Imanuel Natalio Melayani “Mereka yang Terhilang”

27
Imanuel Natalio.

Narwastu.id – Imanuel Natalio, adalah seorang pendeta muda di Gereja Bethel Tabernakel (GBT) Ark of God, Kelapa Gading, Jakarta, yang sejak 2019  terpanggil melayani generasi muda yang mengalami pergumulan berat, seperti pecandu narkoba, gay-lesbian, dan mereka yang termarginal, lewat HOME (House Of Mercy & Encouragement) di wilayah Kemayoran. Dalam bincang-bincang bersama Majalah NARWASTU di salah satu mall di bilangan Jakarta Selatan, pria kelahiran Jakarta, 14 Desember 1986 ini mengaku, panggilan tersebut tidak lepas dari pergumulan hidup yang pernah dialaminya.

“Tahun 2013 saya mengalami gangguan bipolar (mental illness), kondisi yang saat itu sepertinya masih tabu untuk dibicarakan, belum ada obat, dan tidak kelihatan penyakitnya, fisik saya biasa saja. Saya merasa ada suara bisikan-bisikan di telinga, bahkan suka berkomunikasi dengan benda mati.  Gejalanya makin parah, dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari GMB, karena saya merasa tidak memungkinkan untuk berinteraksi dengan orang lain,” tutur anak ketiga dari tiga bersaudara ini.

Meski beberapa temannya kerap mengingatkan akan kelakuannya yang terlihat tidak lazim, Imanuel cuek, karena merasa tak ada yang salah dengan dirinya. Namun sebuah kejadian menyadarkannya. “Suatu ketika saya sedang mengendarai mobil, persisnya di  dekat Sudirman Plaza, ada suara yang menyuruh untuk menabrak pengendara motor yang ada di depan. Saya pun tancap gas dan langsung menabraknya. Begitu sadar saya liat orangnya sudah tergeletak di bawah mobil, motornya ringsek, orang-orang sudah berkumpul mau menghakimi saya,” ceritanya.

Sejak saat itu, dia pun memutuskan untuk menemui psikolog dan psikiater, dan didiagnosa mengalami gangguan bivolar. “Akhirnya saya berinisiatif untuk berobat secara rutin ke psikolog dan psikiater. Waktu itu orangtua belum tahu penyakit saya, sempat sharing tapi tidak dianggap serius. Tapi sekarang sudah booming ya, banyak orang bunuh diri karena depresi,” tutur Imanuel. Pergumulan hidupnya tidak sampai di situ. Jebolan University of Technology, Sydney (UTS) ini pun tenggelam dalam pergaulan bebas, dan menjadi pecandu narkoba. Untuk memenuhi ketergantungannya akan narkoba, semua barang yang dimiliki, termasuk mobil, ludes terjual.

Bertemu Seorang Pendeta

Suatu waktu, sang ibu mempertemukan Imanuel dengan seorang pendeta yang tidak dikenalnya. Pertemuan tersebut menjadi titik balik dalam kehidupannya. Saat berbincang, si pendeta justru mengetahui apa yang dialami Imanuel. Mulai dari pergumulan akan kesehatan mental hingga penggunaan narkoba. “Dia bilang lanjutkan kehidupanmu, nanti pada saat ini selesai Tuhan mau pakai kamu melayani anak muda seperti yang kamu alami,” ungkapnya.

Tersentak dengan apa yang disampaikan si pendeta tadi, pada malam harinya Imanuel pun meminta mukjizat dari Tuhan jika memang Tuhan ingin memakainya menjadi pelayan. “Saya memohon agar terlepas dari jeratan narkoba tanpa merasa sakauw. Lalu beberapa hari setelah itu saya demam tinggi, waktu malamnya saya tidur badan terasa sudah segar. Waktu mau nyuntik narkoba lagi badan terasa sakit seakan-akan menolak, tidak ada kenikmatan, tidak ada efek, justru sakit badan. Lalu saya coba jenis lain sama saja. Lewat hari itu benar-benar saya sudah tidak ada keinginan pakai narkoba, luar biasa. Bahkan berpikir mau pakai saja sudah muak,” paparnya.

Namun satu mukjizat yang diberikan Tuhan dirasa kurang cukup. Keesokan harinya Tuhan memberi tanda lewat sang nenek yang tiba-tiba menghubungi Imanuel. “Oma bercerita katanya dia melihat saya lagi khotbah di depan mimbar. Saya kan tidak pernah melayani, tiba-tiba dapat telepon seperti itu jadi kaget juga. Lalu saya berpikir Tuhan sungguh dahsyat. Banyak orang di luar sana yang lama menerima jawaban Tuhan, sementara saya tidak seperti ini. Dari sini saya merasa ada hal yang mendesak yang memang Tuhan ingin saya lakukan,” katanya.

Seminggu kemudian, Imanuel pun menjawab panggilan Tuhan untuk melayaniNya, terkhusus bagi generasi muda yang mengalami pergumulan hidup seperti yang dialaminya. Untuk membekalinya dengan pengetahuan, dia pun mengikuti pendidikan teologia di Harvest International Theology Seminary (HITS) pada 2018. Keputusannya itu disambut dengan penuh sukacita oleh kedua orangtuanya. Meski tetap harus menjalani pengobatan akibat penyakit, dan dampak dari kehidupannya masa lalunya, Imanuel mengaku tetap berkomitmen untuk melayani secara full time meski sambil kuliah. Bahkan, ketika cobaan masih menghampiri, seperti pada 2019 dia harus dirawat di RSPI dan mengalami koma selama empat hari, justru Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Pertolongan terus diberikan dan semakin menguatkan imannya.

“Malah saat saya koma, saya melihat ada satu titik terang dan kalau diperhatikan terang itu seakan berjalan ke arah saya. Cahayanya semakin membesar dan bentuknya seperti seseorang dengan mengenakan jubah putih, wajahnya memancarkan terang yang luar biasa. Setelah saya terbangun dari koma semua selang-selang yang ada di tubuh saya akhirnya dicabut,” ujarnya. Pelayanannya dimulai dari ajakan teman untuk memberi kesaksian di beberapa gereja. Hingga akhirnya GBT Ark of God mengajak untuk melakukan pelayanan bagi generasi muda dan resmi ditahbiskan menjadi youth pastur (pendeta muda). Selain itu, membentuk komunitas anak muda di wilayah Kemayoran, yang “terhilang” karena pergumulan hidup.

Imanuel merasa berkat Tuhan yang luar biasa, karena telah keluar dari pergumulan hidup yang dialaminya. Untuk itu, melalui pelayanannya, dia ingin membagi berkat kepada generasi muda yang “terhilang” karena mengalami pergumulan yang sama dengannya.

“Sekarang saya sudah menjalani versi terbaik dalam hidup saya. Walaupun total 6 tahun menjalani hidup yang tidak enak, namun kini sepertinya hidup saya sudah komplit dan sempurna,” pungkasnya. FD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here