Kala Jakarta Diprediksi Bisa Saja Tenggelam

21
Sebuah pemandangan banjir di Jabodetabek.

Narwastu.id – Mengawali 2026 dengan situasi yang kurang menggenakkan, suka atau tidak sepertinya memang harus diterima. Gambaran itulah yang mewakili kondisi Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) yang sedang mengalami banjir akibat curah hujan yang tinggi hari lepas hari. Sejumlah ruas jalan di setiap sudut kota Jakarta maupun Bekasi dan sekitarnya digenangi air dengan ketinggian yang cukup signifikan. Sebagai langkah antisipasi, maka Pemprov DKI Jakart melakukan rekayasa cuaca guna menimalis dampak yang ditimbulkan.

Meskipun banjir menjadi situasi yang rutin terjadi, tapi tetap saja masyarakat sulit berdamai dengan keadaan. Padahal banjir yang terjadi, toh, akibat dari perilaku sehari-hari masyarakat yang enggan tertib membuang sampah.

Alhasil, masalah klasik yang terus coba diusahakan segala cara sepertinya mustahil akan terwujud jika kesadaran akan menjaga lingkungan di sekitarnya belum dilakukan dengan sepenuhnya. Ditambah lagi perubahan iklim yang tidak bisa diprediksi dan berdampak di semua sektor kehidupan.

Para ilmuwan berpendapat, lambat laun sumber daya alam akan terkikis abis. Bahkan, ada prediksi kalau suatu hari nanti dunia akan mengalami masa kegelapan karena ketiadaan listrik, air dan sumber penghidupan lainnya akan mengalami kendala yang berarti. Berbagai tanda alam sebetulnya telah terjadi dan masuk dalam kondisi darurat. Jika tidak ditangani dengan baik perubahan iklim seperti mengurangi emisi karbon, mengurangi produksi ternak, tidak lagi membuka lahan dan konsumsi bahan bakar fosil, tidak menutup kemungkinan kalau kondisi saat ini akan lebih parah dari yang sebelumnya.

Sebagai negara yang didominasi kepulauan tentu Indonesia juga memiliki langkah strategis dalam penanganan banjir dan adaptasi iklim, misalnya, rehabilitasi ekosistem pesisir (hutan mangrove) guna melindungi pantai dari abrasi dan kenaikan permukaan air laut, membangun dan memperbaiki infrastruktur tanggap bencana termasuk membuat sumur resapan, drainase serta bendungan untuk mengelola pola hujan yang tidak teratur, peningkatan ruang terbuka hijau (RTH), tata ruang yang bijak dengan mencegah pembangunan pemukiman di daerah resapan air dan bantaran sungai.

Bergantinya kepala daerah dari waktu ke waktu, rupanya belum ada satu pun yang mampu menangani banjir di DKI Jakarta dan sekitarnya. Padahal, mengatasi banjir menjadi salah satu program yang dikampanyekan ketika pemilihan DKI-1 dan 2, selain itu, juga soal mengatasi kemacetan. Untuk mengatasi dua persoalan yang sampai saat ini belum ada tanda-tanda penyelesaiannya, ada baiknya Pemprov DKI Jakarta menggandeng kepala daerah lainnya, seperti Jawa Barat dan Banten. Kalau perlu mencari tahu perihal antisipasi pencegahan banjir yang dilakukan perumahan elite di kawasan Pantai Indah Kapuk 1 dan 2 yang sempat tergenang air, namun dapat menyusut/surut dengan cepat hanya dalam waktu dua jam. Jika saat ini sejumlah daerah yang sebelumnya tidak menjadi korban dari amukan air, namun sekarang pun ikut menjadi korban, maka tidak bisa dibayangkan di masa yang akan datang. Jangan sampai prediksi soal Jakarta akan tenggelam menjadi kenyataan. Karena kalau benar terjadi, maka dapat dipastikan ibukota negara akan hijrah ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Dan selain perlu menjaga kota kita, doa bagi kota kita perlu pula dipanjatkan pada Tuhan, karena Dia-lah pelindung sejati. Dbs/BTY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here