
Almarhumah Nursinta, yang lahir di Tiga Dolok (Sumatera Utara), 16 Desember 1936, meninggal pada Kamis, 22 Agustus 2024 pukul 19.00 WIB dalam usia 87 tahun 8 bulan. Jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka UKI Cawang, Jakarta Timur. Sedangkan ibadah pelepasan dan penutupan peti jenazah lebih dulu digelar sebelum dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur, pada Senin 26 Agustus 2024. Acara ibadah pelepasan dan tutup peti dipimpin Pdt. Manumpak Sihombing Nababan dari HKBP Menteng, Jakarta.


“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan (Roma 14:8).” Itulah yang ditegaskan saat acara ibadah pelepasan. Sungguh mulia kegiatan pelayanan yang dilakoni almarhumah di masa hidupnya. Dia adalah anggota jemaat di Gereja HKBP Menteng, Jakarta Pusat. Dan meninggalkan 10 anak, di antaranya 4 laki-laki dan 6 perempuan. Jumlah keseluruhan anggota keluarganya, termasuk menantu dan cucu, yakni 38 orang. Sungguh, Allah itu maha baik, atas hidup ibu yang sudah banyak memberi nasihat, contoh yang baik dan tidak lelah berbagi renungan setiap pagi kepada keluarga besarnya.
Sekadar tahu, di masa hidupnya almarhumah setia dalam pelayanan, memuji nama Tuhan dan seorang yang aktif dalam memimpin puji-pujian di gereja. Dia dikenal Sang Dirigen yang rendah hati, tegas dan sabar dalam segala pergumulannya. Bagi almarhum, pelayanannya menjadi dirigen dan bernyanyi, sungguh membahagiakan hatinya. Dan baginya, bentuk pelayanan apapun bisa kita berikan untuk memuliakan nama Bapa di surga. Dan itulah kata-kata yang pernah diucapkan di masa hidupnya.
Saat ia meninggal, ada banyak yang melayat dan memberikan penghiburan kepada keluarga. Tidak hanya dari anggota jemaat gerejanya, tetapi bentuk perhatian juga datang dari masyarakat setempat, keluarga, relasi dari keluarga dan kerabat jauh maupun dekat hadir untuk melihat dan mengantar almarhum di peristirahatannya yang terakhir. Penghormatan terakhir juga diberikan komunitas atau koor dari HKBP Menteng dalam bentuk nyanyian. Lagu mereka sangat merdu saat dinyanyikan. Dan tidak henti-hentinya pula secara bergantian para pelayat ikut menyumbang pujian untuk Sang Dirigen yang piawai dalam memainkan tangannya dalam setiap ketukan lagu apapun.


























