang menjadikan Grup Darta. Groupnya dimulai sejak 2003 tatkala mendirikan KDW Consulting, perusahaan konsultan pajak, bersama rekannya, yakni Kadek Sumadi dan Wen Lie. Kini unit usahanya berkembang pesat seiring pertumbuhan bisnis. Tahun 2015, dia mendirikan Grup Darta sebagai perusahaan induk yang menaungi 14 anak perusahaan. Darwis telah bermotamorfosis jadi pengusaha nasional, semua tentu karena ingin mewujudkan impiannya sebagai wirausahawan sebelum berumur 45 tahun. Sesungguhnya karier dari pria kelahiran Dolok Sanggul, Sumatera Utara pada 21 Juli 1961 ini adalah tenaga profesional di sejumlah perusahaan nasional dan multinasional. Sebut saja Bank Niaga di tahun1980-1985, dan perusahaan terakhir yang disinggahinya PT Cadbury Indonesia, perusahaan makanan dan minuman.

Masih jernih dalam ingatannya, selepas lulus SMP Santa Maria, Pakkat, Sumatera Utara, Darwis meninggalkan kampung halamannya untuk melanjutkan pendidikannya di SMEA 11, Jakarta Pusat. Mengapa ke Jakarta? Ikut dirumah keluarga. Namun sejak kecil tekadnya sudah membaja, Darwis ke Jakarta tak boleh menyusahkan orang lain. Oleh karena itu dia belajar tata buku dan perniagaan dengan sungguh-sungguh dan tetap aktif membantu pekerjaan rumah. Soal pendidikan di dua bidang itu dia menonojol, tak heran, saat itu dia pada semester I menjadi juara umum dan begitu pula semester berikutnya..

Di SMEA dia aktif belajar, di masa-masa itu dia menyadari hampir pindah iman, namun oleh karena bimbingan dari Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI). Saat itu dia dipercayakan menjadi ketua panitia Natal sekolah, tetapi dia justru belajar Agama Islam dan belajar Al Quran. Saat khotbah Natal sekolah itu, sebagai ketua panitia merasa bahwa pesan khotbah itu tertuju pada dirinya yang sedang gundah. Atas hal itu, setelah selesai ibadah dia meminta waktu khusus ingin berbincang soal iman pada mentor LPMI itu. Puji Tuhan dia dicerahkan, bahwa dia hampir terjatuh, dan sejak itu dia menetapkan diri untuk kembali pada Tuhan Yesus. Setelah merampungkan pendidikannya di SMEA 11, Darwis memburu pekerjaan. Pertama dia bekerja di CV Sardo pada 1980. Namun tak lama kemudian, dari sana hijrah ke Bank Niaga, kini Bank CIMB Niaga.

Darwis Manalu bersama keluarga.

Kariernya sebagai staf pembukuan di kantor Bank Niaga, Gajah Mada, Jakarta Barat. Ada kenangan yang paling berkesan di Bank Niaga, terjadi di tahun 1983 saat dirinya dipercaya oleh Robby Djohan, Direktur Operasional Bank Niaga, untuk menangani selisih yang berlarut larut tidak ditemukan pada saat menerapkan sistem online dan sistem jaringan kantor cabang perusahaan. “Saya berhasil menyelesaikan dan menemukan solusinya dan sejak saat itu dipercaya oleh Pak Robby,” katanya mengenang.

Berkat prestasinya, karier Darwis meroket hingga menjadi supervisor. Gajinya pun naik. Sudah terbiasa menghemat, maka penghasilannya yang lumayan itu disisihkan untuk membiayai kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Jayabaya, Jakarta. Tetapi itulah hidup, perubahan selalu dinamis berjalan, kadang ada situasi yang fluktuatif, kadang keadaan biasa-biasa saja. Tahun 1985, dia mengalami satu perkara, Darwis berhenti mendadak dari Bank Niaga. Sebenarnya alasannya amat sepele, oleh karena pimpinan menfitnahnya hanya karena selisih dalam penghitungan beberapa ribu rupiah saja. Tak mau direndahkan dia keluar, difitnah, akhirnya keluar.

Berbulan bulan dia harus menggangur, karenanya tak mau lama-lama menggangur dan untuk menyambung hidup, biaya hidup sehari-hari, Darwis melakoni profesi sebagai supir Metromini P-07 trayek Tanjung Priok-Senen. Tentu keadaan tak membuatnya terpuruk justru memacunya berpikir keras dan kreatif. Hingga kemudian di satu waktu dia melihat ada penjual minyak tanah. Darwis kemudian bertanya-tanya banyak hal kepada penjual minyak tanah. Darwis melihat peluang bisnis yang tak dilihat penjual minyak. Pendek cerita dia menjajal bisnis minyak tanah. “Awalnya saya menjual keliling dengan gerobak, Lama-lama kelamaan saya menjadi pengepul minyak tanah untuk mensuplai minyak tanah ke tukang keliling,” kenangnya. Setiap pekan dia berhasil melego minyak tanah sebanyak 9 ribu liter. Dia menekuni bisnis ini sambil melamar pekerjaan.

Singkat cerita, suami dari Rita boru Simanjuntak ini diterima di Kokusai Godo Denso pada 1986. Dari sana kemudian berkarier di Electrolux (1987-1991), Lotto Sport Wear (1991-1996), Cipta Prima Karya (1996-1997), Kia Keramik Indonesia (1997-1999), Cadbury (1999-2002), dan Dow Chemical (2002-2003). Namun dari rentetan reputasi bekerja di berbagai perusahaan itu, dan pengalaman berdagang dan membuat peternakan meneguhkannya untuk juga membuat usaha sendiri. Apalagi pengalaman dan relasi yang dibinanya selama menjadi tenaga profesional, jika dioptimalkan sudah tentu membuka banyak pelung usaha. Maka jadilah dirinya mendirikan usaha konsultan.

“Cadbury menjadi klien saya ketika hendak menutup pabriknya di Indonesia. Waktu itu prinsipil Cadbury Inggris memutuskan langkah efisiensi untuk menutup pabrik di Indonesia dan negara lainnya,” ujar alumnus pasca sarjana dari Universitas Prasetiya Mulya ini. Namun seiring perjalanan waktu, perusahaan Darwis beranak pinak sebanyak lima divisi bisnis yakni Darta Consulting, Darta Outsourcing, Darta Logistik, Darta Aero Teknik dan Darta Oil & Gas Service.

Darwis Manalu dan keluarga bahagia

Walau usaha ini sudah berkembang pesat, dia tak merasa sudah ada di zona nyaman. Darwis terus ingin mencari peluang-peluang baru untuk mengembangkan usaha ini. Termasuk usahanya di bisnis Darta Aero Teknik yang menyediakan jasa perawatan pesawat terbang ringan, ground handling, dan clearance. Selain sejumlah perusahaan tersebut, Darwis mengatakan, Darta Group melakukan ekspansi bisnis di bidang aero teknik yang diterus kelihatannya mengeliat. Perusahaan ini bergerak di sektor perawatan ringan pesawat, ground handling hingga cleareance. “Kami sudah membuat letter of intent dengan Air Asia yang akan menjadi klien perusahaan,” ujarnya.

Sejak tahun 2017, dia memproyeksikan Darta Aero Teknik bisa menggandeng enam maskapai penerbangan. Hidup tentu harus memberi kemamfaatan untuk kemaslahatan. Atas pengalaman hidup, dari anak desa bisa menjadi usahawan berhasil meneguhkan hati Darwis membagikannya lewat buku. Darwis dalam kisahnya bertajuk Akrobat Kehidupan Darwis pada akhir tahun lalu terbit. Dari seorang anak desa yang hidup penuh kekurangan, Darwis Manalu kini menjadi pendiri, pemilik, sekaligus pemimpin puncak Darta Corporation yang bisnisnya telah menggurita. Tentu semua kesuksesan itu tak didapatkannya begitu saja. Kisah hidupnya laksana akrobat yang penuh jatuh bangun dan tantangan.

Barangkali, melihat kesuksesannya, mungkin tak pernah ada yang menyangka betapa beratnya perjuangan seorang Darwis Manalu ketika di desa dan merantau ke Jakarta seorang diri. Tentu berkat tekad, ketekunan, dan kerja keraslah yang mampu mengantarkannya menuju gerbang kesuksesan. Siapa sangka, Darwis Manalu, adalah bekas sopir metromini. Dia juga sempat kerja menjadi pedagang minyak keliling saat masih muda.

Darwis berhasil meng-upgrade kariernya hingga berhasil jadi karyawan kantoran. Semua dilaluinya bukan dengan jalan instan, tetapi dari berbagai kesukaran ke kesukaran yang lain untuk sampai pada tahap yang lebih baik. Alih-alih dia tak berpuas diri, bukan berarti tak mensyukuri nikmat yang diterimanya. Pada satu titik ketika sudah dirasa punya cukup modal, Darwis resign dan memutuskan buat jadi pengusaha. Keputusan yang tepat, tentu aja.

Tentu semua kesuksesannya itu tak didapatkannya begitu saja. Kisah hidupnya laksana akrobat yang penuh jatuh bangun dan tatangan. Melihat kesuksesannya, mungkin tidak pernah ada yang menyangka betapa beratnya perjuangan seorang Darwis Manalu ketika di desa dan merantau ke Jakarta seorang diri. Dalam Akrobat Kehidupan Darwis, kita akan mengetahui bahwa tekad, ketekunan, dan kerja keraslah yang mampu mengantarkan seseorang menuju gerbang kesuksesan.

Darwis Manalu dan keluarga dalam sebuah liburan.

Darta Group, perusahaan di bidang konsultan, tenaga alih daya, teknik, manufaktur dan kedirgantaraan menargetkan pendapatan tumbuh 30 persen mencapai Rp 348 miliar dari realisasi pendapatan 2015 sebesar Rp 267 miliar. Darta outsourcing masih menjadi kontributor terbesar. “Secara value, perusahaan yang bergerak di sektor outsourcing masih menjadi pencetak pendapatan terbesar yakni di atas 50 persen dari total pendapatan,” ujar pendiri dan pemilik ini.

Dia mengatakan, Darta outsourcing memiliki tiga lini usaha yakni PT Global Maju Bersama, PT Global Mitra Bersama serta PT Global Media Bersama. Sementara pencetak pendapatan kedua terbesar. Darwis menambahkan, di sektor logistik yang memiliki tiga lini bisnis. Ketiganya adalah PT Skylight Multitrada, PT Darta Logistik Indonesia serta di segmen courier.

Adapun kontributor ketiga di bidang konsultan sekitar sepuluh persen. Darta consulting mencakup konsultan pajak, hukum hingga solusi TI dan manajemen. Sisanya perusahaan di bidang Darta Industril Services yang mengembangkan Tehnologi Polimer (Polintek) yang dibuat menjadi spare part kereta api dan oil & gas juga produk perawatan, proteksi dan penguatan metal dan beton hingga jasa Inspeksi. Untuk memperkuat lini usahanya, Darwis menempatkan ahli Polimer lulusan Jerman untuk mengembangkan bahan material spare part yang terbuat dari  Polimer. “Kita buat spare part sendiri, tahun ini ada empat macam spare part yang kita produksi,” ujar Darwis.

Selain sejumlah perusahaan tersebut, Darwis mengatakan, Darta Group melakukan ekspansi bisnis di bidang aero teknik yang diharapkan sudah berjalan awal tahun depan. Perusahaan ini bergerak di sektor perawatan ringan pesawat, ground handling hingga cleareance. “Kami sudah membuat letter of intent dengan Air Asia yang akan menjadi klien kami,” ujarnya. “Pada prinsipnya sebenarnya kita ingin berkarya. Apa yang bisa kita berikan bagi bangsa, tentu melalui bisnislah kita bisa memberikan sesuatu untuk  bangsa ini. Walau kita minoritas, kita ingin buktikan bagi bangsa ini.

Darwis Manalu dan keluarga dalam sebuah liburan.

Dia sadar benar bahwa perantau untuk merubah nasib oleh karena kehidupan di kampung sana sangat susah, satu-satunya mata pencaharian disana adalah bertani. Untuk buruh pun tak ada kesempatan di kampung kita. Darwis mengingat benar, ayahnya di masa mudanya adalah seorang sopir. Ayahnya Mangantar Manalu, Rosmina Sitohang, sejak kecil memang dia sudah beda. Sejak kecil sudah bertani dan mandiri.

“Saya sejak kecil sudah punya keinginan untuk mandiri. Sejak kelas 5 SD saya sudah pisah dengan orangtua. Jadi, saya terpisah dengan orangtua dengan punya kebun tersendiri. Sampai tamat SMP hal itu dilakoninya. Orangtuanya selain bertani memiliki kedai kopi.  Pikirannya waktu itu jika dia tinggal di kedai akan terikut-ikutan, paling banter hanya menjadi seorang sopir. Apalagi ayahnya bekas sopir. “Saya tak mau jadi parlompong atau anak pasaran.” Karenanya, selepas SMP dia sekolah ke Jakarta berhubung abangnya, anak kakak dari ayahnya mintanya juga ke Jakarta.

Menjadi konsultan

Ijazah tentu tak membuat seseorang bisa mumpuni, termasuk jika seorang jadi konsultan yang sukses, bukan karena sertifikasi yang dimiliki. Tentu yang mesti dimiliki adalah kemampuan personal, termasuk berkomunikasi yang baik dan memiliki karakteristik, integritas. Selain itu mampu melihat berbagai kemungkinan yang terjadi. Selain itu, pisau analisis SWOT-nya menjadi penting, termasuk riset sebagai bahan pengetahuan untuk memberi masukan kepada kliennya.

Keahlian itulah yang dimilki Darwis setelah berpuluh tahun bekerja di berbagai perusahaan dan menetapkan diri mulai dari konsultan. Berawal dari saat itu dia menjadi Direktur Keuangan di perusahaan tersebut sejak tahun 2003-2007. Sambil bekerja dia mengembangkan bisnis KDW Consulting. Darwis mengisahkan ketika memutuskan menjadi seorang pengusaha, dirinya sudah bermodalkan jaringan kerja yang kuat dan potensial untuk menjadi klien KDW. “Risiko mendirikan perusahaan konsultan pajak lebih rendah. Saya menjual pengalaman sebagai tenaga profesional di bidang keuangan,” ujarnya.

Dia memperkenalkan diri ke lien-klien potensial, lalu mempresentasikan jasa dan layanan yang ditawarkan KDW Consulting ke sejumlah perusahaan yang dulu sempat dikenalnya. “Klien yang pertama kali kami layani adalah perusahaan minyak dan gas dari Australia.” Darwis mampu menjaring klien lainnya, semisal Indosurya Securities.

Tahun 2004, KDW membuka cabang di Bali yang ditangani oleh Kadek Sumadi, sedangkan Darwis Manalu dan Wen Lie konsentrasi untuk pengembangan KDW Consulting di Jakarta. Selama mengembangkan KDW itu, Darwis pada 2006 mendirikan PT Global Maju Bersama (GMB) untuk menggarap jasa human resource management, general man power outsourcing, hingga rekrutmen karyawan. Perusahaan yang didirikan hanya mengutip manajemen fee dari klien. Jadi tak memotong gaji pegawai outsourcing.

Ini yang membedakan perusahannya dengan perusahaan outsourcing lainnya. Keraguan untuk menjadi konsultan pajak sempat menyelimuti pria asal Dolok Sanggul, Sumatera Utara ini. Awal tahun 2000-an ada anggapan masyarakat bahwa profesi konsultan pajak itu dikonotasikan negatif. Mengapa? Karena jika bicara soal pajak, kata Darwis, maka akan dianggap sama saja dengan membicarakan soal koruptor, baik itu orang pajaknya, konsultan pajaknya, ataupun bagian pajak dari suatu perusahaan.

Tak hanya mengembangkan usahanya, Darwis juga tak lupa untuk melayani bagi sesama. Baginya, hidup yang bermakna hidup yang melayani, bermaslahat bagi sesama. Oleh karenanya, di tengah-tengah tanggung jawabannya memimpin Darta Group, dia masih aktif melayani di gereja sebagai sintua, atau majelis di gereja HKBP Ciputat, Tengerang Selatan. Tak berhenti di sana, tanggung jawabnya untuk memimpin keluarga, sebagai suami dan sebagai ayah untuk ketiga anaknya. Dia sangat bersyukur ketiga anaknya kini sudah mentas, selesai kuliah dan bekerja mandiri. Ketiganya tak manja dan tak ingin hidup instan.

“Awalnya saya tak nyaman, apalagi waktu awal tahun 2000-an, saya sudah menjadi seorang majelis gereja, nanti apa kata orang,” kenang sintua di HKBP Ciputat ini. Namun tokh akhirnya dia tetap memutuskan untuk menjadi konsultan pajak karena bertekad ingin membuktikan jadi konsultan pajak yang baik dan benar. “Jangan mengikuti konsultan pajak yang tak baik, karena tak semua orang yang mengurusi atau konsultan pajak itu nggak benar, makanya kita punya prinsip bisnis Clean and Clear Services,” jelasnya.

Sebenarnya bisnis konsultan pajak dipilih lantaran sesuai dengan latarbelakang pendidikan dan pengalaman yang dimilikinya. Tatkala momennya tiba, tahun 2003, dia bersama kedua temannya, Kadek Sumadi dan Wen Lie mendirikan perusahaan konsultan pajak, KDW Consulting. “Bisnis konsultan pajak ini bisa saya manage sendiri, tak tergantung orang lain, dan tak butuh modal. Hanya networking dan nama baik,” jelasnya. Respons masyarakat terhadap bisnis yang dijalankan Darwis tersebut sangat baik.

Kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan layanan jasa konsultan pajak cukup tinggi. Dalam memenuhi layanan jasa ini Darwis pun kemudian mendirikan Darta Consulting pada 2009, yang salah satu sub unit bisnisnya adalah DME Consultant. “Saya berharap DME Consultant bisa semakin berkembang dan bisa bertambah banyak orang yang bekerja, serta punya kontribusi buat wajib pajak maupun negara,” ujarnya.

Sementara mengenai perkembangan perpajakan di Indonesia saat ini, menurutnya, sudah banyak kemajuan perpajakan di Indonesia. “Indikator kemajuan tersebut bisa dilihat dari peraturan dan perundangan-undangan perpajakan yang kian sempurna, karakter petugas pajak jadi lebih bagus, dan pengawasan yang lebih baik.” Bahkan, dia menambahkan, untuk menjadi konsultan pajak pun kini semakin tertib.

Oleh karenanya, dia menghimbau agar konsultan pajak bisa menjalankan fungsinya dengan baik dan benar. Dia mengibaratkan, sebelah kaki harus ada di pemerintah/negara dan sebelah kaki satunya berada di wajib pajak. Artinya, konsultan pajak harus berada di tengah-tengah atau berperan sebagai mediator, sehingga tujuan negara dan perusahaaan terpenuhi.

Konsultan pajak harus membantu pemerintah untuk mensosialisasikan peraturan-peraturan perpajakan kepada wajib pajak, dan membantu menyadarkan wajib pajak untuk membayar pajak. Dan, konsultan pajak juga harus membantu pengusaha agar membayar pajak sesuai dengan aturan.

Selain membuka kantor konsultan pajak, Darwis pun melihat peluang lain. Bahwa sebagai konsultan banyak melihat ada berbagai ruang yang bisa ditangani para penasihat hukum. Atas peluang itu dia mendirikan kantor Konsultan Hukum. Artinya, Darta Consulting menyediakan layanan jasa konsultan pajak jakarta untuk seluruh wilayah di Indonesia.

Mantan tukang minyak keliling ini mengaku bersyukur dengan apa yang sudah diraihnya, namun dia masih terobsesi membangun rumah sakit dan sekolah. Baginya, pentingnya rumah sakit adalah untuk meningkatkan pengembangan SDM yang berkesinambungan. Mengembangkan pelayanan rumah sakit seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan meningkatkan kualitas dan mempertahankan standar pelayanan untuk kesehatan. Darwis rindu ke depan punya rumah sakit. Kepada putrinya yang lulus dari Fakultas Kedokteran selalu berpesan, sebagai dokter harus bisa memilah-milah bisnis dan sosial di bidang kesehatan.

Menurutnya, ada bisnis yang bisa dijalankan orientasi bisnis, misalnya Rumah Sakit kecantikan. Sudah tentu, bicara kecantikan hanya bagi mereka yang punya uang. Sedangkan kesehatan yang mengurusi orang sakit, orientasinya sosial, utamanya mereka yang termarginalkan. Selalin itu, Darwis juga rindu memiliki lembaga pendidikan. Menurutnya, lembaga pendidikan merupakan lembaga yang memiliki dua fungsi manifest pendidikan yaitu; membantu seseorang agar mempunyai keahlian atau keterampilan yang diperlukan untuk hidup di masyarakat, dan membantu seseorang agar mampu mengembangkan potensi dirinya dan potensi masyarakat.

“Sebagian cita-cita saya sudah dikabulkan Tuhan, meskipun masih banyak yang belum terkabul. Semoga Tuhan memberikan kesempatan agar sisa usia saya bisa mewujudkan cita-cita saya yang lain. Rencana mendirikan rumah sakit dan sekolah itu nanti bisa menjadi CSR Darta Group, dengan demikian bisa membantu pemerintah dan dinikmati masyarakat. Tetapi Darta harus kokoh terlebih dulu, baru rencana itu bisa diwujudkan,” jelasnya.

Tentu reputasi pencapaian itu tak lepas dari dukungan keluarga. Itu sebabnya keluarga harus tetap dinomorsatukan, maka tak ada masalah waktu antara aktivitasnya dengan berkumpul bersama keluarga. Menurutnya, meskipun tak punya banyak waktu bersama keluarga, namun jika dipergunakan dengan baik maka akan sangat berarti. “Biasanya pada hari Minggu kami manfaatkan waktu untuk beribadah bersama keluarga dan setelah itu bisa digunakan untuk aktivitas lainnya,” jelasnya.

Teknologi polimer

Manusia sudah berabad-abad menggunakan polimer dalam bentuk minyak, aspal, damar, dan permen karet. Tapi industri polimer modern baru mulai berkembang pada masa revolusi industri. Di akhir 1830-an, Charles Goodyear berhasil memproduksi sebentuk karet alami yang berguna melalui proses yang dikenal sebagai “vulkanisasi”. Baru empatpuluh tahun kemudian, Celluloid, sebentuk plastik keras dari nitrocellulose, berhasil dikomersialisasikan. Adalah diperkenalkannya vinyl, neoprene, polystyrene, dan nilon pada tahun 1930-an yang memulai ‘ledakan’ dalam penelitian polimer yang masih berlangsung hingga kini.

Darwis selalu kreatif dan selalu melihat ke depan, sebagai pengusaha yang tak sekedar membangun usaha, tetapi menemukan produk usaha yang bisa digunakan banyak orang yaitu teknologi polimer, ini. Selama lima tahun terakhir, Team R & D Darta Group telah mengembangkan teknologi Polimer yang dikenal dengan merek Polimer Indonesia Teknologi (Polintek). Polintek merupakan hasil karya anak bangsa melalui Darta Group yang telah dipatenkan menjadi milik Darta. “Saya sudah berinvestasi banyak ke sana, terutama membuat kajian, reseach yang mendalam tentang polimer, tetapi demi bangsa saya ingin memberi yang terbaik” ujarnya.

Oleh perkembangan teknologi, Polintek Railway Synthetic Sleeper merupakan produk berbahan dasar polimer bisa digunakan sebagai bantalan rel kereta api. Dulu, polimer yang digunakan untuk membuat selang minyak atau oli. Pun dulu, material tradisional yang digunakan untuk bantalan jalan kereta api adalah kayu, beton, dan baja. Tetapi sekarang ada bantalan dari polimer. Jika bantalan ini dari polimer sebenarnya lebih kuat menahan beban. Bisa disebut bahannya dari plastik, nama golongan zat-zat polimer tinggi buatan. Diproduksi dari hasil pembuangan minyak. Selain Bantalan sintetis Polintek Darta juga membuat Kanvas Rem, lantai gerbong kereta api dan perlintasan sebidang dari Polintek. Kedepan Darwis rindu untuk mengembangkan, memproduksi produk polimer.

Bahkan sekarang, di antara produk Polintek ada yang berhubungan dengan penguatan bangunan agar lebih tahan gempa. Di samping itu, produk Polintek juga bisa berfungsi memperbaiki pondasi dan tembok-tembok yang retak akibat gempa. Memperbaiki, memproteksi dan menguatkan metal dan beton.  Darta Group telah menginvestasikan dananya di bidang R & D untuk menghasilkan produk-produk yang berkualitas tinggi dan unggul, serta sejajar dengan produk impor dari beberapa negara maju, seperti Amerika, Eropa, Jepang, dan Korea yang telah dibuktikan dengan hasil uji di lembaga independen bertaraf internasional. HM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here