Berani, Siapa Takut!

71

Bangsa kita bukan bangsa penakut. Paling tidak dari goresan rekam sejarah menyebut, para pahlawan terdahulu, tatkala melawan penjajah hanya mengusung bambu runcing. Berhadapan bedil kolonialis, meski banyak korban jiwa. Atau bukti lain, pascateror Sarinah hashtag #Kami Tidak Takut sempat menjadi tranding topic, mengungguli tagar lain di media sosial beberapa waktu lalu. Itu bukti para pengguna internet (netizen) di Indonesia menunjukkan keberanian melawan teroris. Nyatanya masyarakat tetap asyik berselfie ria.

Namun secara personal, kenyataan menunjukkan begitu banyak orang berhenti hanya pada angan-angan, dikungkung “perasaan takut.” Ketakutan merupakan penghalang pikiran untuk bisa bernalar jernih. Berpikir dengan takut, tentu akan terus meneror pikiran. Rasa takut bisa menjadikan kita terlalu berhati-hati. Waswas bertindak memang tak salah, yang salah karena terlalu hati-hati, jadi takut mewujudkan. Akhirnya pikiran di awang-awang, nir-tindakan. Pengalaman saya berinteraksi dengan beberapa teman yang baru saja memulai bisnis tetapi gagal, mereka trauma memulai lagi. Undur dari bisnis, malah ingin kembali ke kehidupannya lalu, misalnya, kembali menjadi karyawan, karena tak berani memulai lagi. Jelas memang tak mudah pulih dari rasa takut.

Berbagai teori menyebut, memulai bisnis tak otomatis langsung berhasil. Takut bangkrut. Takut gagal membuat orang takut mewujudkan cita-citanya. “Keberanian tak ada, jika rasa takut tidak ada.” Secara logika tak perlu ada ketakutan. Namun dari pandangan kejiwaan bahwa rasa takut itu bersemayam dalam diri manusia. Sebelum seseorang mampu mengendalikan rasa takut ia akan selalu hidup dalam buaian kenyamanan, dan terkungkung. Padahal ketakutan harus dilawan. Orang yang sudah bisa menalar mampu mengelola rasa takut, tentu memiliki pikiran yang telah tertata dalam bernalar. Sudah pasti orang seperti ini menyiapkan diri pada skenario terburuk. Jika ia membuat satu tindakan atau keputusan yang salah. Artinya, seorang pemberani sejati pasti memiliki logika itu. Jikalau gagal, skenario terburuk ia siapkan.

Kalau sudah demikian, rasa takut tidaklah selalu buruk. Ia bisa menjadi pengelola perasaan dan pikiran. Bahkan, rasa takut positifnya bisa mendorong agar terus belajar dan belajar. Mengembangkan diri untuk tak pernah merasa puas menjadi pembelajar sejati. Maka ada ungkapan, “Jangan takut, tapi jika engkau benar-benar takut kepadanya, maka berlatihlah dengan keras. Sehingga ketakutanmu tadi takut kepadamu.”

Misal, kalau kita tahu kita lemah dalam menulis, padahal kita telah menetapkan diri menjadi penulis, berarti tak ada kata lain selain terus-menerus belajar cara menulis apik. Benarlah kata para motivator, bahwa ketakutan yang paling menakutkan adalah rasa takut itu sendiri. Bahwa memang musuh terbesar kita melawan diri sendiri yang bersemayam dalam ketakutan. Sebab ketakutan meneror, menutup potensi diri. Terlalu banyak cerita kisah manusia yang tak berhasil melawan rasa takutnya. Itu sebab, rasa itu harus dikelola sebagai bagian dalam perjalanan hidup. Agar rasa takut itu tak lagi membawa traumatik. Perasaan takut gagal adalah hal paling umum.

Sudah menjadi habit manusia memiliki rasa takut. Setiap orang merasa takut. Entah siapa pun itu. Dari yang berpendidikan hingga profesor sekalipun, memiliki rasa takut. Dari orang besar hingga orang kecil. Artinya manusia normal pastilah memiliki rasa takut. Bagi saya, ketakutan semacam antena untuk menangkap sinyal. Hanya saja rasa takut itu harus dikelola dengan sepatutnya. Diarahkan pada posisi yang benar. Antena kita arahkan ke mana, dan bagaimana mengarahkan antena kita tepat dan benar agar menangkap sinyal. Menjadi hal penting, jika kesadaran “ketakutan” itu ada. Menghadapi dunia dan segala isinya kita tak perlu takut. Sebab pada Tuhan-lah rasa takut itu diarahkan.

Cara melawan ketakutan, bermacam-macam cara orang. Ada mengonsumsi narkoba, karena tak mampu menalar kenyataan hidup yang dihadapinya. Ada orang meminum minuman keras agar berani menghadapi ketakutan. Bahkan, ada atlet yang menggunakan doping yang dipercaya meningkatkan performa, takut menghadapi kekalahan. Cara melawan ketakutan, sepertinya adalah salah. Sebentar berani, tetapi setelah khasiat dosisnya selesai, malah membawa ketakutan yang berlipat kali ganda. Itu kisah dan contoh melawan ketakutan yang salah, membuat manusia bertindak tak wajar.

Alih-alih bahwa rahasia sesungguhnya melawan ketakutan, dengan menempatkan ketakutan kepada Tuhan. Sebab dari Tuhan-lah sumber keberanian itu datang. Jangan takut sebagaimana Yesaya memotivasi Israel, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).

Agar menemukan kebermaknaan dari pecarian kita di kehidupan, harus berani menghadapi risiko. Keluar dari zona nyaman. Sebab keberhasilan hadir pada orang-orang yang mau meninggalkan kenyamanan, menantang risiko. Tak pernah datang pada mereka yang tak berani menanggung risiko. Menghindari rasa takut itu harus dicurigai sebagai pembawa kenyamanan sesaat. Penakut, selalu ingin berlindung dalam zona aman itu. Tak mau memiliki risiko apapun, setidaknya takut pada risiko. Padahal, hidup dalam wilayah aman pun juga tak menutup kemungkinan ada ketidaknyamanan.

Tulisan ini mengajak untuk melawan rasa takut dengan menyerahkan ketakutan kita kepada Tuhan untuk ditukarkan menjadi keberanian. Akhirnya, saya terkesima dengan kata-kata seorang novelis tenar Inggris, anak dari seorang biarawan Anglikan bernama Sir Hugh Seymour Walpole (1884-1941). Dia pernah menuliskan, perasaan takut adalah hal yang paling berbahaya di jagat ini. “Jangan takut, takut adalah hal paling berbahaya di dunia.” Karena itu, tak perlu takut. Rasa takut perlu dikelola menjadi pendukung keberhasilan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here