Narwastu.id – Pemikiran secara logika dan kemanusiaan biasanya bertuliskan narasi; hidup berjalan sesuai rotasi waktu. Ketika masa yang berlaku secara alami itu berakhir, maka berhentilah kehidupan itu sendiri. Hal ini berarti seluruh aktivitas terhenti, nafas pun tak berhembus lagi dan kalimat yang berbunyi dari tanah kembali kepada tanah, telah menjadi semacam peringatan bahwa hidup harus dilakoni seturut kehendakNya, mengikuti perintah dan aturannya, hidup baru sesuai firman yang telah tertulis di dalam Alkitab.
Memasuki Paskah, kita kembali diingatkan untuk mengenang kembali penderitaan Yesus Kristus yang mati di kayu salib, lalu bangkit kembali pada hari yang ketiga. Hal ini bukan menjadi sebuah ritual yang merupakan sebuah keharusan secara mutlak, namun pemahaman tentang Paskah itu sendiri selayaknya menjadi semacam panduan sebagai manusia Kristen untuk melangkah dan meniti kehidupannya berdasarkan iman dan percaya kepada Yesus Kristus Sang Raja, Putra Tunggal Allah Bapa Maha Kuasa.
Paskah sendiri berasal dari Bahasa Latin Pascha, Bahasa Yunaninya Paskha, Bahasa Aram Pasha dan Bahasa Ibraninya Pesah yang artinya melewatkan dan menyelamatkankan. Paskah merupakan perayaan terpenting dalam liturgi gerejawi Kristen. Bagi umat Kristen, Paskah sangat identik dengan Yesus yang oleh Paulus disebut sebagai Anak Domba Paskah.
Paskah yang merupakan perayaan kebangkitan Yesus Kristus pada hari ketiga setelah disalib, telah menjadi salah satu peristiwa paling sakral dalam hidup Yesus Kristus itu sendiri. Seperti yang sudah diketahui, di Kitab Injil, Perjanjian Lama, Paskah diambil dari bahasa Ibrani, yakni Pesah, berasal dari kata kerja yang artinya “melewatkan” dengan makna “menyelamatkan.” Umat Kristen merayakan hari kebangkitan ini setiap tahun pada Minggu pertama setelah bulan purnama sesudah titik balik musim semi. Paskah merupakan perayaan tertua di dalam gereja Kristen yang berhubungan erat dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Paskah yang juga merupakan perayaan kebangkitan Yesus Kristus pada hari ketiga setelah Ia disalib, telah menjadi salah satu peristiwa sakral bagi kehidupan ke-Kristen-an bagi para pengikutnya.

Peringatan ini bukan hanya sekadar rutinitas yang memang sudah sepatutnya demikian, namun ada makna khusus yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa hidup tidak semudah seperti yang kita bayangkan, semudah membalikkan telapak tangan, ada salib yang harus kita pikul dari hari lepas hari, di sana ada perjuangan, kreativitas, usaha, penderitaan, serta pertumbuhan iman yang terus-menerus serta tidak tergoyahkan oleh godaan duniawi dalam berbagai bentuk baik itu kebendaan juga terkikisnya iman atas ragam paham yang menggoyahkan rasa percaya kepada Kristus yang bisa terjadi dengan melunturnya iman percaya yang berbaur dengan logika, pemutarbalikan fakta serta ragam masukan berdasarkan kemasan yang mengatasnamakan intelektual agamawi serta paham dan pendapat para penghujat ke Kristenan itu sendiri.
Krisis kepercayaan kepada Dia Sang Juruselamat, menjadi sasaran ampuh untuk menarik jiwa-jiwa yang lemah masuk ke dalam perangkap yang mengusung ragam paham dari ragam kepercayaan dengan berbagai iming-iming kenikmatan duniawi. Kesadaran dan rasa empati yang mendalam pada penderitaan Kristus di dalam wujud kemanusiaannya, sudah selayaknya menjadi panduan di dalam mengambil sebuah keputusan yang bersumber dari benak hingga merambah ke perilaku dan relung jiwa sisi kemanusiaan seseorang.
Salah satu ayat Alkitab yang paling banyak dikutip berkaitan dengan Paskah adalah Yohanes 3:16 yang bertuliskan demikian, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Ayat ini bagi umat Kristiani tidak bisa ditafsirkan secara sederhana saja, namun mengandung makna yang dalam apabila dilihat dari konteks teologisnya. Pemahaman tentang kasih Allah yang begitu besar kepada umat manusia sehingga Ia mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal, mencerminkan bahwa Allah dengan segala kekuasaannya amat paham akan keberadaan manusia ke depannya, terlebih lagi memasuki abad modern dengan kecanggihan teknologi dan keberadaan media sosial yang mampu mengubah mindset manusia terhadap rasa percaya mereka kepada Tuhan dalam hal ini Yesus Kristus. Meski demikian, jika iman percaya itu berada di pondasi yang kokoh, tidak timbul tenggelam dan terbuai oleh kenikmatan duniawi yang erat kaitannya dengan euphoria materialisme serta pujian yang menggoyahkan iman, maka terang Yesus akan selalu bersinar, menyertai hingga Dia datang untuk kedua kalinya.
Paskah juga menjadi momentum perenungan bagi masing-masing kita untuk selalu waspada terhadap godaan kedagingan yang selalu didengungkan oleh iblis penggoda ke setiap mereka yang lemah imannya. Semuanya itu kembali ke diri sendiri, jangan sampai kelak tangis dan kertak gigi menyertai rasa sesal yang tak terobati. Sebab, bila masanya tiba, Tuhan Yesus akan bersama kita di kehidupan yang kekal selama-lamanya. Injil tidak berpusat pada diri kita saja dan apa yang akan kita dapatkan dari Tuhan, namun Injil berpusat pada Tuhan Yesus Kristus, di sana kasih dan kemuliaan serta tujuan kekal Allah yang menjadi pusat perhatian serta menemukan arti sesungguhnya dari makna sukacita sejati di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, selalu menyertai setiap proses kehidupan umat yang percaya kepada-Nya secara total.
Segala ciptaan di bumi menjadi ada karena Tuhan dan untuk Tuhan (Roma 11:36), Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir (Wahyu 22:13) dan pada akhirnya Kristus akan memerintah atas seluruh ciptaanNya. “Supaya Allah menjadi semua di dalam semua (1 Korintus 15:25-28).” Begitulah Paskah, dunia diciptakan agar Kristus dapat lahir dan menyelamatkan umat yang percaya padaNya.
* Penulis Fanny J. Poyk adalah esais, cerpenis, novelis, jurnalis, pelatih kepenulisan khususnya sastra.


























