(Kisah Para Rasul 2:14a, 22-32, Mazmur 16, 1 Petrus 1:3-9, Yohanes 20:19-31)
Narwastu.id – Pergumulan paling trending topic dalam hidup berkomunitas di gereja adalah mencari regenerasi dalam pelayanan. Kita menyadari bahwa kita membutuhkan pelayan, kita mencari penatua dan kita sangat merindukan gereja kita terus dapat bertumbuh dan berjalan mengikuti perkembangan zaman. Namun kerinduan itu tidak sejalan dengan respon yang ada. Banyak orang menolak ajakan pelayanan dengan mengatakan, “Saya belum siap”, “Saya belum pantas”, “Saya masih banyak kekurangan”, dan sebagainya. Respon-respon itu menjadi sebuah pola yang terus berulang, yaitu kita menunggu diri kita sampai cukup baik, baru kita mau melangkah.
Maka yang menjadi pertanyaan adalah: Jika semua orang menunggu siap, siapa yang akan menjawab panggilan pelayanan ini? Mungkin, respon-respon itu muncul karena adanya anggapan bahwa menjadi pelayan itu harus siap. Maka, apa sih arti siap? Apakah siap itu artinya tidak takut? tidak ragu? penuh secara rohani? Jika definisi pelayanan harus memiliki kesiapan yang demikian, maka kita sedang menciptakan standar yang bahkan Allah sendiri tidak pernah menuntutnya. Dan bahayanya, kita menjadikan ketidaksempurnaan sebagai alasan untuk tidak taat. Bisa jadi, yang terjadi bukan kita “tidak siap”, melainkan kita “tidak mau melangkah karena takut.”

Sadarilah bahwa dalam Yohanes 20, saudara melihat Yesus mengutus Para Murid dalam kondisi belum siap. Mereka berada dalam kondisi tidak berani, bersembunyi, mengunci pintu karena takut. Dan kalau kita pakai standar yang tadi tentang kesiapan pelayan, maka Para Murid tidak layak disebut sebagai pelayan. Namun justru di tengah kondisi yang demikian, Yesus datang bukan dengan mengatakan, “Kamu melayani saat siap ya” tetapi dengan, “Damai sejahtera bagi kamu…Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Pengutusan ini terjadi di tengah ketakutan. Thomas yang ragu pun tidak ditolak oleh Yesus. Yesus memberi ruang bagi Thomas untuk bergumul dan dari ruang pergumulan itu muncullah pengakuan iman terbesar, “Ya Tuhanku dan Allahku!”
Oleh karena itu, kesaksian tidak menunggu kondisi yang sempurna. Sebab kesaksian lahir dari perjumpaan yang nyata. Dengan demikian, kita bisa merefleksikan bahwa kesaksian itu bukan tentang kelayakan, tetapi tentang karya Allah. Petrus yang berdiri dengan lantang dalam Kisah Para Rasul 2 bukanlah Petrus yang sempurna. Ia pernah gagal. Ia pernah menyangkal Kristus. Namun ia kini bersaksi. Perubahan itu terjadi karena ia menggeser fokusnya. Ia tidak lagi melihat dirinya, ia melihat apa yang Allah kerjakan, yaitu mati dan bangkit untuk menebus manusia. Oleh karena itu, kesaksian bukanlah, “Saya sudah layak maka saya bersaksi” melainkan, “Allah bekerja, bahkan dalam hidup saya yang belum sempurna.”
Mungkin selama ini kita melihat pelayanan dengan sebuah beban seperti apakah saya cukup baik untuk melayani? Kapan saya bisa cukup baik untuk bisa melayani? Namun, firman Allah saat ini membalik pertanyaan itu, “Bagaimana kalau justru dalam pelayanan itu Allah membentuk kita?” Ketika kita merasa bahwa kita hanya siap 20% dan kita mau mengambil pelayanan lalu dalam pelayanan itu Allah membentuk sedemikian rupa sehingga kita semakin bertambah. Entah itu menjadi 21%, 22.4%, berapapun itu, kita terus mengalami pertumbuhan ke arah yang lebih baik. Bukan karena kita sudah siap, tetapi supaya kita diproses. Bukan karena kita sudah pantas, tetapi karena Allah mau memakai. Sebab jika kita terus menunggu sempurna, kita tidak akan pernah mulai. Dan 1.000 langkah tidak akan terjadi tanpa langkah pertama.
Banyak gereja tidak kekurangan orang mampu, tetapi kekurangan orang yang berani menjawab panggilan pelayanan itu. Paskah adalah berita kebangkitan. Namun lebih daripada itu, Paskah adalah pengutusan. Yesus datang ke Para Murid yang sedang takut dan Ia tetap berkata, “Aku mengutus kamu.” Hari ini mungkin Yesus juga mengatakan hal yang serupa kepada setiap kita. Bukan kepada orang yang paling siap, melainkan kepada kita yang hadir, yang mendengar dan yang bergumul, “Apakah kita mau percaya bahwa Allah bisa memakai kita bahkan dalam ketidaksiapan kita?”
Saksi Kristus yang mengubahkan bukan berasal dari orang-orang yang sempurna, melainkan orang-orang yang mau melangkah setelah berjumpa dengan Kristus yang bangkit. Selamat Paskah. Selamat mengambil langkah pertama dan menciptakan 1.000 langkah. Kiranya Allah menolong kita. Amin.
* Penulis adalah calon Pendeta GKI Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

























