Ibadah dan Syukuran HUT Ke-78 Pdt. DR. Anna B. Nenoharan, M.Th

18

Narwastu.id – Pada Senin pagi, 20 Juli 2020 lalu kembali Persekutuan Doa Narwastu yang dipimpin Ibu St. Bertha Saragih, S.PAK (Mantan anggota DPR-RI) dan Ibu Pdt. DR. Anna B. Nenoharan, M.Th (Sesepuh Sinode GEKINDO) menggelar ibadah sekali sebulan bersama tim Majalah NARWASTU yang dipimpin Jonro I. Munthe, S.Sos. Terakhir kali ibadah diadakan pada awal Maret 2020 lalu. Dan karena wabah Covid-19 ibadah bulanan sempat dihentikan. Ibadah kali ini menampilkan Pdt. DR. Tema Adiputra Harefa (Akademisi, penyiar senior di radio rohani dan anggota pengurus FORKOM NARWASTU) untuk menyampaikan firman Tuhan.

Dan ada pula kesaksian pujian dari Jhon S.E. Panggabean, S.H., M.H. (Advokat/pengacara senior, salah satu Penasihat NARWASTU dan mantan Wakil Sekjen DPN PERADI). Juga dirayakan dalam acara ini secara sederhana HUT ke-78 Pdt. Anna Nenoharan. Dalam acara kali ini, Pdt. Anna Nenoharan juga yang menyiapkan santapan makan siang berupa ikan bakar, ikan sambal dan ayam khas Poso, Sulawesi Tengah.

Pdt. DR. Tema Adiputra Harefa menyampaikan firman Tuhan.

Dalam khotbahnya yang dikutip dari Kitab Mazmur 71 (Doa Perlindungan di Masa Tua), Pdt. Tema Adiputra mengatakan, kita bersyukur kepada Tuhan karena di masa pandemi Covid-19 ini kita masih bisa berkumpul dan memuji Tuhan bersama tim Majalah NARWASTU. “Kita juga bersyukur karena salah satu Penasihat NARWASTU Ibu Pdt. Anna Nenoharan bisa berulang tahun hingga 78 tahun. Dan ini luar biasa anugerah Tuhan,” kata anggota pengurus FORKOM NARWASTU (Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU) ini. Menurut Pdt. Tema, dalam hidup ini kita mesti selalu bergantung pada Tuhan, dan dalam hidup ini Tuhan selalu campur tangan dalam kehidupan kita. Cara sederhana untuk bergantung pada Tuhan adalah berdoa setiap waktu. Dulu Daud pun selalu bergantung pada Tuhan saat ada sukacita dan dukacita ia hadapi, juga saat ada jatuh dan bangun. Dikatakan di ayat 6 ini kepada Tuhan kita bertopang. Dalam hidup ini kita mesti memuji-muji Tuhan dan selalu bersandar kepadaNya. Dalam hidup ini harusnya hal yang selalu menyenangkan yang kita alami, namun ada kalanya kita harus berhadapan dengan kesulitan. Namun di dalam hidup ini kita harus terus bersyukur dan berterima kasih kepadaNya karena Dia terus menolong dan menyertai kita,” pungkasnya.

Dalam hidup ini, kata Pdt. Tema, kita mesti terus memberitakan kebaikan dan keajaiban Tuhan. “Tuhan itu punya rencana di dalam hidup kita, dan Dia yang mengendalikan hidup kita. Apa yang kita rancang belum tentu kehendak Tuhan. Di Kitab Yeremia 17:7-8 dikatakan, diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang tak khawatir akan tahun kering,” ujarnya. Dalam acara ibadah ini Jhon Panggabean pun menyanyikan lagu pujian berjudul “Kubersyukur KepadaMu Tuhan.” Menurut Jhon, ia sudah mengalami sendiri pertolongan Tuhan dan mukjizat di dalam kehidupannya saat ia sakit yang membuat dirinya sempat tak berdaya. “Saat kita terpuruk dan tak berdaya, di situlah Tuhan hadir menolong kita asal kita setia, taat memuji dan mengandalkan Dia. Jangan khawatir di dalam hidup ini jika Tuhan yang bersama kita,” ujar Ketua DPC PERADI Jakarta Timur dan Ketua Umum Keluarga Besar Panggabean Se-Jabodetabek ini.

Sedangkan Pdt. Anna Nenoharan terkait dengan ulang tahunnya ke-78 menuturkan, di dalam hidupnya sejak kecil hingga tua sekarang ia selalu berharap pada kasih setia Tuhan, bukan berharap pada manusia. “Dulu saya ingin menjadi dokter, namun Tuhan ternyata membuat saya jadi Hamba Tuhan, dan luar biasa penyertaan Tuhan selama ini di dalam hidup saya. Teramat banyak mukjizat Tuhan yang saya alami di dalam hidup ini, dan itu membuat saya semakin mensyukuri kebaikan Tuhan. Saya punya 8 anak dan semuanya itu sarjana. Saya tidak pernah mendapat gaji sebagai Hamba Tuhan, tapi malah menggaji orang. Saya tidak pernah khawatir soal kebutuhan atau uang, karena saya imani Tuhan akan selalu cukupkan dengan caraNya yang ajaib. Dan sekiranya Tuhan pun ingin memanggil saya, saya sudah siap. Dalam hidup ini saya selalu punya prinsip mintalah di dalam doamu kepada Tuhan apa yang diinginkan hatimu, pasti akan Tuhan berikan. Asal kita selalu setia, taat, lakukan bagianmu dan selalu berpikir positif. Bagi saya, Firman Tuhan itu jaminan hidup saya,” ujar Ibu Pendeta yang punya mimpi membangun panti jompo dan panti asuhan ini.

Suasana acara bersantap siang yang penuh sukacita di kantor Majalah NARWASTU saat ibadah bersama Penasihat NARWASTU.

Pdt. Anna Nenoharan menyelesaikan studi teologinya dari Akademi Teologi Tentena, Sulawesi Tengah, hingga semester 8, lalu melanjut ke Institut Injili Indonesia (I3) Batu Malang, Jawa Timur. Studi S1-nya adalah ilmu penggembalaan atau pastoral, S2 ia menekuni ilmu manajemen gereja dan S3 ilmu kepemimpinan. “Karakter saya dibentuk di sekolah teologi sehingga semakin mengenal Tuhan dan punya disiplin rohani. Sebagai Hamba Tuhan Pdt. Anna Nenoharan menerangkan, dalam hidup ini supaya kita merasakan damai sejahtera atau kegembiraan dari Tuhan, maka kita harus berani melepaskan pengampunan pada orang yang menjahati kita. “Doakan orang yang menjahati kita agar Tuhan yang campur tangan. Alkitab mengatakan, pembalasan itu adalah hak Tuhan, jadi jangan sesekali membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita perlu teladani sikap Daud yamg tidak mau membunuh Raja Saul yang menjahatinya. Daud tidak mau mengusik Raja Saul karena Saul pun diurapi Tuhan. Jadi seperti pendeta atau penatua jangan diusik, karena mereka diurapi Tuhan dan pernah ditahbiskan,” papar Ibu Pendeta yang termasuk dalam “20 Tokoh Kristiani 2010 Pilihan Majalah NARWASTU” ini.

Pdt. Anna Nenoharan menambahkan, sukacita di dalam Tuhan itu tidak tergantung pada situasi. Sukacita dalam Tuhan itu gaya hidup orang Kristen. Seperti kata Ayub, yang baik dan yang buruk dari Tuhan itu harus kita terima. “Saat kita berdoa bersama dengan sesama orang percaya dan berdoa bersama hamba-hamba Tuhan, maka akan lahir sukacita. Kita melayani keluarga dengan firman Tuhan, itu pun mendatangkan sukacita,” terangnya.

Sementara St. Bertha Purba Saragih berpendapat, sukacita di dalam Tuhan itu akan kita rasakan kala kita dekat pada Tuhan. “Pikiran kita mesti ada damai dan kasih serta tidak menyimpan kebencian atau dendam, maka kita akan merasakan sukacita dari Tuhan. Seperti sekarang ada wabah Covid-19, kita tidak bisa bebas beraktivitas, namun kita harus selalu berupaya menghadirkan sukacita Tuhan itu dengan berdoa, beribadah dan membaca Alkitab. Pikiran harus kita kuasai supaya ada damai sejahtera. Kebaikan hati kita bisa meluluhkan hati orang jahat, itulah kasih dari Tuhan. Kita bahagia sesungguhnya karena Tuhan menyertai kita,” ujar anggota jemaat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Cikoko, Jakarta Selatan ini. KH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here