Dr. Anti Solaiman Masuk Dalam “21 Tokoh Kristiani 2012 Pilihan NARWASTU”

44
Dr. Anti Solaiman. Mewujudkan kasih Kristus.

Narwastu.id – Kalau kita cermati perjalanan hidup bangsa ini sepanjang tahun 2012, cukup banyak peristiwa menarik, baik di bidang sosial, politik, hukum, HAM, kemasyarakatan, ekonomi, budaya dan pendidikan yang patut direkam. Berbarengan dengan itulah muncul sejumlah figur pejuang (Baca: tokoh) yang terlibat atau bersentuhan dengan peristiwa itu, termasuk figur-figur dari kalangan Kristiani. Sekaitan dengan itulah, seperti tahun-tahun yang lalu, pada akhir 2012 ini, Majalah NARWASTU yang kita cintai ini kembali menampilkan tokoh-tokoh Kristiani “pembuat berita” (news maker).

Masih seperti yang dulu, ada tiga kriteria yang dipatok untuk menempatkan seseorang itu agar jadi “tokoh pembuat berita” pilihan NARWASTU. Pertama, si tokoh mesti populer dalam arti yang positif di bidangnya. Kedua, si tokoh mesti peduli pada persoalan warga gereja, masyarakat dan nasionalis (Pancasilais). Ketiga, si tokoh kerap jadi perbincangan dan muncul di media massa, baik karena pemikiran-pemikirannya yang inovatif atau ide-idenya kontroversial. Alhasil, si tokoh kerap menjadi sumber inspirasi dan motivasi di tengah jemaat atau masyarakat.

Bagi tim redaksi NARWASTU, tak mudah untuk menempatkan seseorang menjadi “tokoh Kristiani”. Pasalnya, kiprah mereka harus kami ikuti pula lewat media massa, khususnya media Kristen, termasuk mencermati aktivitasnya dan menelisik track record-nya. Pada akhir 2012 ini, kami kembali pilih “21 Tokoh Kristiani Pembuat Berita Sepanjang 2012.” Seperti tahun lalu, sosok yang diangkat ini, ada berlatarbelakang advokat, politisi, tokoh lintas agama, pengusaha, aktivis HAM, pemimpin gereja, aktivis gereja, pimpinan ormas, dan aktivis LSM.

Dari deretan 21 tokoh yang sudah diseleksi redaksi NARWASTU secara ketat dari 120 nama yang terkumpul ada beberapa tokoh yang tahun lalu juga terpilih, seperti Pdt. WTP Simarmata, M.A. (Ephorus HKBP), Dr. Anti Solaiman (Dosen UKI Jakarta), Pdt. Brigjen TNI Harsanto Adi S., M.M. (Asisten VII Deputi Menkopolhukam), U.T. Murphy Hutagalung, MBA (Pengusaha dan politisi), Edwin P. Situmorang, S.H., M.H. (Mantan Jaksa Agung Muda Intelijen di Kejaksaan Agung RI), Drs. Sahrianta Tarigan, M.A. (Politisi) dan Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, M.Th (Ketua DPP PIKI).

Juga Aldentua Siringoringo, S.H. (Advokat), Saor Siagian, S.H., M.Hum (Aktivis HAM), Johanes Mardjuki (Profesional), Drs. Hardy M.L. Tobing (Auditor dan aktivis gereja), Drs. Ronny Wongkar, M.A. (Politisi), Ir. David Johanes Tjandra, M.A. (Ketua Umum MPK), Pdt. Dr. Jaharianson Saragih (Ephorus GKPS), DR. Erwin A. Pohe (Pengusaha dan pengamat politik), Y. Deddy Madong, S.H. (Advokat), Pdt. Elia Rantenusa Nenoharan, S.E., M.Th (GEKINDO), Ronny B. Tambayong, S.E., MACM (Pengusaha dan aktivis gereja), Anthony Putihrai, B.Sc (Pengusaha), dan DR. Maria A. Sondakh (Aktivis organisasi).

Sejatinya masih ada sejumlah nama yang layak diposisikan sebagai “Tokoh Kristiani 2012”, namun karena keterbatasan halaman dan kesepakatan tim, maka kami batasi hanya memuat 21 tokoh. Kami menampilkan profil singkat ke-21 tokoh di NARWASTU Edisi Khusus Desember 2012-Januari 2013 ini sebagai wujud apresiasi (penghargaan) kami atas perjuangan mereka selama ini di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Harapan dan doa kami, kiranya kiprah mereka selama ini bisa memberikan inspirasi, motivasi, pencerahan dan pencerdasan untuk kebaikan gereja, masyarakat dan bangsa ini.

Pembaca yang budiman, boleh-boleh saja Bapak/Ibu/Saudara menganggap pemilihan para tokoh ini subjektif, tapi percayalah, kami sudah berupaya objektif untuk memilihnya. Memang kami tak bisa memuaskan harapan semua pihak, dan amat manusiawi kalau tokoh-tokoh yang tampil ini punya kekurangan, karena mereka bukan orang suci atau malaikat. Sekadar tahu, di tengah tim majalah ini tak jarang muncul perdebatan mengenai figur seseorang ketika namanya dimunculkan. Dalam pemilihan ini, perlu dicatat kami menghindari agar dalam 21 tokoh ini tak ada “orang dalam” dari NARWASTU, seperti Pembina/Penasihat, meskipun kami akui ada di antaranya yang layak masuk.

Melalui tulisan ini, kiranya kita bisa melihat sisi positif atau nilai-nilai juang dari ke-21 tokoh ini. Kepada mereka yang termasuk dalam 21 tokoh ini, kami sampaikan pula bahwa inilah hadiah Natal terindah dari NARWASTU sebagai insan media Kristiani kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang telah berupaya ikut membentuk karakter bangsa ini. Akhirnya, kami sampaikan, selamat Hari Natal 2012 dan Tahun Baru 2013. Kiranya, Tuhan selalu memberkati kita semua, syalom.

 Cendekiawan yang Peduli Kaum Tertindas

Di zaman sekarang rasanya bisa dihitung dengan jari kalau ada figur yang mau mengorbankan waktu, tenaga dan hidupnya untuk orang lain. Salah satunya adalah Dr. Anti Solaiman. Wanita yang berprofesi sebagai dosen, aktivis dan pendiri YALEKA (Yayasan Lentera Kasih) ini menaruh perhatian terhadap dua daerah tertinggal di Indonesia, yakni Mentawai dan Papua. Atas dasar kasih kepada sesama yang terbingkai oleh rasa kemanusiaan, cendekiawan yang juga salah satu Ketua DPP PIKI ini ingin menaikkan harkat dan martabat masyarakat setempat lewat pendidikan dan kesehatan. Bagaikan oase di padang gurun, begitulah pelayanan yang dilakukan ibu tiga anak ini, apalagi pemerintah setempat dan pusat seolah-olah menutup mata pada kondisi daerah dan masyarakatnya hidup cukup memprihatinkan itu.

Para tokoh Kristiani pilihan Majalah NARWASTU yang religius, inspiratif dan Pancasilais.

Perjuangannya yang membutuhkan dana cukup besar, tak menghalangi gerak dan niat baik Anti terhadap dua daerah tersebut. Apalagi ia tidak memiliki motivasi untuk mencari ketenaran dari pelayanannya itu. Alasannya cukup sederhana, sebagai orang Kristiani ia ingin mengaplikasikan hukum kasih yang menjadi pondasi sekaligus ajaran almarhum orangtuanya yang penuh kasih terhadap sesama. Terlebih lagi aksinya merupakan perwujudan kasih Kristus.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos diwawancarai wartawan TV, media cetak dan online di sebuah acara pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU di Jakarta.

Menelisik kehidupan masa kecil Anti yang dihabiskan di Kota Gudeg, Yogyakarta, cukup menarik. Dia lahir dan besar dari keluarga yang melek akan pendidikan, menjadikan istri dari Kristianto Solaiman (alm.) ini tak hanya pintar dalam ilmu pengetahuan, melainkan juga memiliki empati terhadap sesama. Ketika duduk di bangku SD, Anti secara rutin kerap bolak balik ke penjara guna mengantarkan ransum makanan atas suruhan ibundanya. Kebiasaan ibunya untuk membuat makanan bagi mereka yang membutuhkan itu, secara tidak langsung memberikan nilai dan teladan hidup bagi Antie dan saudara-saudaranya. Beranjak dewasa pemahaman tentang nilai kemanusiaan seolah mengakar kuat dalam hati Anti.

Tahun 1984 menjadi debut pertama bagi Anti dalam memulai pelayanannya di Mentawai. Selama 10 tahun berada di sana ia berhasil mendapatkan tanah seluas 10 hektar. Lalu dibangunlah sebuah Puskesmas dengan 10 kamar tidur dan sebuah sekolah. “Waktu itu, Mentawai masih berstatus kecamatan, akhirnya tahun 1997 saya bersama anak-anak Mentawai berdemo agar Mentawai merdeka dan bisa menjadi kabupaten sendiri dan berhasil,” jelas perempuan kelahiran Yogyakarta, 9 Desember 1952 ini.

Selain membangun Mentawai, dosen Pengantar Filsafat di UKI, Jakarta, ini membawa 23 anak Mentawai ke Jakarta untuk ia sekolahkan. Buah dari kerja keras dan perbuatan mulia itu, kini 23 anak tersebut tak cuma berhasil menyandang gelar sarjana, tapi ada juga yang telah menduduki posisi bagus di lingkup pemerintahan dan dunia profesional. Keberhasilan itu pula yang memacu semangat wanita bernama lengkap Yugianti Solaiman ini, sehingga ia termotivasi lagi untuk membuat Papua menjadi pilihan daerah pelayanan Anti selanjutnya.

Tahun 1990 wanita yang punya hobi membaca ini, menginjakkan kakinya di Jayapura, Papua. Ada alasan tersendiri mengapa mantan Ketua II Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) itu datang ke Papua. “Di mana-mana ada kemiskinan dan kebodohan. Tapi di Papua ada pembunuhan, jadi saya merasa harus menaikkan harkat mereka lewat  pendidikan sama seperti di Mentawai. Tapi perjuangan di Papua sangat berbeda, karena yang dihadapi di sana oknum pemerintah. Jadi kalau Pemerintah Pusat bilang, ada dana untuk pendidikan sekian triliun rupiah, itu tidak ada. Sebab yang menyekolahkan anak-anak di sana adalah gereja,” tegas Anti.

Bukan hal yang mudah bagi Anti untuk melayani di bidang pendidikan di sana. Karena, katanya, mereka terbiasa dengan bahasa lisan (oral) ketimbang menulis. Di daerah ini, Anti mengajarkan baca tulis, bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga kepada ibu-ibu. Selain itu, diajarkan menjahit, berkebun dan pola hidup sehat. Tak bisa dipungkiri keadaan yang memprihatinkan itu tak bisa dilepaskan dari cengkeraman penguasa Orde Baru yang ketika itu memang masih kuat. Karena sebagaimana kita ketahui Papua tak hanya memiliki pemandangan indah, tapi juga kekayaan alam berlimpah ruah.

Maka bisa jadi kondisi itu merupakan salah satu alasan mengapa mantan Presiden Soeharto terkesan ogah-ogahan mensejahterakan masyarakat Papua. Dengan modal semangat dan hati yang tulus, Anti juga melayani ke  daerah pedalaman di Papua. Daerah pedalaman yang ditempuhnya sering berkilo-kilo meter jaraknya. Di Merauke, lewat Pijar Lentera yang salah satu anggotanya adalah lansia dan orang jompo diajarkan membaca dan keterampilan.

Merauke merupakan tempat suku Marine berada, dan dikenal sebagai tukang memenggal kepala. Di sisi lain, ada kondisi yang memprihatinkan, terutama di daerah perbatasan di mana banyak anak-anak Papua, khususnya para gadis belia hamil akibat korban pemerkosaan oleh oknum-oknum tertentu. Yang lebih mengenaskan, para PSK (Pekerja Seks Komersial) dari kota yang positif HIV/AIDS  diantar ke pedalaman, dan di situ ditukar dengan kayu gaharu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Menurut Anti, atas kondisi tersebut pemerintah setempat seakan-akan menutup mata. Dalam tugasnya, Anti kerap mendapat teror, namun ia selalu berdoa agar dilindungi Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here