Iman yang Menyelamatkan

* Oleh: Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom

59
Kasus bunuh diri yang merasa kehilangan pengharapan atas masa depan

Narwastu.id – Dahsyat…Semakin bertambah tahun bukan semakin bertumbuh dan semakin kuat dalam iman. Kenapa manusia terkadang cepat mengambil keputusan dan terkadang tidak berpikir panjang.  Tuhan menciptakan manusia dengan ragam talenta yang diberikan, begitu juga Tuhan sudah memberikan nafas kehidupan di awal tahun. Tetapi manusia tidak menikmati fasilitas yang diberikan Sang Pencipta kepada kita.

Mengucap syukur dan berdoalah senantiasa dalam segala kekhawatiran kita. Tuhan selalu ada untuk kita dan memenuhi apa yang kita butuhkan. Percayakan dalam imanmu. Awal tahun 2024 ini di bulan ketiga (Maret 2024) masyarakat dikagetkan dengan peristiwa bunuh diri seluruh keluarga yang menjadi korban.

Masih ada orangtua yang mengorbankan masa depan anak-anaknya. Hanya karena masalah ekonomi atau hal lainnya. Tuhan peduli atas kekhawatiran kita, Tuhan memenuhi kebutuhan kita. Mana iman kita? Anak-anak adalah titipan orangtua yang harusnya dipelihara, dijaga dan dibimbing, tapi saat ini kenyataannya orangtua gagal memberikan pembekalan, bahkan pada diri orangtua sendiri tidak ada suplemen rohani yang bisa menguatkannya. Beginikah kita harus melewati stres? Stres merupakan perasaan yang umumnya dapat kita rasakan saat berada di bawah tekanan, merasa kewalahan, atau kesulitan menghadapi suatu situasi. Hindari stres dengan kreatifitas kita, maka ada yang dikatakan seimbangkan kecerdasan InteIektual (IQ), kecerdasan Emosional (EQ) dan kecerdasan Spiritual  (SQ) kita.

       Sudahkah kita di zona yang nyaman dalam  menjalani hidup? Semua kecerdasan harus kita imbangi. Antisipasi di saat kita merasa pincang dengan kecerdasan tersebut. Manusia merasa selalu khawatir tentang hidupnya, masa depannya dan ini sering dialami orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak. Kekhawatiran ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari persoalan ekonomi, pendidikan, keluarga, kesehatan, karier dan lainnya. Dapatkah kita mengambil makna hidup? Hidup yang memiliki  kekuatan, pengharapan, dan pertolongan agar umat dapat menghadapi badai hidup.

Ada masa di mana iman sudah terasa lelah. Permasalahan seperti hilang pekerjaan, tutup usaha dan mengalami kebangkrutan, termasuk seperti tragedi satu keluarga bunuh diri di Penjaringan, Tanjung Priuk, Jakarta Utara.

Kita pasti bertanya, apakah Sang Pencipta membiarkan kita dan apakah Dia rela melihat kita hidup dalam keterpurukan. Jawabnya tidak. Tuhan selalu memberi jawaban terbaik.  Tapi tidak juga manusia memperoleh jawaban kilat dan langsung menikmati. Hidup berproses, hidup yang beriman karena iman yang menyelamatkan manusia. Bagaimana hendaknya kita mengikuti dengan iman yang teguh dalam kesulitan apapun. Seperti dari kisah Ayub di kitab Ayub 1:1, kondisi Ayub yang telah diuji berkali-kali membuktikan kesetiaannya, hingga akhir bahkan ketika ia harus kehilangan seluruh yang ia miliki, harta benda dan anak-anaknya.

Dalam kondisi tersebut ia jatuh sakit dan telah dijauhi seluruh orang, namun Ayub tetap memuji kebaikan Tuhan, hingga Tuhan menunjukkan kasihNya pada Ayub dengan membangkitkan dirinya dari berbagai pencobaan. Bisakah kita seperti Ayub yang setia dan selalu mengandalkan Tuhan di setiap kesesakannya. Setiap peristiwa yang kita baca dan tonton di media biarlah itu menjadi catatan yang tidak perlu dicontoh, seperti tragedi satu keluarga bunuh diri itu. Tetapi akan menjadi refleksi bagi kita untuk membenahi keluarga kita dengan iman yang kuat terutama ajaran-ajaran yang baik.

 

* Penulis adalah pemerhati lingkungan dan sosial, praktisi komunikasi dan pendidikan, serta dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here