Damai Sejahtera Demi Bangsa

16
Pada 2 Juli 2014 lalu Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos diundang sebagai pembicara tentang “Pilpres 2014 dan Sikap Warga Gereja” di Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Narwastu.id – Usai sudah Pilpres 2014, dan hasilnya Joko Widodo-Jusuf Kalla dari Koalisi Ramping terpilih sebagai pemimpin baru di negeri tercinta ini. Sedangkan pesaingnya yang juga putra terbaik bangsa, Prabowo Soebianto-Hatta Rajasa dari Koalisi Merah Putih bertekad mengawal pemerintah baru lewat parlemen. Kita sudah menyaksikan bahwa Pilpres 2014 lalu telah membelah masyarakat kita menjadi dua kubu. Ini pilpres paling seru dan menarik yang pernah terjadi di negeri ini, lantaran hanya diikuti dua pasangan capres.

“Pilpres 2014 bisa berjalan lancar, karena doa-doa yang dipanjatkan anak-anak Tuhan dan doa-doa yang dibangun keluarga serta gereja-gereja, sehingga Tuhan campur tangan di dalam perhelatan politik itu,” ujar salah satu motor Forum Pemimpin Gereja Indonesia, Brigjen TNI (Purn.) Drs. Harsanto Adi S., baru-baru ini dalam sebuah acara ibadah dan diskusi Merefleksikan 69 Tahun Kemerdekaan RI di Jakarta, baru-baru ini, dan saat itu penulis jadi moderator diskusi.

Pdt. Harsanto Adi menambahkan, Presiden RI yang baru, Joko Widodo dan timnya harus terus kita doakan, dukung dan kawal di dalam menjalankan pemerintahan. “Persoalan bangsa ini begitu banyak dan kompleks, sehingga perlu terus didoakan pemimpin bangsa kita yang baru,” terangnya. Jenderal purnawirawan bintang satu yang terakhir bekerja sebagai Asisten Deputi VII Menkopolhukam di Kementerian Polhukam RI itu menuturkan, “Saat ini banyak relawan yang mendukung Jokowi, itulah karena dukungan rakyat.”

“Kita harapkan pemimpin baru akan lebih baik, dan para pendukung Jokowi tidak ABS (asal bapak senang). Bukan berarti karena Presiden Indonesia baru, lalu jadi gampang mendirikan gereja. Kita harus terus berjuang, dan kita masih seperti domba di tengah serigala,” pungkasnya. Ketua panitia acara, Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M. juga menuturkan, ibadah ini dimaksudkan untuk mendoakan para Capres RI 2014 agar selalu diberikan Tuhan kesehatan, hikmat dan hati yang terpanggil untuk terus memimpin bangsa ini ke depan. “Pak Prabowo Soebianto dan Pak Hatta Rajasa sebagai putra terbaik bangsa, kita doakan juga agar selalu sehat dan mau terus membangun bangsa ini,” tukas Lukas.

Sedangkan Ketua DPP PDIP, Maruarar Sirait, seperti dikutip Suara Pembaruan menuturkan, segala bentuk persaingan yang ter­jadi selama pilpres sudah sepatutnya diakhiri. “Persa­tuan harus dipelopori anak-anak muda. Silaturahmi ini jadi sebuah bukti, walau berbeda-beda partai saat pemilu, kami bisa bersatu demi bangsa dan rakyat Indonesia,” ujarnya dalam sebuah acara tokoh pemuda lintas partai, baru-baru ini. Ia mengajak semua pihak menyikapi hasil pilpres yang telah dikuatkan oleh putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dengan bijak.

Bima Arya, salah satu Ketua DPP PAN mengemukakan, Pilpres 2014 telah menimbulkan perpecahan luar biasa di antara komponen masyarakat. “Bangsa ini belum pernah begitu tajam terpecah dan terbelah. Banyak teman yang mendadak jadi menjauh, karena beda pilihan selama pilpres,” ujarnya. Juga Ketua DPP Partai Golkar, Priyo Budi Santoso berpendapat, rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo adalah sebuah keniscayaan. Hal ini diperlukan agar persatuan bangsa dapat tetap terjalin pascapilpres, mengingat keduanya merupakan sosok sentral dua kubu yang bersaing.

“Rekonsiliasi tentu saja bergantung kesediaan tokoh-tokoh tersebut. Tapi, saya sangat menganjurkan hal itu (rekonsiliasi) demi persatuan dan kesatuan bangsa, sekaligus konsolidasi untuk bersama-sama membangun bangsa ini ke depan,” ujar Wakil Ketua DPR ini. Tak hanya itu, sejumlah tokoh lintas agama menyerukan pentingnya rekonsiliasi antara dua capres tersebut. Para tokoh agama melihat, tahap kampanye pilpres dan penyikapan atas hasil pilpres telah membuat bangsa Indonesia terbelah. Dikhawatirkan, jika kedua capres tidak bertemu, polarisasi antarkubu belum terselesaikan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, sebelumnya juga mendorong agar terwujud rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo. Hal itu mengingat ekses proses pilpres, terutama saat kampanye yang lalu, menimbulkan polarisasi yang tajam di masyarakat. “Rekonsiliasi mutlak perlu. Itu untuk merajut kembali silaturahmi persoalan kebangsaan, Apalagi pilpres kemarin membelahkan rakyat. Tidak hanya rakyat dan politisi, ulama pun terbelah,” ujar Din.

Tentu harapan dan ajakan dari para elite politik dan tokoh bangsa yang masih berpikiran jernih itu patut diperhatikan oleh kedua kubu yang bertarung di Pilpres 2014 lalu. Ini tentu demi kebaikan bersama dan demi kedamaian bangsa ini. Seperti ditulis di Kitab Mazmur 133 ayat 1-3 (Persaudaraan yang rukun), sungguh alangkah baiknya dan indahnya apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun…Sebab ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. Kita pun berdoa dan berharap agar di era pemerintah baru ini, Indonesia semakin rukun dan damai, sehingga Tuhan pun memerintahkan berkat-berkatNya untuk bangsa ini, amin. Jonro I. Munthe, S.Sos.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here