PGI dan MPK Indonesia Sikapi Tantangan Pendidikan Kristen di Indonesia

6
PGI dan MPK Indonesia memikirkan masa depan pendidikan warga gereja di Indonesia.

Narwastu.id – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Indonesia menggelar Round Table Discussion di Hotel Trembesi, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, pada Senin sampai Selasa (11–12 Agustus 2026).

Pertemuan yang menjadi ruang bersama untuk membaca berbagai tantangan pendidikan Kristen sekaligus merumuskan langkah strategis bagi transformasi pendidikan Kristen di Indonesia ini, diikuti sekitar 90 peserta dari 20 sinode di berbagai wilayah Indonesia ini mempertemukan pimpinan sinode, gereja, yayasan pendidikan, serta pengelola sekolah Kristen. Penyelenggaraan forum ini dilatarbelakangi oleh berbagai persoalan yang semakin kompleks dalam dunia pendidikan Kristen. Saat membuka acara, Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, M.A. dalam sambutannya mengajak gereja-gereja di Indonesia untuk tidak berhenti pada diskusi mengenai krisis pendidikan Kristen, tetapi mulai membangun agenda bersama yang konkret dan berdampak.

Karena itu, lanjutnya, persoalan yang dihadapi sekolah-sekolah Kristen tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan teknis atau administratif lembaga pendidikan. “Sekolah bukan sekadar unit administratif di bawah yayasan. Sekolah adalah perpanjangan tangan panggilan gereja untuk membentuk manusia yang beriman, berkarakter, berdaya, dan mampu menghadirkan transformasi di tengah masyarakat,” ujar Pdt. Jacklevyn.

Ia menegaskan, ketika sekolah Kristen mengalami krisis, gereja perlu melihat persoalan tersebut sebagai bagian dari tantangan terhadap visi dan misi pelayanan pendidikan gereja. “Karena itu, ketika sekolah Kristen mengalami krisis, sesungguhnya yang sedang kita hadapi adalah krisis gereja, krisis visi, dan krisis misi pelayanan pendidikan,” lanjutnya. Menurutnya, gereja perlu membaca perubahan zaman secara kritis dan memahami dampaknya terhadap pendidikan. Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, tekanan ekonomi, penurunan jumlah peserta didik, hingga krisis guru merupakan sejumlah tantangan yang membutuhkan respons bersama.

“Kita hidup di tengah berbagai tantangan besar, mulai dari disrupsi teknologi dan kecerdasan artifisial, tekanan ekonomi, menurunnya jumlah siswa, hingga krisis guru yang semakin mendesak. Semua ini menuntut gereja dan lembaga pendidikan untuk bekerja sama lebih erat dalam mencari solusi yang berkelanjutan,” katanya. Karena itu, ia mengingatkan agar forum tersebut tidak berhenti sebagai ruang pertukaran gagasan dan menghasilkan rekomendasi semata. Menurutnya, keberhasilan pertemuan harus diukur dari kemampuan para pemangku kepentingan untuk menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata. “Saya mengajak kita melampaui retorika dan mulai merumuskan agenda aksi yang nyata. Ukuran keberhasilan forum ini bukanlah banyaknya rekomendasi yang dihasilkan, melainkan sejauh mana kita mampu mengimplementasikan langkah-langkah yang berdampak bagi masa depan pendidikan Kristen,” tegasnya.

Salah satu kunci yang ditekankan Pdt. Jacklevyn adalah penguatan jejaring lintas sinode dan yayasan pendidikan. Menurutnya, setiap gereja dan lembaga pendidikan memiliki pengalaman, sumber daya, serta praktik baik yang dapat dibagikan dan dikembangkan bersama. “Kita perlu membangun jaringan lintas sinode dan yayasan pendidikan agar pengalaman, sumber daya, dan karunia yang dimiliki masing-masing dapat saling menopang. Ketika kita membuka diri untuk belajar satu sama lain, kita akan menemukan bahwa Tuhan telah menempatkan kekayaan pengalaman yang dapat mengangkat kita bersama,” ujarnya.

Ia berharap forum tersebut menjadi momentum untuk menyatukan panggilan gereja dalam mempersiapkan generasi masa depan. “Mari jadikan forum ini bukan sekadar ruang pertukaran gagasan, melainkan ruang untuk menyatukan panggilan Kristus dalam mempersiapkan generasi masa depan. Dengan hati yang terbuka dan kerendahan hati untuk saling belajar, saya percaya Tuhan akan menuntun kita merumuskan langkah-langkah yang membawa perubahan nyata,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum MPK Indonesia, Handi Irawan, menyampaikan pandangan senada. Menurutnya, berbagai tantangan yang dihadapi sekolah-sekolah Kristen saat ini tidak mungkin diselesaikan oleh satu lembaga secara sendiri-sendiri. Karena itu, kolaborasi di seluruh ekosistem pendidikan Kristen menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.

“Kolaborasi yang telah kita bangun bersama selama beberapa tahun terakhir harus terus diperkuat. Tantangan yang kita hadapi hari ini tidak cukup dijawab dengan diskusi semata, tetapi membutuhkan solusi yang nyata, yang lahir dari kreativitas, inovasi, dan kerja sama yang baik,” ujar Handi. Ia berharap Round Table Discussion MPK-PGI 2026 dapat menghasilkan gagasan yang solutif dan dapat memberikan dampak nyata, baik bagi gereja maupun masyarakat. Pertemuan ini dirancang sebagai bagian dari proses transformasi pendidikan Kristen yang dimulai dari kesadaran bersama mengenai kondisi dan tantangan pendidikan saat ini. Proses tersebut kemudian diarahkan pada perumusan visi tentang sekolah Kristen yang sejati, sekaligus pengembangan langkah-langkah transformasi melalui praktik-praktik baik, penguatan jejaring, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Melalui Round Table Discussion 2026, MPK Indonesia dan PGI mendorong lahirnya gerakan bersama untuk memperkuat kembali pendidikan Kristen sebagai bagian dari kesaksian dan pelayanan gereja. Transformasi sekolah Kristen diharapkan tidak hanya menjawab persoalan internal lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi kontribusi nyata gereja dalam mempersiapkan generasi yang beriman, berkarakter, berdaya, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Dengan demikian, pendidikan Kristen tidak hanya dipertahankan sebagai warisan pelayanan gereja, tetapi terus diperbarui agar mampu menjawab kebutuhan zaman dan menghadirkan terang Kristus bagi gereja, masyarakat, dan bangsa. KG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here