Berbahagia di Atas Penderitaan Orang Lain

* Oleh: Drs. Alidin Sitanggang, M.M., M.Th. 

24

Narwastu.id – Siapakah yang tidak merasakan satu kebahagiaan bila dapat memberangkatkan pasangan, anak-anak, orangtua, mertua, dan keluarga dekat beramai-ramai ke Holy Land atau umroh? Seseorang yang mampu membeli rumah dan mobil mewah, perhiasan, dan fasilitas lainnya serta memberikan kepada orang-orang lain. Lebih agamis lagi ringan tangan menyumbang rumah ibadah seperti gereja, kegiatan rohani, atau  sosial. Dalam proses waktu, ternyata dananya bersumber dari hasil korupsi. Asumsi umum berpendapat bahwa indikasi korupsi baru ada setelah ditangkap KPK, lembaga antirasuah. Pemikiran itu sebenarnya picik dan rendahan. Padahal penyelewengan keuangan di institusi formal, informal, dan nonformal dikategorikan juga sebagai perbuatan korupsi. Misal di gereja, tempat bekerja, organisasi, paguyuban, hingga arisan dan kepanitiaan bisa menjadi ladang subur maling, terlepas dari sisi nominalnya.                  Intinya sama-sama menyebabkan kerugian, memakan korban, tindakan amoralitas sampai pada dosa.

Kehendak bebas yang terkandung adalah berusaha membahagiakan diri, keluarga, komunitas, lingkungan, dan warga tertentu dengan merampas dan membunuh orang/hak pihak lain. Uang korupsi Rp 6,7 triliun, Rp 3 triliun, Rp 16 miliar, dst bisa membangun ribuan pabrik tapioka, food estate, konveksi, pasar, sekolah, dll sehingga dapat menghidupi jutaan penduduk.

Dalam bidang lain realitas itu juga sering terjadi. Untuk menduduki jabatan/naik pangkat diimplementasikan strategic management bijaksana bijaksini pijak sana pijak sini, asal naik tangga. Persaingan dagang, tender, dan lain-lain bisnis menggunakan cara-cara abnormal guna melumpuhkan kompetitor-kompetitor dan memuluskan jalan sendiri.

Lebih ironis lagi, meminta bantuan kepada  “orang-orang pintar”, memaksakan diri ke gunung tertentu  hingga mengadakan perjanjian  nyawa/keturunan dengan penguasa-penguasa, roh-roh jahat di udara  (Efesus 6:12). Ada yang dibalut dalam selubung keagamaan. The aims satisfy the means, menghalalkan segala cara. Intrik-intrik di atas hanya sebagian kecil dari praktik yang pernah, sedang, dan akan terjadi dalam banyak bidang kehidupan oleh oknum tak terkecuali yang sejak lahir sudah Kristen. Setelah memperoleh hasrat nafsunya, secara sadar dia melihat dan merasakan bahwa ada jiwa, kelompok, dan rakyat yang telah menjerit, mengerang, bahkan tertindas dan terbunuh. Sementara sang pelaku asyik  menikmati hasil perburuan bersama dengan pihak sekitarnya, di balik sana  terpapar  penderitaan puluhan, ratusan, dan jutaan  nyawa yang tidak bisa bekerja, sakit-sakitan, frustrasi, depresi, tertekan kekuasaan, dan tidak mampu berbuat apapun. Betapa sadisnya insan seperti itu.

Niat, konsep rencana, dan kerangka berpikir seperti itu sudah tidak eranya terbesit dalam jiwa (pikiran, perasaan, dan kehendak) setiap manusia. Refleksi Paskah mengingatkan kita kembali akan adanya legalitas dan keabsahan untuk boleh berbahagia  di atas penderitaan orang lain. Hal tersebut nyata dan jelas tidak menabrak hukum, etika, dan moralitas umum. Juga bukan menjadi pemberontakan kepada Elohim Yahwe dan hukumNya atau menyakiti hatiNya.

Justru untuk itulah Firman telah menjadi manusia dan diam di antara kita (Yoh. 1: 14). Tidak salah bila disimpulkan bahwa selama di dunia, hidup Yesus dominan di dalam berbagai jenis dan bentuk penderitaan. KelahiranNya sudah membuktikan suatu ketidakwajaran total. Mana ada orang lahir di palungan kandang ternak yang gelap, bau pipis dan kotoran. Maria dan Yusuf saja yang menemani di antara penghuni kandang.

Ulah ahli taurat dan tokoh agama yang selalu berikhtiar dan mencari kesempatan untuk menolak,  menggulingkan ke lembah, melempari dengan batu, dan membunuhNya. Tuduhan merusak adat  istiadat dan taurat, mengganggu ketenteraman masyarakat, melawan pemerintah,  penistaan agama, hingga menghujat Allahnya Bapa Abraham dan nabi Musa bertubi dilontarkan. Merasakan situasi kondisi dalam ketakutan yang amat sangat dirasakan  oleh sang Anak Domba Allah secara pribadi, sampai-sampai peluh pun seperti darah menitik ke bumi (Luk. 22:44 TL). Derita psikologis yang terberat di seantero dunia sepanjang sejarah sejak dunia diciptakan.

Penderitaan Komprehensif

Anak Domba Allah, untuk  mengangkut dosa isi dunia (Yoh. 1: 29 TL), mengalami penderitaan yang selengkap-lengkapnya/komprehensif. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku tiada yang terrluput dihajar dari seluruh arah mata angin. Semua menimbulkan kucuran darah bercampur keringat yang ditambah ludah para penganiaya. Dalam kehausan tingkat tinggi, disuruh  meminum air cuka super asam. Sadis, masih ditombak lambungNya meski sudah wafat hingga titik air terakhir membasahi bumi. Serigala ada lobangnya, burung di udara ada sarangny, tetapi Anak Manusia tidak ada tempat untuk meletakkan kepalaNya. Terkatung-katung. Penderitaan fisik dari A sampai Z komplit dirasakan.

Penderitaan Radikal

Dalam rupa seorang hamba berkeadaan sebagai manusia (Fil. 2:7, 8), Yesus menelan segala penderitaan sampai ke akar-akarnya (radix). Disalib adalah vonis mati yang paling berat, terhina, dan distempel terkutuk. Diperlakukan secara lebih bejat daripada Barabas, terpidana mati ýang mendapat grasi bebas murni. Disejajarkan dengan  penjahat di kiri dan kanan. Diolok-olok, dinista, direndahkan di hadapan ribuan pasang mata. Tidak ada setitik pun rasa kemanusiaan dari perbuatan mereka. Yang dinamakan penderitaan kejiwaan ditimpakan pada Yesus demi menghapuskan dosa.

Penderitaan Objektif

Peristiwa Golgota adalah penderitaan murni tunggal. Mulai dari taman Getsemani, Sang Guru membiarkan para murid pergi, tidak perlu dibela atau dikawal. Petrus saja melihat dari kejauhan dengan ketakutan sampai 3 kali menyangkal Yesus. Simon dari Kirene tidak mendampingi di atas kayu salib. Seorang diri kedinginan, antara bumi dan langit, antara manusia dan Allah. Dia tidak membawa-bawa atau melibatkan seorang pun. Ia sendiri sudah menanggung/memikul segala dosa kita di dalam tubuhNya di atas kayu salib (1 Pet. 2: 24). Pendamaian dengan Allah dan keselamatan oleh sebab satu orang saja yaitu Yesus Kristus (Roma 5:12-21). “Sesungguhnya sengsaraMu karena salahku, sesungguhnya deritaMu karena dosaku, sesunghuhnya kedatanganMi gantikan tempatku, agar aku tak binasa.” (Kutipan syair lagu “Balada Salib” karya Pdt. Dr.  Erastus Sabdono, Ketua BMPTKK).

 Penderitaan Terbuka

Karya keselamatan (mengembalikan manusia dari kodrat dosa kepada kodrat Allahi) dengan matinya Yesus adalah penderitaan terbuka untuk konsumsi universal. Siapa jua dapat mengakses via dolorosa itu, menerima, mempercayai, atau sebaliknya. Kasih Allah begitu besar kepada  seluruh dunia ini. Elohim Yahwe tidak ingin satu orang pun masuk neraka. Maka Anak Tunggal Allah dikaruniakan untuk menebus dan menghapus dosa semua insan. Website Allah bukan eksklusif untuk Yahudi, non-Yahudi, yang beridentitas Kristen, akan tetapi undangan kepada segala pintu gerbang (hati) supaya masuk Raja Mahamulia (Mzr  24: 7-10). Keterbukaan informasi tentang latar belakang hingga hasil kesengsaraan  Sang Juruselamat masih sedang menantikan kedatangan semua orang, agar tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). (Keempat tesis di atas, menurut Penulis, merupakan pondasi dari points of view teori Filsafat Ilmu).

Kebenaran dalam Keseharian

Dari  uraian di atas, maka dapat disimpulkan dan disebarluaskan satu kebenaran bahwa kita hanya boleh berbahagia di atas penderitaan satu orang saja, yakni Yesus Kristus. Penebus sudah genap/selesai dalam kesempurnaan “meminum cawan” itu.  Berdasarkan semua penderitaan nyata itu, kita malah bermegah-megah di dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah memperoleh pendamaian (Roma 5:11). Kita berbahagia karena menjadi warga/pewaris kerajaan sorga. Tempat kediaman kekal dipersiapkan di rumah Bapa sebab dì tempat di mana Yesus berada, kita pun berada (Yoh. 14:3). Kebahagiaan yang tiada taranya sejak di bumi sampai selamanya.

Implikasi memperingatan Paskah Yesus dalam kehidupan setiap saat hendaknya mengoreksi bahkan mengobok-obok diri sendiri apakah sejujurnya sudah merasakan kebahagiaan atas pengorbanan Yesus yakni dengan respons: Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi. (Markus 12:30). Masih adakah agenda pribadi secara terselubung yang berpikiran atau mencari kesempatan untuk menari di lantai air mata orang lain? Peragaan kasih terhadap sesama manusia seperti diri sendiri (ayat 31) atas dasar kasih kepada Tuhan Allah dapat dipastikan  tidak akan  berkehendak untuk menyentuh  secuil pun kebahagiaan di atas penderitaan orang lain. Inilah seruan dari Golgota dalam tanggung jawab kemanusiaan, sosial, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Mumpung masih zaman anugerah dan ada waktu, jikalau ada pembaca yang pernah merasa bahagia di atas penderitaan  orang lain  selain Yesus Kristus, pelajaran dari respons Zakheus yang berbahagia dalam perjumpaan dengan Yesus Kristus, Tuhan yang Maha tahu Lukas 19:8 masih aplikatif.  Doa kita:  Ajarku hidup yang sungguh berarti  seperti hidup yang Yesus jalani. Anggur yang tercurah, roti yang terpecah. Hidup bermakna bagi sesama. Imanuel.

 

* Penulis adalah Wakil Ketua Umum DPP Partai Indonesia Damai (PID), Partnership Relations Director Kantor Akuntan Publik GWA, Jakarta.  Juga mantan Bankir BUMN dan founder Yayasan Ayo Bangkit Generasi Muda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here