
Ketika Panggilan Menjadi Warisan Pelayanan
Narwastu.id – Karena Tuhan Yesus sudah mati untuk saya. Jawaban itu sederhana. Namun, bagi seorang gadis muda yang sedang mengikuti seleksi masuk Sekolah Bibelvrouw HKBP, kalimat tersebut menjadi jawaban yang menentukan arah hidupnya.
Ketika itu, Theresnaria Yuliatur Situmorang belum mengetahui bahwa ia bukan sekadar memasuki sebuah sekolah, melainkan sebuah sejarah panjang pelayanan perempuan dalam gereja HKBP yang telah dimulai jauh sebelum ia lahir. Jawaban tersebut disampaikannya ketika Direktur Sekolah Bibelvrouw, Pdt. Amir Naiborhu, bertanya mengapa ia ingin menjadi penginjil perempuan. Ia diterima.
Kini, bertahun-tahun kemudian, Theresnaria bukan lagi seorang gadis yang mengetuk pintu Sekolah Bibelvrouw. Ia pernah menjadi Bibelvrouw, menjalani pelayanan di tengah jemaat, menempuh pendidikan psikologi, kemudian kembali ke lembaga yang dahulu membentuk dirinya sebagai dosen di Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP (STB HKBP) di Laguboti, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.

Perjalanan hidupnya menjadi sebuah lingkaran, berangkat dari lembaga yang membentuk panggilannya, lalu kembali untuk ikut membentuk generasi berikutnya. Namun, kisah ini tidak berhenti pada dirinya. Di balik perjalanan seorang perempuan terdapat sejarah lembaga yang berusaha menjawab kebutuhan gereja, bagaimana mempersiapkan perempuan untuk mengambil bagian dalam pelayanan Injil?
Sebuah Kerinduan yang Dimulai pada 1934
Jauh sebelum Theresnaria memasuki Sekolah Bibelvrouw, kerinduan terhadap pelayanan perempuan telah tumbuh di tengah gereja, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Pada tahun 1934, Sekolah Bibelvrouw HKBP didirikan di Narumonda, Porsea. Gagasan tersebut berkaitan dengan pelayanan Suster Elfriede Harder, seorang perempuan Jerman utusan Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), yang kemudian dikenal dalam konteks United
Evangelical Mission (UEM). Elfriede Harder memiliki kerinduan untuk memberdayakan perempuan Batak agar dapat mengambil bagian dalam pelayanan gereja HKBP. Dari kerinduan tersebut lahirlah pendidikan khusus bagi perempuan yang terpanggil menjadi penginjil atau Bibelvrouw.
Bibelvrouw secara harfiah berarti: Perempuan Alkitab. Dalam Agenda HKBP dikenal istilah: Penginjil Wanita, sedangkan dalam bahasa Batak Toba dikenal sebagai Parjamita Ina. Sejak awal, pelayanan Bibelvrouw berfokus pada perempuan, pemudi, dan anak-anak. Pendidikan tidak hanya mencakup pengetahuan Alkitab, tetapi juga kehidupan doa, bernyanyi, kedisiplinan, dan berbagai keterampilan hidup.
Mereka dipersiapkan bukan hanya untuk mengetahui Alkitab, melainkan membawa firman Tuhan ke tengah kehidupan manusia. Sekolah Bibelvrouw bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan ruang pembentukan perempuan yang dipanggil untuk hadir, mendampingi, mengajar, menguatkan, dan memberitakan Injil.
Dari Narumonda ke Laguboti
Tiga tahun setelah berdiri, pada 1937, Sekolah Bibelvrouw berpindah dari Narumonda ke Laguboti. Perpindahan tersebut antara lain berkaitan dengan perpindahan Meisjesvolkschool di
Laguboti ke Balige serta keadaan asrama di Narumonda yang tidak lagi mampu menampung jumlah siswa yang semakin bertambah. Tetapi perjalanan Sekolah Bibelvrouw kemudian mengalami masa yang tidak mudah. Ketika Perang Dunia II berlangsung, pada 10 Mei 1940 pemerintah Belanda menangkap dan membawa para misionaris Jerman dari Indonesia kembali ke Jerman. Elfriede Harder termasuk di dalamnya. Sekolah Bibelvrouw pun mengalami penutupan.
Namun, kebutuhan terhadap pelayanan perempuan tidak ikut berhenti. Pada tahun 1945, Pdt. K. Sirait membuka kembali Sekolah Bibelvrouw dan kemudian memimpinnya selama 24 tahun, hingga 1969.
“Saya Mau Menjadi Penginjil”
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP Methodist 6 Medan, Theresnaria ditanya ibunya tentang rencana pendidikan berikutnya. Jawabannya sudah cukup jelas, ia ingin masuk sekolah penginjil khusus perempuan.
Masalahnya, ketika itu ia bahkan belum mengenal istilah Bibelvrouw. Ibunya kemudian menyarankan agar ia terlebih dahulu menempuh pendidikan di Sekolah
Menengah Teknologi Kerumahtanggaan (SMTK) di Medan. Ia memilih bidang tata boga patiseri. Bagi sebagian orang, pilihan tersebut tampak jauh dari dunia penginjilan. Bagi ibunya, keterampilan itu tetap berguna dalam pelayanan. Selama tiga tahun di SMTK, kerinduan Theresnaria tidak hilang. Ia terpilih mengikuti program beasiswa SUPERSEMAR dan mulai terlibat dalam pelayanan PA anak-anak di rumah.
Ketika duduk di kelas tiga, dalam mengisi lembar monitoring lulusan ia menyampaikan kepada gurunya bahwa setelah tamat ia mau menjadi penginjil. Respons gurunya membuatnya keheranan. Ia dianggap “salah jurusan”, karena kebanyakan lulusan SMTK melanjutkan pendidikan atau bekerja, ataupun langsung menikah. Namun, kerinduan itu tetap ada. Dalam sebuah kesempatan mengikuti kegiatan adat di Ujung Tanduk Laguboti, ia bersama ibunya mencari informasi tentang sekolah penginjil perempuan HKBP. Dari sana ia mengetahui bahwa sejak 1989 Sekolah Bibelvrouw telah membuka penerimaan bagi lulusan SLTA sederajat.
Jawaban yang Menentukan
Setelah tamat SMTK, Theresnaria mendaftarkan diri ke Sekolah Bibelvrouw. Dalam wawancara penerimaan, Theresnaria ditanya mengapa ia ingin masuk Sekolah Bibelvrouw. Ia menjawab dengan kalimat yang telah dikutip pada pembuka tulisan ini. Ia diterima.
Jawaban itu sederhana dan tidak menggunakan istilah teologi yang rumit. Kesederhanaannya menunjukkan bahwa pelayanan baginya merupakan tanggapan atas kasih Kristus. Selama pendidikan, ia selalu berada pada peringkat pertama sejak seleksi masuk sehingga memperoleh tawaran beasiswa di Sekolah Bibelvrouw. Namun, ia menolak beasiswa tersebut demi teman-temannya yang lebih membutuhkan bantuan keuangan.
Ia memiliki kelemahan dalam musik orgel, tetapi mempunyai berbagai keterampilan. Ia membuat kue untuk tamu sekolah, berbagai aksesori perempuan, dekorasi ruangan, spanduk kegiatan, serta menulis uraian tugas Bibelvrouw atau Poda Tohonan berdasarkan Agenda HKBP dalam bahasa Batak dan Indonesia. Karyanya bahkan pernah dipajang selama lebih dari satu dekade di depan kantor. Semua itu membentuk pengetahuan, kemandirian, dan kesiapan melayani. Pada usia 19 tahun, Theresnaria menulis surat kepada orang tuanya untuk meminta doa dan restu agar dapat menjadi Bibelvrouw seumur hidup tanpa menikah. Orang tuanya memberikan restu tersebut sebagai hadiah ulang tahunnya. Panggilan yang semula muncul dalam hati seorang gadis muda mulai memperoleh bentuk yang lebih serius.
Ketika Panggilan Harus Dijalani
Panggilan tidak berhenti di ruang kelas. Setelah menyelesaikan pendidikan, Theresnaria menjalani masa praktik sebagai calon Bibelvrouw. Ketika ditanya ingin ditempatkan di mana, teman-temannya meminta daerah transisi. Ia justru meminta daerah zending yang memiliki sekolah karena ia menyukai kegiatan mengajar. Awal pelayanannya, ia ditempatkan dalam Pengembangan Masyarakat (Pengmas) HKBP di
Kantor Pusat Pearaja, Tarutung (Tapanuli Utara) mulai 1 Juli 1992. Gajinya ketika masa praktik hanya Rp 40.000 (empat puluh ribu rupiah) per bulan. Ia membawa kebiasaan dari rumah, gaji pertama dipersembahkan kepada Tuhan. Dengan uang tersebut ia membeli tiga belas buku dan menyumbangkannya kepada Sekolah Bibelvrouw. Surat ucapan terima kasih dari sekolah masih disimpannya hingga kini.
Pada 12 Juni 1994, ia menerima tahbisan Bibelvrouw di HKBP Sintanauli, Pematang Siantar. Setelah itu ia ditempatkan melayani di HKBP Resort Porsea. Penempatan tersebut tidak langsung mudah. Ia lebih menyukai mengajar daripada pelayanan jemaat dan merasa tidak mampu bermain orgel.
Perlahan ia belajar melihat tempat pelayanan bukan berdasarkan kesukaan, melainkan berdasarkan apa yang dipercayakan Tuhan. Panggilan bukan hanya mengatakan “ya” ketika semuanya sesuai dengan keinginan, tetapi juga ketika Tuhan membawa seseorang ke tempat yang tidak direncanakannya.
Pendidikan yang Memperkaya Panggilan
Pada tahun 2000, atas anjuran para senior dan Ephorus (Em.) Pdt. Dr. SAE Nababan (Alm.), Theresnaria melanjutkan pendidikan dalam bidang psikologi. Pembekalan ini dipandang dapat memperkaya pelayanan Bibelvrouw, khususnya dalam memahami pergumulan orang yang mereka dampingi. Theresnaria menyelesaikan pendidikan S-1 Psikologi di Universitas Medan Area pada 2006 dengan dukungan beasiswa UEM melalui rekomendasi Ephorus HKBP. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S-2 Psikologi dan menyelesaikannya pada 2012 dengan IPK 3,72. Di sinilah pelayanan Bibelvrouw dan psikologi bertemu.
Pengalaman sebagai pelayan gereja memberi pemahaman tentang kehidupan jemaat, sedangkan psikologi memberinya bekal memahami manusia secara lebih mendalam.
Keduanya menjadi bekal pelayanan kepada anak, pemudi, perempuan, keluarga, dan jemaat, serta keterlibatannya dalam beberapa organisasi kemanusiaan. Ada satu pengalaman yang menjadi benang merah perjalanan tersebut. Pada masa studi S2, Theresnaria mengetahui bahwa Bibelvrouw yang datang ke rumah keluarganya di Jakarta pada 1977, ketika ibunya menghadapi pergumulan berat terkait penolakan terhadap okultisme, adalah Bvr. Mainga Ortilia Nainggolan yang kemudian pensiun sebagai Ibu Asrama STB. Theresnaria menyadari bahwa hubungannya dengan pelayanan Bibelvrouw telah dimulai jauh sebelum ia memasuki sekolah tersebut.
Kembali ke Tempat yang Membentuknya
Pada 15 Agustus 2012, Theresnaria ditugaskan mengajar sebagai dosen di Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP di Laguboti. Ia kembali setelah melayani jemaat di desa dan kota sebagai Bibelvrouw, menempuh pendidikan psikologi, dan mengabdi di sejumlah lembaga HKBP. Sejak tahun 2013 ia mengajak mahasiswa melaksanakan berbagai misi ke luar kampus STB HKBP. Pertama sekali, mahasiswa melakukan wawancara kepada para medis pada tiga Puskesmas yang ada di Kabupaten Toba. Melalui mata kuliah Gizi dan Kesehatan mahasiswa mendata kondisi kesehatan masyarakat di wilayah Laguboti, Balige dan Porsea. Data yang diperoleh diskusikan dan didoakan secara khusus.
Dalam ruang kelas mahasiswa mengungkapkan bahwa melalui kegiatan ini, mahsiswa beroleh sambutan baik dari para medis yang ditemui di puskesmas, di antaranya ada berkomentar, “Selama puluhan tahun saya bertugas, belum pernah ada datang mahasiswa Sekolah Bibelvrouw melakukan wawancara kepada kami. Dari Jakarta ya dosennya?”
Pada tahun 2020 bersama mahasiswa STB, ia menjalankan misi pembinaan karakter dan pendampingan psikologis anak dalam menghadapi Covid-19 kepada ratusan anak di Balai Desa
Sibuea, Laguboti. Selanjutnya mengembangkan pelayanan anak dan remaja dengan berbagai kegiatan Edukasi Misi melalui program yayasan Hadassah Pardamean Indonesia yang dipimpinnya sejak 2024. Dalam beberapa kegiatan pada tahun 2024 hingga 2026, Theresnaria bersama mahasiswa STB HKBP melakukan perjalanan misi berinteraksi dengan saudara-saudara komunitas Parmalim di Panamean, Desa Sampuara, Kecamatan Uluan. Kegiatan ini dikaitkan dengan Tridharma Perguruan Tinggi melalui mata kuliah Psikologi Umum dan Psikologi Anak serta pengabdian kepada masyarakat.
Melalui keterlibatannya di Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Toba, Theresnaria mengajak mahasiswa turut mendampingi anak-anak korban kekerasan seksual dan anak yang melakukan kekerasan seksual. Pendampingan psikososial berlandaskan iman Kristen diberikan kepada anak dan keluarga korban melalui kunjungan ke rumah. Anak yang melakukan kekerasan seksual dikunjungi di Lapas Balige. Pelayanan ini menuntut perhatian pada keselamatan, privasi, dan martabat anak. Pendampingan psikososial maupun rohani perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak dan keluarga serta dilakukan dalam batas peran pendamping.
Selain itu, hampir setiap tahun ia melibatkan mahasiswa untuk ikut melayani kerohanian masyarakat melalui kegiatan Natal dan Bona Taon (Tahun baru) Parsadaan Situmorang Sipitu Ama Boru/Bere (PSSAB) Kecamatan Laguboti. Kehadiran mahasiswa khusus untuk pelayanan anak dan remaja. Perjumpaan dengan warga memberi ruang bagi mahasiswa STB untuk menghubungkan pembelajaran psikologi dengan pelayanan di tengah masyarakat. Kisah pribadi Theresnaria kembali bertemu dengan sejarah lembaganya.
Dari Sekolah Bibelvrouw Menjadi Sekolah Tinggi
Sejak berdiri pada 1934, Sekolah Bibelvrouw terus mengembangkan persyaratan masuk dan kurikulumnya. Pada 1989, sekolah mulai menerima lulusan SMA sederajat untuk Program D-3 dengan masa studi sekitar tiga tahun.
Kurikulum berkembang mencakup teologi dasar, psikologi yang diintegrasikan dengan teologi dan pengetahuan mengenai perempuan, pemudi, dan anak-anak, serta berbagai keterampilan hidup. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa lembaga ini terus menjawab kebutuhan pelayanan
yang berkembang. Pada 2013, STB HKBP mengembangkan Program Studi S-1 Misiologi setelah menyelenggarakan Program D-3 sejak 1989. Perubahan ini memperluas pendidikan tinggi dengan tetap berakar pada tujuan awal lembaga: mempersiapkan perempuan untuk pelayanan, terutama bagi perempuan dan anak.
Yang Berubah, tetapi Tidak Hilang
Kini, pendidikan di STB HKBP berkembang lebih luas. Di bawah kepemimpinan Pdt. Maruhum Simangunsong, M.Th., STB HKBP melaksanakan kurikulum Program Studi Misiologi berbasis Outcome-Based Education (OBE), yang menata pembelajaran dengan mengacu pada capaian yang perlu dimiliki lulusan. Arah ini menghubungkan pengetahuan misiologi dengan kemampuan mahasiswa untuk membaca konteks, merancang pelayanan, dan menjalankan panggilan gereja secara bertanggung jawab di tengah masyarakat yang berubah. Namun, pusat perhatian tetap manusia. Perempuan, pemudi, anak-anak, keluarga, jemaat, dan masyarakat membutuhkan pelayan berpengetahuan yang bersedia hadir dan mendampingi.
Sejarah yang Terus Ditulis
STB HKBP menghadapi konteks yang terus berubah dan kebutuhan pelayanan yang semakin beragam. Sejarah lembaga ini menjadi dasar untuk mempersiapkan pelayan yang mampu menanggapi pergumulan manusia dengan bekal yang sesuai. Theresnaria berharap Bibelvrouw terus membuka diri untuk bekerja sama dengan para pelayan penuh waktu HKBP, meningkatkan sumber daya manusia melalui pendidikan lanjutan, serta memperkuat pembekalan psikologi kepada mahasiswa agar mampu melayani secara lebih utuh anak-anak, pemudi, dan perempuan dewasa. Ia juga melihat pentingnya pelayanan misi yang menjangkau masyarakat lintas budaya dan lintas agama dengan sikap hormat, dialog, dan kepedulian nyata. Harapan tersebut menempatkan misi sebagai pelayanan yang peka terhadap kebutuhan manusia dan konteks yang berubah.
Panggilan yang Menjadi Warisan
Elfriede Harder merintis pendidikan bagi perempuan yang terpanggil melayani. Para pelayan sesudahnya mempertahankan dan mengembangkan lembaga itu; para Bibelvrouw melayani perempuan, pemudi, dan anak-anak. Kini, STB HKBP, Prodi Misiologi mempersiapkan generasi baru untuk melanjutkan panggilan tersebut dalam konteks gereja dan masyarakat yang berubah. Panggilan itu diteruskan melalui pelayanan sehari-hari yang menghadirkan kasih Kristus bagi sesama.
* Penulis kini menempuh pendidikan di STB HKBP, dan menempuh pendidikan doktoral di Universitas Negeri Medan (UNIMED).























