Narwastu.id – Pada Senin, 9 Februari 2026 jadi momentum bagi Lembaga Alkitab Indonesia untuk bersyukur kepada Tuhan, atas pertolonganNya, yang telah memimpin, sehingga LAI genap berusia 72 tahun. Acara itu mengusung tema “Sabda Ilahi Menginspirasi Budaya Digital.” Acara HUT ke-72 LAI kali ini diadakan di Gereja Bala Keselamatan di Jalan Kramat Raya No. 55, Jakarta Pusat. Acara dimulai pukul 16.00 WIB.
Acara ini dihadiri oleh Ketua Panitia Lirfa Ravika Sinaga, Ketua Umum LAI Pdt. Dr. Henriette Tabita Hutabarat-Lebang, M.A., Dirjen Bimas Kristen diwakili Luksen Jems Mayor, S.Sos., MAP., Dirjen Bimas Katolik diwakili Dr. Salman Habeahan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diwakili Ali Maulana Hakim, S.IP., M.Si, para organ dan komisaris LAI, pengurus LAI, pimpinan gereja aras nasional, pimpinan sinode, para mitra pelayanan LAI, para pensiunan LAI, karyawan LAI, dan banyak tamu undangan hadir.

Firman Tuhan dibawakan oleh Mayor Kriston Harinei, M.Th (Komandan Divisi Jawa bagian Barat Bala Keselamatan), yang membahas Yohanes 1:14. Dikatakannya, saat ini kita hidup di era di mana jarak dan kedekatan menjadi spatistik, dunia sedang menjalani migrasi besar ke arah ruang virtual.
Di awal tahun 2026, ujarnya, dari 8,2 miliar populasi penduduk dunia, sebanyak 5,5 miliar jiwa terhubung dengan internet. Di Indonesia hampir 80% penduduk kita menghabiskan rata-rata lebih dari 3 jam setiap hari untuk menatap layar persegi di genggaman tangan mereka. Itu artinya 8 dari 10 orang di Indonesia terhubung dengan dunia digital. Disebut di Yohanes 1:14, Allah yang tidak terbatas bersedia dalam ruang dan waktu untuk menyapa manusia. Bahkan, Dia bersedia meninggalkan keilahiannya untuk memberikan keselamatan. Lalu bagaimana kita menterjemahkan sabda tersebut dalam ruang digital yang tanpa batas?

Karena itu saudara-saudara, sebelum mengetik komentar, bayangkan di balik itu ada orang yang bisa terluka, ada jiwa yang memiliki beban hidup, ada pribadi yang ditebus oleh darah yang sama. Saat melihat kegagalan sesama atau unggahan duka, katanya, jangan memberikan emoji yang negatif. Tetapi berikanlah waktu kita untuk mengirim pesan pribadi yang menguatkan, yang menunjukkan kita hadir, sebagai manusia bagi manusia lainnya. Maka kita pun dipanggil untuk membawa empati Kristus ke dalam dunia digital.
Sabda Ilahi mendorong kita untuk merespon budaya digital harus menjadi jembatan, bukan tembok, kita dipanggil untuk hadir bagi yang kesepian dan memberikan telinga untuk mendengar kebisingan. Dan kita harus hadir berkualitas bagi mereka yang membutuhkan sentuhan kasih yang nyata. Dalam acara HUT LAI ini diluncurkan pula buku “My Pop Up Bible” buku mewarnai. Acara HUT LAI ini juga dimeriahkan oleh persembahan tamborin dari Gereja Kemah Injil Indonesia, paduan suara dari komunitas Kompak, ada pula lagu-lagu pujian yang dinyanyikan oleh Saykoji. Kemudian acara ditutup dengan pembagian doorprize, selanjutnya doa makan. JK

























