Narwastu.id – Natal Komisi Usia Lanjut (KUL) GKI Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, yang diadakan pada Selasa, 30 Desember 2025 lalu, mungkin merupakan perayaan Natal yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dihadiri oleh cukup banyak anggota KUL GKI Pamulang, perayaan Natal yang diadakan di ruang Pniel GKI Pamulang itu juga mengundang beberapa perwakilan jemaat lansia gereja-gereja sekitar. Diawali dengan pujian “Titian Kasih” yang dinyanyikan oleh Caroline Tumbo, liturgi malam itu mengalir dalam bentuk fragmen sesuai besutan Steven Lay Raga, sutradara malam itu, dengan judul “Balada Keluarga.”


Babak pertama dimulai dengan munculnya bapak Raden Mas Ngabei Slamet Sastroatmodjo Condro Pranoto Joyo Sendiko Tirto Asmoro, tuan rumah dari acara perayaan Natal malam itu. Pak Ngabei didampingi bestie lamanya pak Rio yang terkenal sebagai pembawa acara terkenal. Memasuki babak kedua, jemaat dan tamu undangan disuguhi penampilan dari Paduan Suara Anak dan Remaja (PSAR) GKI Pamulang dengan lagu mereka “Come Sing, Alleluia.” Di babak kedua, pak Ngabei menerima telepon dari anak sulungnya yang mengabarkan tidak bisa hadir di acara malam itu, karena masih berada di Dubai untuk urusan minyak. Si sulung meminta maaf dan berjanji akan membelikan mobil dan mengirimkan uang kepada sang ayah untuk merayakan Natal. Hal ini membuat pak Ngabei merasa sangat kecewa.
Menjelang masuk babak ketiga, di layar videotron ditampilkan video perjumpaan anak tengah dengan sang ayah. Anak tengah yang menjadi seorang pendeta wanita terkenal datang menjumpai ayahnya bersama asistennya memohon maaf tidak bisa mendampingi ayahnya di perayaan Natal malam itu sambil menyerahkan tiket berlibur ke Yerusalem kepada ayahnya sebagai hadiah Natal. Dia harus segera terbang ke Papua untuk menghadiri Perayaan Natal Nasional yang juga dihadiri Presiden RI. Dan kembali sang ayah kecewa. Sang bestie yang setia menemani kemudian menanyakan keberadaan si anak bungsu. Pak Ngabei kemudian menceritakan kejadian saat si sulung yang ribut dengan si bungsu, berujung si bungsu pergi meninggalkan rumah tanpa berita. Videotron kembali menayangkan keberadaan si bungsu yang luntang lantung di jalanan tanpa arah tujuan.

Di momen ini Pdt. Benget Tambunan hadir di depan jemaat dan tamu undangan menyampaikan renungan Natal malam itu yang mengingatkan para lansia untuk selalu hidup berpengharapan kepada Kristus.

Di babak berikutnya, Pak Ngabei dan sang bestie berjalan masuk menuju altar. Sang bestie masih terus berusaha menenangkan sahabatnya yang mengalami kekecewaan luar biasa karena perayaan Natal yang sudah ia persiapkan setahun yang lalu itu tidak dihadiri satu pun anaknya.
Pak Rio kemudian mencoba menghibur sahabatnya. Kali ini mengajak pak Ngabei untuk mendengarkan pujian “Gita Surga Bergema” yang dinyanyikan oleh PS KUL – GKI Pamulang sambil memainkan angklung.

Kejadian mengharukan terjadi saat prosesi penyalaan lilin Natal. Ketika lagu Malam Kudus sedang dilantunkan oleh PSAR, tiba-tiba si anak bungsu berlari masuk dan tersungkur di kaki ayahnya. “Ayah, aku pulang…” Pak Ngabei tidak dapat menahan rasa harunya. Iya menangis bahagia sambil memeluk si bungsu yang telah kembali ke rumah. Dia kemudian mengajak semua yang hadir untuk mengakhiri perayaan Natal malam itu dengan bersantap malam bersama.

BALADA KELUARGA,
Pemeran:
Ayah: Siswoyo Yose
Anak Sulung: Abednego Argi
Anak Tengah: Kezia Annora Tassayu
Anak Bungsu: Raphael Julius
Sahabat Ayah: Rio Ririhena
Sutradara: Steven Novriady Lay Raga
Narator: Pdt. Benget Tambunan
Kantoria: Tim KUL
Pemusik: Tim KOMPA.
Dalam perayaan Natal malam itu pun ditampilkan video ucapan selamat Natal kepada semua anggota KUL GKI Pamulang dari Pdt. Jacky Manuputty – Ketua Umum PGI. RR

























