Said Damanik, S.H., M.H. Termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan NARWASTU”

20
Said Damanik, S.H., M.H. Menentang hukum rimba.

Narwastu.id – Syalom, pembaca NARWASTU yang terkasih. Sepanjang tahun 2013 ini, ada banyak peristiwa mengejutkan plus menarik kita saksikan dalam perjalanan bangsa ini. Baik itu di bidang sosial, politik, hukum, HAM, kemasyarakatan, ekonomi, budaya dan pendidikan yang patut dicermati dan direkam. Berbarengan dengan itulah muncul sejumlah figur pejuang (Baca: tokoh) yang bersentuhan dengan peristiwa itu, termasuk figur-figur dari kalangan Kristen atau Katolik. Atas dasar itulah, seperti tahun-tahun lalu, pada akhir 2013 ini, Majalah NARWASTU yang kita cintai ini kembali menampilkan tokoh-tokoh Kristiani “pembuat berita” (news maker).

Seperti tahun-tahun lalu, ada tiga kriteria yang dibuat tim redaksi NARWASTU untuk memilih seseorang yang disebut tokoh pembuat berita. Pertama, si tokoh mesti populer dalam arti yang positif di bidangnya. Kedua, si tokoh mesti peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan nasionalis (Pancasilais). Ketiga, si tokoh kerap jadi perbincangan dan muncul di media massa (terutama di NARWASTU), baik karena pemikiran-pemikirannya yang inovatif, aktivitasnya atau ide-idenya kontroversial. Alhasil, si tokoh adalah figur inspirator dan motivator di tengah jemaat atau masyarakat.

Tentu, bagi tim NARWASTU, tak mudah untuk memilih seseorang agar menjadi “tokoh Kristiani”. Soalnya, kiprahnya harus kami ikuti pula lewat media massa, khususnya media Kristen, termasuk mencermati aktivitas dan track record-nya. Pada akhir 2013 ini, kami pilih lagi “21 Tokoh Kristiani Pembuat Berita Sepanjang 2013.” Figur yang dipilih ini, seperti tahun lalu, ada berlatarbelakang advokat, politisi, jenderal, tokoh lintas agama, pengusaha, aktivis HAM, pemimpin gereja, aktivis gereja, pimpinan ormas, dan aktivis LSM.

Setelah diseleksi tim NARWASTU secara ketat dari 115 nama yang terkumpul, berikut kami tampilkan 21 tokoh, yakni Laksda TNI (Purn.) Christina M. Rantetana, MPH (mantan Staf Ahli Menkopolhukam), Mayjen TNI (Purn.) Darpito Pudyastungkoro, S.IP (mantan Pangdam Jaya), Marsma TNI (Purn.) Ibnu Kadarmanto, M.Si (mantan Direktur Bidang Kerjasama Luar Negeri BAKIN), Pdt. Dr. Dewi Sri Sinaga (HKBP), Pdt. Palti Panjaitan, S.Th (HKBP Filadelfia), Yohanes Handoyo Budhisejati (FMKI dan Perduki), Dr. Yusmic Daniel, S.H. (Akademisi), Ir. Barnabas Yusuf Hura, M.M. (Profesional dan aktivis Forkoma PMKRI), Hermawi F. Taslim, S.H. (Ketua Umum BPN Forkoma PMKRI).

Juga Said Damanik, S.H., M.H. (Advokat dan aktivis GPIB), Drs. Sonny Wuisan, S.H. (Wartawan Senior), Emanuel Dapa Loka (Jurnalis berprestasi), Aldentua Siringoringo, S.H. (Advokat), St. Drs. Hardy M.L. Tobing (Auditor dan aktivis gereja), Pdt. Dr. Jaharianson Saragih (Ephorus GKPS), Y. Deddy A. Madong, S.H. (Advokat), Ronny B. Tambayong, S.E., MACM (Pengusaha dan aktivis gereja), dan Pdt. DR. M.R. Lumintang, MBA (Rektor STT IKAT).

Sejumlah figur yang layak diposisikan sebagai “Tokoh Kristiani 2013” sebenarnya ada puluhan lagi, namun karena keterbatasan halaman dan kesepakatan tim, maka dibatasi hanya menampilkan 21 tokoh. Kami menampilkan profil singkat ke-21 tokoh di NARWASTU Edisi Khusus Desember 2013-Januari 2014 ini sebagai wujud apresiasi (penghargaan) kami atas perjuangan mereka selama ini di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Harapan dan doa kami, kiranya kiprah mereka selama ini bisa memberikan inspirasi, motivasi, pencerahan dan pencerdasan untuk kebaikan gereja, masyarakat dan bangsa ini.

Bapak/Ibu/Saudara yang terkasih, boleh-boleh saja pembaca menganggap pemilihan para tokoh ini subjektif, tapi percayalah, kami sudah berupaya objektif untuk memilihnya. Memang kami tak bisa memuaskan harapan semua pihak, dan amat manusiawi kalau tokoh-tokoh yang tampil ini punya kekurangan, karena mereka bukan orang suci atau malaikat. Sekadar tahu, di tengah tim majalah ini tak jarang ada perdebatan mengenai figur seseorang saat namanya dimunculkan. Dalam pemilihan ini, perlu dicatat kami menghindari agar dalam 21 tokoh ini tak ada “orang dalam” dari NARWASTU, seperti Pembina/Penasihat, meskipun kami akui ada di antaranya yang layak masuk.

Bapak/Ibu/Saudara yang terkasih, lewat tulisan ini, kiranya kita bisa melihat sisi positif atau nilai-nilai juang dari ke-21 tokoh ini. Kepada mereka yang termasuk dalam 21 tokoh ini, kami sampaikan pula bahwa inilah hadiah Natal terindah dari NARWASTU sebagai insan media Kristiani kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang telah berupaya ikut membentuk karakter bangsa ini. Akhirnya, kami sampaikan, selamat Hari Natal 2013 dan Tahun Baru 2014. Kiranya, Tuhan selalu memberkati kita semua, syalom. 

Tokoh-tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU hadir saat acara pemberian penghargaan di Jakarta.

Pejuang Hukum dan HAM dari GPIB  

Munculnya sekarang aneka konflik dan aksi anarkis yang mengerikan di negeri ini, adalah bukti bahwa di Indonesia hukum tak dihormati. Adanya kelompok intoleran yang memaksa penutupan HKBP Setu, jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia yang sampai kini belum bisa beribadah di gedungnya sendiri, karena tekanan massa tertentu, serta penyerangan LP Cebongan, Yogyakarta, serta kerusuhan di Sulawesi serta pembunuhan polisi, adalah potret Indonesia terkini. Pejuang HAM dan advokat, Said Damanik, S.H., M.H. menuturkan, sistem politik dan pemerintahan kita tak jelas, dan hukum tak sungguh-sungguh diterapkan.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos diwawancarai wartawan TV, media cetak dan online di sebuah acara pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU di Jakarta.

Wakil Sekjen DPP PERADI dan pengajar calon advokat di Universitas Atmadjaya, Jakarta, dan Universitas Pelita Harapan (UPH), Kota Tangerang, ini menuturkan, Indonesia sebagai negara hukum sesuai dengan Pasal 1 ayat 3 UUD 1945, dan sumber dari segala sumber hukumnya adalah Pancasila, serta UUD 1945 sebagai landasan struktural. Dalam perjalanannya sejak era Soekarno sampai Soeharto masih ada terlihat budaya kebersamaan, kerukunan dan kedamaian, walaupun sebagian ada yang direkayasa. Tapi sejak 1998 saat reformasi bergulir, ada sistem politik, yang katanya demokratis, dan sering dibilang, suara rakyat suara Tuhan.

Indonesia termasuk negara demokratis juga di dunia ini, namun demokrasinya cenderung liberal. “Demokrasi itu ternyata tak selamanya berdampak positif. Karena ada muncul anarkisme dan hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Pedoman sumber hukum kita tak dilaksanakan, pun masyarakat berubah jadi individualis dan sikap liberal amat dominan. Juga menonjolkan materialisme, dan ada sindiran muncul ‘keuangan’ yang maha esa. Maka muncul kebebasan yang amat bebas. Dan yang dihormati hanya yang punya sumber ekonomi yang kuat atau kapitalis, meskipun sumber dananya itu tak tahu dari mana,” ujar mantan Ketua Umum Pemuda GKPS Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ini.

Menurut bekas pengurus FKPPI dan mantan pengurus KNPI DKI Jakarta ini, sekarang tak ada lagi persamaan di depan hukum, yang ada diskriminasi, termasuk dalam hal beribadah, makanya muncul kasus GKI Yasmin, HKBP Ciketing, HKBP Filadelfia dan HKBP Setu. Dulu pun ada kasus HKBP Cinere. Dulu tak pernah masalah izin beribadah dipersoalkan, kini itu dicari-cari. Padahal tempat-tempat ibadah yang ada di Indonesia ini, semua itu apa izinnya lengkap. Konflik masyarakat di Mesuji, Lampung, dan adanya penyerangan oleh aparat TNI ke polisi, juga menyedihkan kita.

Ketua Komisi Gereja, Masyarakat dan Agama (Germasa) di GPIB Gloria, Kota Bekasi, ini menuturkan, sekarang presiden, gubernur, wali kota, bupati dan aparatnya terkesan seperti pemadam kebakaran. “Setelah ada masalah atau kasus kekerasan, baru dibentuk tim investigasi. Seharusnya intelijen itu sejak dini bisa mengantisipasinya,” ujar pengacara yang juga giat mengadvokasi gereja-gereja yang diteror ini. Melihat keadaan bangsa sekarang ini, kata Said, kita sebagai umat beragama, terutama kita umat Kristiani perlu berdoa khusus untuk kedamaian dan keutuhan bangsa ini.

Kalau sekarang berbagai aksi kekerasan muncul, itulah cermin wajah bangsa kita, yang karakternya makin beringas dan gampang marah. “Kalau ini tidak diubah, maka dunia internasional akan menjaga jarak berhubungan dengan kita,” paparnya. Ke depan, para caleg kita, baik untuk DPR-RI maupun DPRD harus benar-benar selektif dipilih oleh rakyat agar yang tampil adalah yang punya integritas, nasionalis, kompeten dan intelektual serta berani. “Kalau caleg kita baik, maka legislator-legislator mendatang akan baik pula. Jadi pilihlah mereka yang bukan cari nafkah di politik, tapi yang mau berkorban dan mengabdi untuk bangsa ini,” tegas suami tercinta Agustina boru Napitupulu ini.

Juga capres dan cawapres RI mendatang harus yang nasionalis, berani dan berintegritas. “Kalau presiden kita itu figur yang berani menegakkan hukum, maka tidak akan mungkin terjadi penutupan tempat ibadah, padahal sudah ada putusan hukum yang menyatakan tempat ibadah itu agar dibuka seperti kasus GKI Yasmin. Sebab itu, partai politik harus melakukan pendidikan dan pencerahan politik bagi bangsa ini. Kalau yang dipilih adalah caleg-caleg yang moralnya tidak baik, maka bangsa ini akan semakin rusak. Jadi harus kita pilih pemimpin mendatang itu, apakah dia advokat, pengusaha, aktivis LSM, akademisi, politisi atau pengusaha yang berjiwa mengabdi bagi rakyat, bukan yang mengutamakan kepentingan kelompoknya,” papar pria yang termasuk dalam 20 Tokoh Kristiani 2009 Pilihan NARWASTU  ini.

Berbicara soal RUU Ormas yang heboh baru-baru ini, Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) GPIB Wilayah Bekasi, Jawa Barat, ini berpendapat hukum dibutuhkan agar ada pedoman bagi setiap masyarakat, individu atau lembaga untuk menjalankan kegiatannya. “Kementerian Dalam Negeri mengatakan, ada ribuan ormas di negeri ini, kan, itu perlu juga diatur,” ujar pria yang juga pengajar ilmu hukum di berbagai perguruan tinggi terkemuka ini.

Said yang juga Penasihat PERWAMKI menuturkan, sekarang ada organisasi yang selama ini sangat berkontribusi untuk membangun negeri ini, seperti NU, Muhammadiyah, PGI, KWI, KNPI dan yang lain. Tapi, ujarnya, kita tak bisa tutup mata melihat ada juga ormas-ormas yang mengerikan, “Bersikap anarkis dan radikal. Orang yang beribadah saja diganggu. Kalau tak ada penertiban ormas, maka mau dikemanakan bangsa ini. Apa mau kita punya hukum rimba atau hukum barbar, siapa yang kuat, maka dia yang berkuasa”. Selama ini, kata Said, ada ormas yang merasa dirinya paling benar dan bisa jadi “polisi swasta”, sehingga perlu ada undang-undang yang mengatur. Hanya saja, ujarnya, isi atau pasal-pasal yang ada di RUU Ormas harus dicermati pula agar jangan salah dan menyesatkan masyarakat. SD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here