Narwastu.id – Siang itu (3 Mei 2026) selesai ibadah Minggu, saya dan senior sekaligus rekan sepelayanan, Bung Thomas Pattiradjawane, menggunakan KRL dari stasiun Sudimara, kami berdua menuju Jakarta, tepatnya ke Rumah Duka Carolus di Jalan Salemba, Jakarta Pusat, untuk melayat Pdt. DR. Nus Reimas, hamba Tuhan yang tegas, yang kabar dukanya tersebar dengan cepat di berbagai group WhatsApp dan media sosial. Saya mengenal om Nus, begitu saya selalu menyapanya, pertama kali di tahun 1988, saat saya dan beberapa teman dari Persekutuan Mahasiswa Kristen – Live and Life Christ (PMK-LLC) IISIP Jakarta diutus mengikuti Camp Mahasiswa Nasional di Wisma Kinasih Caringin, Bogor. Om Nus saat itu menjadi salah satu pembicara. Sejak pertama kali bertemu dan mendengarkan pemikirannya serta gaya berbicaranya yang khas seorang timur, saya sudah langsung terkesan, dan bahkan kemudian akrab dengan beliau.

Seiring berjalannya waktu, kami sering bertemu di beberapa acara, khususnya yang diadakan oleh Majalah Kristen NARWASTU lewat wadah FORKOM NARWASTU. Dan seingat saya terakhir bertemu almarhum kurang lebih 4 tahun lalu (Januari 2022) di acara penyerahan penghargaan kepada para tokoh pilihan NARWASTU. Saat itu seperti biasa, beliau sangat berapi-api saat menyampaikan pemberitaan firman. Di acara inilah kami berfoto bersama untuk yang terakhir kalinya. Saat berjalan memasuki Rumah Duka Carolus, sepanjang jalan kami menemukan puluhan, bahkan mungkin ratusan bunga papan dari berbagai kalangan yang menyatakan rasa kehilangan mereka atas kepergian salah seorang tokoh gereja yang punya kepribadian, yang menyenangkan banyak orang ini.

Awalnya sesuai rangkaian acara yang disebarkan, kami langsung naik ke lantai 7 rumah duka tersebut. Tapi ternyata oleh petugas kebersihan yang kami jumpai di lantai itu, disampaikan bahwa jenazah almarhum pendeta yang pernah menjadi Ketua Umum PGLII 2006-2015, Pembina LAI, Pembina Majalah NARWASTU dan Ketua Dewan Pembina LPMI ini, dipindahkan ke lantai 8 karena lantai sebelumnya tidak cukup menampung para tamu yang datang memberikan penghormatan terakhir mereka kepada almarhum. Sungguh suatu bukti bahwa Om Nus telah menempati hati banyak orang dan telah Tuhan pakai menjadi teladan yang luar biasa.
Info yang kami terima dari salah seorang staf LPMI di sana, Pendeta Nus menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya pada Jumat malam, 1 Mei 2026, pukul 23.00 WIB. Meski terbujur kaku di dalam peti, almarhum terlihat tersenyum bahagia. Beristirahatlah dalam pelukan Bapa di Surga yang lebih mengasihimu, Om Nus. Sampai bakudapa di Yerusalem Baru (Mazmur 116:15). Tuhan Yesus selalu ada buat Tante Dien, isteri terkasih dan anak cucu.
* Penulis adalah aktivis gereja, lulusan IISIP Jakarta dan pemerhati sosial serta kemasyarakatan.

























