Ketua Umum PDS Minta Dalang Bom Gereja Katedral di Makassar Diusut

117
Ketua Umum dan Sekjen DPP PDS, Hendrik R.E. Assa, S.H., M.A., M.H. (Kiri) dan Lukas Kacaribu, S.H., M.H., M.Pdk. (Kanan).

Narwastu.id – Terjadi lagi aksi teror bom bunuh diri yang dilakukan oleh teroris yang masih dalam penyelidikan, tepatnya pada Minggu, 28 Maret 2021 pukul 10:28 WITA, di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan. Sampai berita ini diturunkan, aparat, dari Densus 88 telah menjaga ketat dan membuat parimeter agar dapat dilakukan penyisiran kejadian yang begitu cepat pada saat umat Kristiani beribadah di gereja. Sejumlah orang yang mendengar ledakan begitu keras menyangka terjadi ledakan akibat trafo listrik yang meledak di seberang jalan Gereja Katedral.

Akan tetapi setelah diketahui satu orang terduga pelaku yang meledakkan diri telah tercabik-cabik tubuhnya, maka diperkirakan sebuah bom bunuh diri telah diledakkan dengan sengaja.

Sedangkan korban dari pihak jemaat yang sedang melakukan ibadah di Gereja Katedral itu diperkirakan sebanyak lima orang yang telah dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan yang lebih intensif. Menyikapi itu, Hendrik R.E. Assa, M.A., M.H., pakar hukum dan tokoh nasionalis yang juga Ketua Umum Partai Damai Sejahtera (PDS) menyatakan kejadian itu sangat di luar dugaan umat Kristiani yang sedang beribadah di Gereja Katedral di Jalan Kajaolalido, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. “Saya sangat prihatin dan mengecam pihak-pihak peneror yang pada pagi hari ini membuat hati kita menjadi gundah. Karena tanpa terduga dan terdeteksi, mereka telah melukai hati umat Kristiani di Kota Makassar,” kecam advokat/pengacara senior Hendrik Assa yang dihubungi melalui telepon genggamnya.

Orang nomor satu di PDS ini mengatakan, sangat prihatin, karena pada akhir November 2020 lalu teroris di Sigi, Sulawesi Tengah, pun membantai beberapa jemaat dengan sadis di Gereja Bala Keselamatan. Dan itu masih belum hilang dari ingatan umat Kristiani di Indonesia, dan kini harus terjadi lagi aksi kekerasan yang melanggar HAM.

“Kita sebenarnya masih berduka dengan kejadian teroris di Sigi pada November 2020 lalu. Akan tetapi kita sebagai umat Kristiani harus tetap bersabar dan ikut mendukung dalam doa-doa kita agar para korban yang terluka akibat terkena ledakan, segera dapat pulih, dan peneror segera teridentifikasi,” ujar Hendrik Assa, dan ia berharap agar kejadian ini segera terungkap.

Tindakan penanganan dari Densus 88 telah dilakukan secara ketat dengan memblokir beberapa jalan yang terhubung ke Gereja Katedral untuk mengamankan dan meneliti barang bukti untuk mengungkap teror bunuh diri tersebut. Sekaitan dengan itu, Hendrik Assa pun mengimbau kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Pusat untuk menangani dengan segera kejadian yang melukai keragaman agama di Indonesia ini.

“Saya mengimbau kepada umat Kristiani untuk tetap tenang, jangan terpancing isu apa pun atau memposting foto-foto yang membuat perpecahan. Juga meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk mengusut tuntas kasus ini, karena kalau dibiarkan, para peneror akan semakin merajalela. Dan ini bisa membuka ruang gerak mereka lebih leluasa lagi, dan sesegera mungkin supaya TNI/Polri menumpas otak di balik teroris ini,” terang Hendrik Assa mengakhiri pembicaraan. Pihak keamanan masih menyelidiki kasus ini, yang disinyalir telah terekam melalui CCTV yang terpasang di jalan raya. Dan peneror menggunakan sebuah taksi dalam menjalankan aksinya, dan dari rekaman tampak mobil taksi itu meledak di tengah jalan dan membuat penerornya tercabik bagian tubuhnya. TY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here