YIBS Gelar Sosialisasi dan Diskusi Terkait Program MBG

15
Acara diskusi yang digelar Yayasan Indonesia Berdoa Sinergi (YIBS) di Graha Bethel, Jakarta, yang membahas tentang Makan Bergizi Gratis (MBG) di Graha Bethel, Jakarta Pusat

Narwastu.id – Yayasan Indonesia Berdoa Sinergi (YIBS) menggelar kegiatan sosialisasi dan diskusi mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Graha Bethel, Jakarta Pusat, pada Senin, 29 September 2025. Sekitar 150 orang peserta yang mewakili pimpinan gereja, para pendeta, aktifis Kristen serta sejumlah awak media hadir di acara itu.

Kegiatan ini menghadirkan dua agenda strategis, pertama, sosialisasi Program MBG, serta peluang menjadi pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur Sehat MBG, yang dipaparkan oleh Tigor Pangaribuan dari Badan Gizi Nasional. Menurutnya, menjelaskan perspektif dan situasi pengelolaan serta pelaksanaan program.

Kedua, sharing mengenai latar belakang dan tujuan MBG yang disampaikan oleh Martin Hutabarat, S.H., Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR-RI. Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Darmawan, M.Th dalam sambutannya menegaskan, MBG merupakan langkah progresif untuk menjawab tantangan gizi nasional, khususnya dalam menekan angka stunting yang masih tinggi di Indonesia.  “Data mencatat, prevalensi stunting di tanah air mencapai 21,5% pada 2022. Selain memberi dampak kesehatan, MBG juga bisa menghadirkan manfaat sosial-ekonomi, seperti pemberdayaan petani lokal, pengembangan UMKM, serta memperkuat rantai pasok pangan sehat melalui kerja sama dengan koperasi,” ujarnya.

Meski demikian, ujar Pdt. Darwin Darmawan, PGI mengingatkan sejumlah tantangan serius, antara lain estimasi biaya program yang sangat besar mencapai Rp 255 triliun per tahun dari APBN 2026, risiko tumpang tindih dengan program sosial lain, potensi salah sasaran, hingga ketiadaan mekanisme uji coba nasional. Belum adanya protokol standar dan tingginya potensi kecurangan dalam pengadaan serta distribusi makanan juga menjadi perhatian.

Menurutnya, tanpa desain yang hati-hati, MBG bisa berubah dari program mulia menjadi proyek besar yang tidak efisien dan membebani negara.

Pada kesempatan itu, PGI memberikan sejumlah rekomendasi agar MBG berjalan efektif, antara lain fokus pada balita, ibu hamil, dan wilayah dengan angka stunting tinggi, melaksanakan pilot project sebelum penerapan nasional dan menggunakan data puskesmas sebagai basis pendataan.

Selain itu, memastikan transparansi anggaran, melibatkan pemasok lokal; serta mengintegrasikan program dengan sektor pendidikan dan bantuan sosial. PGI menegaskan, MBG adalah gagasan yang relevan dan visioner, tetapi pelaksanaannya harus bertahap, berbasis data, dan realistis. LH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here