Narwastu.id – Gereja Tuhan di Indonesia (GTDI) Jemaat Kristus Pengharapan Hidup yang berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, merupakan salah satu komunitas umat Kristen yang terus bertumbuh melalui semangat pelayanan, kebersamaan jemaat, serta ketekunan dalam menghadapi berbagai tantangan pelayanan. Perjalanan gereja ini tidak terlepas dari perjuangan para pelayan Tuhan dan jemaat yang memiliki kerinduan untuk menghadirkan terang dan pengharapan bagi masyarakat sekitar. Terpanggil untuk menyuarakan Injil, GTDI yang bertahan dengan segala kekurangannya baik sarana dan prasarana tetap memuliakan Tuhan. Sedikit atau banyaknya jemaat tidak membuat kendor semangat pelayan untuk melayani dan memprioritaskan pelayanan kepada seluruh jemaat yang datang beribadah dengan kebersamaan.
GTDI berdiri sejak tahun 2010 dan sekarang gembala jemaat, Pdt. John Reinhard Sihombing, S.H. Dan jemaat yang beribadah kurang lebih 15 anggota kepala keluarga atau jumlah jemaatnya 40 orang. Jemaat datang dari yang belum lahir baru, jemaat yang baru kenal Yesus dari non-Kristiani, bahkan jemaat yang baru keluar dari lembaga pemasyarakatan.
Pelayanan yang diberikan Pdt. Reinhard tidak pernah putus membuka ruang ibadah ini kepada masyarakat sekitar, walaupun tempatnya sempit. Namun pelayanan yang diberikan selalu berkesan dengan ketulusan dan sukacita saat menyambut jemaat. Sejak awal berdirinya, GTDI Jemaat Kristus Pengharapan Hidup berupaya membangun komunitas iman yang kuat, bukan hanya melalui ibadah rutin, tetapi juga melalui kegiatan pembinaan rohani, pelayanan sosial, dan penguatan kehidupan keluarga Kristen. Gereja ini menjadi tempat bertumbuhnya iman bagi berbagai kalangan jemaat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.
Perjuangan gereja ini juga terlihat dari komitmen dalam menjawab tantangan zaman. Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi, jemaat terus berupaya menyesuaikan metode pelayanan agar tetap relevan, termasuk melalui pemanfaatan media digital dalam penyampaian firman dan penguatan komunikasi antarjemaat.
Selain itu, semangat pelayanan di GTDI Jemaat Kristus Pengharapan Hidup juga tercermin dalam kepedulian terhadap masyarakat sekitar. Gereja tidak hanya berfokus pada kegiatan internal, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial, seperti memberikan dukungan moral, doa, serta bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Pdt. Reinhard menyampaikan dalam tema pelayanannya ”Menjadi Pelaku Firman Tuhan Yesus, bukan hanya pendengar di sepanjang Tahun Baru 2026 ini. Tuhan Yesus pasti tolong dan adakan mujizat.” Dan salah satu ayat khotbahnya dari Yakobus 1:19-27, mengajarkan bahwa iman yang benar bukan hanya soal mendengar firman Tuhan, tetapi mewujudkannya dalam tindakan nyata, pengendalian diri, dan kepedulian kepada sesama. Hikmat dari renungan tersebut menyampaikan pesan penting bagi orang percaya tentang sikap dalam mendengarkan firman Tuhan serta menjalani kehidupan yang benar.
Dalam bagian ini, Rasul Yakobus mengingatkan setiap orang untuk memiliki kebijaksanaan dalam berhubungan dengan sesama. Ia menekankan agar manusia lebih cepat untuk mendengar, namun tidak terburu-buru dalam berbicara dan tidak mudah dikuasai oleh amarah. Hal ini dikarenakan kemarahan manusia tidak membawa seseorang kepada kebenaran di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu, setiap orang diajak untuk mampu mengendalikan diri, menjaga tutur kata, serta menunjukkan sikap hidup yang mencerminkan nilai-nilai kebenaran dalam keseharian.
Selanjutnya, Yakobus menekankan pentingnya meninggalkan segala bentuk kejahatan dan kenajisan dalam kehidupan sehari-hari. Orang percaya diajak untuk menerima firman Tuhan dengan sikap hati yang lembut serta kerendahan hati. Firman Tuhan yang tertanam di dalam hati memiliki kuasa untuk membimbing dan menyelamatkan kehidupan manusia. Namun demikian, Yakobus juga mengingatkan hanya dengan mendengarkan firman Tuhan saja tidaklah cukup. Setiap orang dipanggil untuk menjadi pelaku firman, bukan sekadar pendengar. Ia menggambarkan, orang yang hanya mendengar firman tetapi tidak melaksanakannya ibarat seseorang yang melihat wajahnya di cermin, lalu pergi dan dengan cepat melupakan rupa dirinya.
Sebaliknya, mereka yang dengan sungguh-sungguh memperhatikan serta menjalankan firman Tuhan akan hidup dalam kebenaran dan menerima berkat dalam setiap langkah kehidupannya. Pada bagian penutup, Yakobus menjelaskan arti ibadah yang sejati di hadapan Tuhan. Ibadah yang benar tidak hanya terlihat melalui aktivitas keagamaan, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Orang yang hidup dalam ibadah yang benar akan mampu mengendalikan perkataannya, menunjukkan kepedulian kepada sesama yang membutuhkan seperti anak yatim dan para janda, serta menjaga dirinya agar tidak terpengaruh oleh hal-hal duniawi yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Dengan semangat iman dan kebersamaan, GTDI Jemaat Kristus Pengharapan Hidup Rawamangun terus melangkah dalam panggilan pelayanannya. Perjuangan ini menjadi bukti bahwa gereja bukan hanya sebuah bangunan, tetapi sebuah komunitas yang hidup, yang dipersatukan oleh kasih, iman, dan harapan untuk menjadi berkat bagi banyak orang. (Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom.).

























