Pdt. Dr. Drs. Jerry Rumahlatu, M.Th Termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2016 Pilihan NARWASTU”

25
Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu, M.Th. Religius dan cerdas.

Narwastu.com – Dalam suatu perbincangan ringan di sebuah pertemuan Forum Komunikasi (FORKOM) Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU beberapa waktu lalu, ada ungkapan bahwa tokoh-tokoh Kristiani pilihan majalah NARWASTU selama ini semakin punya prestise dan nilai setelah bergabung di FORKOM NARWASTU. Sejak FORKOM NARWASTU terbentuk pada 5 April 2016 lalu, memang sudah ada lebih dari 60-an tokoh pilihan itu yang berhimpun, lalu berdiskusi tentang persoalan gereja, masyarakat dan bangsa.

Ketua FORKOM NARWASTU, Prof. Dr. Marten Napang, S.H., M.H., M.Si menerangkan orang-orang yang dipilih NARWASTU sebagai tokoh adalah kader-kader terbaik dari kalangan gereja. Mereka, kata Guru Besar di Universitas Hasanuddin, Makassar, ini orang-orang berpengaruh, yang diakui kapasitasnya dan bukan figur sembarangan. “Sehingga diskusi-diskusi yang diadakan FORKOM NARWASTU, baik seputar bahaya narkoba, korupsi dan persoalan sosial kemasyarakatan, semakin bernilai, karena dihimpun dari diskusi para tokoh berkualitas pilihan NARWASTU,” ujar Marten Napang.

Sekretaris FORKOM NARWASTU yang juga mantan anggota DPR-RI, Sterra Pietersz, S.H., M.H. pun mengatakan, tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU merupakan figur-figur terbaik dari kalangan gereja. “Pelayanan mereka teruji di tengah gereja dan masyarakat, dan sudah diseleksi tim NARWASTU. Tak gampang seseorang itu ditokohkan NARWASTU, karena tentu karya mereka harus punya nilai, dan pelayanannya dirasakan banyak orang. Makanya dengan adanya FORKOM NARWASTU, keberadaan tokoh-tokoh pilihan NARWASTU semakin bernilai,” pungkas mantan Sekretaris Umum DPP PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia), dan salah satu pencetus berdirinya FORKOM NARWASTU ini.

Nah, seperti para tokoh pilihan tahun lalu, di akhir tahun 2016 ini kembali kami pilih “21 Tokoh Kristiani 2016 Pilihan NARWASTU.” Mereka kami nilai sosok pelayan yang mampu menginspirasi dan mampu memotivasi sesuai dengan profesi atau pelayanannya selama ini. Misalnya, ada yang aktif di organisasi gerejawi, sosial, politik, hukum, HAM, TNI/POLRI, kemasyarakatan, ekonomi, budaya dan pendidikan, dan itu cukup  menarik dicermati dan direkam. Dari situlah kami lihat sepanjang tahun 2016 ini ada muncul sejumlah figur pejuang (Baca: tokoh) yang bersentuhan dengan berbagai peristiwa menarik di tengah gereja, masyarakat dan bangsa ini.

Dan seperti tahun-tahun lalu, pada akhir 2016 ini, NARWASTU yang kita cintai ini menampilkan kembali 21 tokoh Kristiani “pembuat berita” (news maker).  Dan ada tiga kriteria dari tim redaksi NARWASTU untuk memilih seseorang agar disebut tokoh pembuat berita. Pertama, si tokoh mesti populer dalam arti positif di bidangnya. Kedua, si tokoh mesti peduli pada persoalan gereja, masyarakat dan nasionalis (Pancasilais). Ketiga, si tokoh kerap jadi perbincangan dan muncul di media massa (terutama di NARWASTU), baik karena pemikiran-pemikirannya yang inovatif, aktivitas atau ide-idenya kontroversial. Si tokoh pun jadi figur inspirator dan motivator di tengah jemaat atau masyarakat.

Bagi tim NARWASTU, tak mudah untuk memilih seseorang agar jadi “tokoh Kristiani.” Lantaran kiprahnya harus kami ikuti pula lewat media massa, khususnya media Kristen, termasuk mencermati track record-nya. Pada akhir 2016 ini, kami pilih lagi “21 Tokoh Kristiani 2016.” Seperti tahun lalu, ada berlatarbelakang advokat, politisi, jenderal, tokoh lintas agama, pengusaha, aktivis HAM, pemimpin gereja, aktivis gereja, jurnalis, pimpinan ormas, dan aktivis LSM.

Dari hasil seleksi tim NARWASTU sejak awal Oktober 2016 lalu, dari 100-an nama yang terkumpul, berikut kami tampilkan 21 tokoh, yakni: Ritson Manyonyo, Brigjen TNI (Purn.) Junias M.L. Tobing, Irjen Pol. Arman Depari, Brigjen Pol. (Purn.) Victor Edison Simanjuntak, Parlindungan Purba, S.H., M.M.,  Pdt. DR. Tjahyadi Nugroho, dan Erick S. Paat, S.H.

Juga Pdt. Dr. Drs. Jerry Rumahlatu, Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H., Pdt. Dr. Djoys Anneke Karundeng Rantung,. M.Th, Budianto Tarigan, S.Sos, S.S.H., Pst. Louis Pakaila, Ir. David Pajung, M.Si, dr. Rosma Napitupulu, MARS, Pnt. Niniek Suryati L. Brent Salurapa, Clara Panggabean,  Rebecca Olivia Haryuni, dan Ir. Soleman R. Matippanna, S.T.

Kepada Bapak/Ibu dan saudara yang terpilih masuk dalam 21 tokoh Kristiani tahun ini, kami sampaikan, inilah hadiah Natal terindah atau apresiasi dari Majalah NARWASTU sebagai insan media kepada Bapak/Ibu dan saudara. Bapak/Ibu dan saudara selama ini kami nilai pula telah ikut membentuk karakter bangsa ini, selain bisa menginspirasi dan memotivasi banyak orang. Akhirnya, kami ucapkan: Selamat Natal 2016 dan Tahun Baru 2017, kiranya Tuhan Yesus Yang Maha Rahmat senantiasa memberkati kita sekalian, amin. Syalom.

Mengabdi Lewat Dunia Pendidikan

Pembawaannya tenang, namun tegas dalam bersikap dan memiliki wawasan yang luas. Itulah pribadi dari seorang Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu, M.Th. Sikap tersebut tampaknya tidak lepas dari apa yang dilakoninya semasa muda, yakni sebagai aktivis di organisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Makassar dan PERKANTAS (Persekutuan Kampus Antar-Universitas).

Para tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU yang religius, inspiratif dan Pancasilais.

Pak Pdt. Jerry, demikian biasa ia disapa, lahir di Kairatu, Maluku, 3 Januari 1958, dan dibesarkan di Masohi, Kabupaten Maluku Tengah. Di sana ia menjalani pendidikan sejak di bangku TK, SD hingga SMP. Jenjang pendidikan terus dijalaninya ke Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) di Paso, Maluku. Bakat sebagai seorang pemimpin telah terlihat ketika ia duduk di SPMA, dengan menjadi Ketua Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GSKI) dan mengorganisir siswa Kristen di sana.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos di sebuah acara pemberian penghargaan kepada tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU.

Pada 1975 ia terpilih mewakili siswa teladan untuk menerima prasasti dari Presiden Soeharto ketika meresmikan Perum Kertas di Goa, Sulawesi Selatan. Beranjak dewasa, pada 1978 Pdt. Jerry hijrah ke Makassar untuk melanjutkan studi akuntansi, kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan dan Administrasi Indonesia (STIKI), menjadi sarjana pajak, mengikuti jejak ayahnya. Di Makassar, Pdt. Jerry aktif dalam pelayanan di GMKI dan PERKANTAS, yang menempa kehidupannya menjadi pribadi tangguh dan cerdas seperti sekarang. Pelayanan dilakukan dengan motivasi agar orang yang dibinanya bisa jadi lebih baik dan sukses dari dirinya.

“Saya melayani di PERKANTAS sejak 1981-1985, dan di GMKI sebagai salah satu ketua yang  bersekretariat di STIKI. Sekretariatnya saya namakan Sekretariat Eklesia. Nah, untuk memantapkan pelayanan saya mengambil studi teologi di STT Jaffray, Makassar, pada 1985. Pada 1986 selesai dengan gelar BTS, bachelor teologia studi,” ujar Sekretaris I Badan Pengurus Pusat (BPP) Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) ini. Pada 1986 ia memutuskan untuk mengambil program pendidikan jarak jauh STT Jaffray di Jakarta, untuk jenjang pendidikan S1 teologi, M.A., M.Div, M.Th dan Doktor.

Kini Pdt. Jerry mengabdikan diri di dunia pendidikan. Kini ia dipercaya sebagai Direktur Pascasarjana dan Program Doktoral di STT Sunsugos Jakarta. Berbagai jabatan yang terkait dengan dunia pendidikan dipegangnya. Misalnya, pernah menjabat Ketua (Rektor) STT Jaffray, Jakarta (2006-2011), Sekretaris Umum Tim Koordinasi Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi Teologi/Agama Kristen (TKPMPTT/AK) Bimas Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia (2009-2014) dan Bendahara Umum Persekutuan Sekolah Teologi di Indonesia/PERSETIA (2010-2016).

Menurut Ketua Yayasan Penah Kasih Ministry Indonesia ini, terjun di dunia pendidikan bukan hal baru. Sejak muda ia telah disiapkan menjadi guru. Begitu pula ketika aktif di PERKANTAS dan GMKI ia kerap memberikan pelajaran-pelajaran kepada mahasiswa. Demikian pula ketika aktif di STT Jaffray dengan menjadi staf pengajar. Diakuinya, ketika awal mula masuk dalam dunia pendidikan, tidak serta merta semua lancar.

“Tantangannya waktu itu datang dari keluarga, karena mereka ingin saya jadi pegawai negeri menggantikan ayah yang bekerja di pajak. Akhirnya saya buktikan bahwa pekerjaan yang saya lakoni adalah karunia Tuhan, dan akhirnya ada pengakuan dari orang tua,” jelas Pembina Partnership Grace Ministry Jakarta dan Sekretaris Umum Traffiking Rehabilitation Centre Jakarta ini.

Pdt. Jerry melihat pendidikan sesuatu yang penting. Melalui pendidikan dapat diubah semua strata kehidupan. Namun secara makro, ia melihat pendidikan di Indonesia sejak dulu selalu mengalami perubahan. Hal ini disebabkan, karena setiap pergantian pimpinan, khususnya di Departemen Pendidikan, kebijakan pendidikan selalu berubah. “Jadi selalu berubah dari dulu hingga sekarang, dan mungkin selama, jika pemimpinnya baru. Seharusnya dia tetap mengadopsi yang lama, lalu ia meningkatkan lagi sehingga terjadi satu sinergi yang baik,” pungkasnya.

Selain itu, ia melihat tingginya biaya sekolah sekarang menjadi persoalan. Sehingga kesempatan untuk mengenyam pendidikan semakin sulit. Sementara mengenai sekolah teologi, Pdt. Jerry mengungkapkan, adanya peraturan dari Departemen Agama yang perlu mendapat perhatian dari sekolah-sekolah teologi, terkait standar. “Kami sudah bicarakan itu dengan para pakar soal itu. Jadi perguruan tinggi teologi sekarang sedang dibina dan pendampingan untuk memantapkan mereka,” cetus penulis tiga buku, di antaranya Psikologi Kepemimpinan dan Revolusi Mental itu.

“Nah, dari 231 perguruan tinggi teologi yang terdaftar di Departemen Agama, dari 400 yang ada, maka mau tidak mau, suka tidak suka, harus benar-benar digembleng secara baik, sehingga semua bisa lolos. Saya gambarkan waktu itu dari 231 sekitar 7 sekolah teologi yang akan lolos, dan akan banyak yang ditutup pemerintah. Saya melihat ini bernuansa politik,” tegas Ketua Pergerakan Akademisi dan Intelektual se-Indonesia demi Pemenangan Jokowi-JK di Pilpres 2014 lalu ini.

Bersama istrinya Dra. Willy Kuhuwael ia selalu memotivasi anak-anaknya supaya melihat masa depan dengan kaca mata Firman Tuhan, serta mendorong mereka agar mandiri. “Kami tidak memberi kebebasan, tapi memberi arahan supaya mereka mandiri. Alat ukurnya itu. Dan apa saja yang penting bagi mereka akan kami coba berikan demi masa depan mereka, khususnya bagi pendidikannya,” pungkasnya. “Seperti keluarga Kristen lainnya, yang kami lakukan setiap pagi adalah mendorong mereka agar merenungkan Firman Tuhan. Karena itulah bekal dari orang tua, yaitu Firman Tuhan agar bisa menjaga dan sumber spirit bagi mereka. Itulah arahan-arahan untuk mereka dalam melihat ke masa depan,” ujar ayah dari Teresa Imanuela Rumahlatu (17 tahun) dan Immanuel Henry Rumahlatu (11 tahun) ini. HJ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here