Pnt. Niniek Suryati L. Brent Salurapa Melayani dan Bersaksi Tentang Kasih Kristus

36
Pnt. Niniek Suryati L. Brent Salurapa. Melayani dengan tulus.

Narwastu.id – Pnt. Niniek Suryati L. Brent Salurapa melalui berbagai kegiatannya selama ini, ia ingin mendedikasikan  hidupnya untuk menjadi saksi Kristus melalui talentanya. Sebab, prinsipnya perempuan itu diciptakan Tuhan sebagai penolong, baik dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Istri tercinta Litha Brent, S.E. ini setiap hari sibuk  dengan berbagai kegiatan.

Sejak remaja ia telah tumbuh menjadi perempuan yang aktif dan dinamis. Hal itu terbukti sejak duduk di bangku SMA, ia telah menjadi guru sekolah minggu. Tak heran kalau pada tahun 1983 lalu sejumlah profesi  dijalaninya. Selain ia mengurus rumah tangganya, perempuan berdarah Toraja ini pun berprofesi sebagai dokter gigi sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, pada 1985-2015.

Selain itu, ia Penatua (Pnt.) di Gereja Kerapatan Injil Bangsa Indonesia (Kibaid) dan Direktur PT. Gunung Merapi, Wakil Direktur PT. Ben Nibion dan Tim Penyelia Litha Group yang membidangi transportasi di kawasan Sulawesi Selatan. Julukan perempuan serba bisa agaknya bisa disematkan kepadanya, dan itu bukan didapatkannya  tanpa sebuah proses panjang. Dan itu merupakan hasil tempaan dari sang ibunda tercinta.

Dalam keluarganya Niniek yang terlahir sebagai anak sulung selalu diajarkan orangtuanya untuk bekerja keras dan membagi waktu dengan baik. Dan saat berusia 9 tahun perempuan kelahiran Makale, 8 Februari 1954 ini sudah menjadi asisten ibunya yang notabene seorang guru Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan  mengajar keterampilan di SKP (Sekolah Kepandaian Putri) dan SMEA.

Kemampuannya di dalam penguasaan ilmu dan talenta yang dimilikinya tak berhenti sebatas di dunia akademisi. Sebagai perempuan cerdas dan selalu ingin belajar, ia pun belajar Ilmu Teologia di STT Jaffray, Makassar. Berbicara mengenai pengalaman imannya, dulu saat ia masih menjadi dosen, perempuan berparas cantik ini pernah ditunjuk oleh salah satu Dekan FKG Unhas untuk memimpin doa di lingkungan kampusnya.

Sebagai seorang “minoritas” tentu hal itu tak disia-siakannya. Alasannya, sebagai pengikut Yesus Kristus ia pun ingin bersaksi di lingkungan kerjanya. Dan peristiwa itu dinilainya sebagai salah satu momen bersejarah. Sebagaimana diketahui, kampusnya tersebut terletak di daerah yang mayoritas pemeluknya adalah non-Kristen.

Meskipun ia sibuk dalam urusan bisnis bersama suami dan anak-anaknya, ia pun dipercaya sebagai Ketua Departemen Wanita Gereja Kibaid (2012-2017). Niniek memang menaruh perhatian terhadap kaumnya mengingat kodrat perempuan sebagai penolong di dalam keluarga. Karenanya, untuk menambah wawasan bagi para anggota Persekutuan Kaum Wanita (PKW) yang dipimpinnya, pada Juni 2016 lalu diadakan seminar bertemakan bimbingan, pembekalan dan motivasi diri.

Semua itu, imbuh Niniek, dilakukan guna mengembangkan diri agar perempuan bisa terlibat aktif dalam setiap pelayanan serta bisa memberikan wawasan baru dan pengembangan diri bagi perempuan. “Bukan saja untuk kebutuhan keluarga, melainkan perempuan sebagai salah satu ujung tombak gereja mesti terlibat,” terangnya.

Semua hal yang dikerjakan dengan baik, kata Niniek, selain merupakan campur tangan Tuhan pun  dukungan dari suami dan anak-anaknya. Ia tak pernah membiarkan tangannya untuk diam. Buktinya, saat memiliki waktu senggang, ia terbiasa untuk merangkai bunga, menjahit dan memasak. Melalui talentanya pula ia tak segan untuk berbagi dengan sesama dalam bentuk seminar-seminar, khotbah dan pelatihan praktis.

Ia mengaku, jika dimampukan untuk mengasihi dan bersaksi, semata-mata karena Roh Allah bekerja dalam dirinya.  “Sebagai pengikut Yesus bagian kita adalah menceritakan kebaikan Allah kepada orang lain, dan selebihnya adalah bagian Tuhan,” tukasnya. Ayat 1 Korintus 2:9 adalah ayat yang mampu memotivasi ibu dari  empat anak ini dalam pelayanannya. Menurutnya, Tuhan sudah memberikan banyak berkat kepadanya. “Apa yang belum pernah saya lihat, belum pernah dengar, tidak pernah timbul di hati, Tuhan anugerahkan,” ucapnya.

Ia menyebutkan, berkat yang diterimanya, seperti perjalanan rohaninya yang pertama kali ke Israel tahun 1985. Dan mereka pun dikaruniakan anak yang diberi nama Bengurion Litha Brent, nama Perdana Menteri pertama Israel. Selain itu, ia diberi kesempatan sebagai exporter Coffee Beans, mendapat kesempatan berkunjung secara continue mengikuti SCAA (Specialty Coffee Association of America) yang diadakan setiap tahun dari satu negara bagian ke negara bagian lain di Amerika Serikat (USA).

Tak heran, kalau sebagian besar negara bagian itu telah dikunjunginya bersama sang suami. Anggota jemaat Gereja Kibaid Latimojang, Makassar, ini pun pernah studi di Denver University Colorado pada 1995 silam. Saat itu ia sembari melatih anak-anaknya bersekolah di luar negeri. Pengalaman itulah yang membuat keempat anaknya bisa tekun belajar sejak SMA sampai mencapai magister di Australia.

Tak hanya itu, pada 1994 lalu ia berkesempatan naik pesawat Super Sonic Concorde dari Paris ke New York, Amerika Serikat, dengan memakan waktu sekitar 3,5 jam. Di situ, katanya, ia membuktikan bahwa bumi ciptaan Tuhan benar-benar bulat. Ia pun menikmati anugerah perjalanan ke luar negeri sampai ke Ulan Batar, Mongolia, dan merasakan dinginnya es dengan suhu minus 37 derajat celcius. Niniek pun bersyukur karena  memiliki kehidupan kekal sebagai anak angkat Tuhan dalam Yesus.

Menurutnya, apakah yang ia dapat balaskan kepada Tuhan. “Hanya menyaksikan semua itu dengan melayani. Tak habis-habisnya kasih setiaNya dan masih banyak anugerah Tuhan yang perlu disaksikan agar orang lain pun memahami betapa luar biasanya hidup bersama Tuhan Yesus,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here