Adri Lazuardi   BPK Penabur Memberi Dampak Lewat Pendidikan

28
Adri Lazuardi. Peduli pendidikan anak bangsa.

Narwastu.id – Di balik kesuksesan BPK (Badan Pendidikan Kristen) Penabur sebagai sebuah institusi pendidikan, tentu ada tangan dingin di belakangnya. Adri Lazuardi, Ketua BPK Penabur Jakarta diberikan mandat oleh Gereja Kristen Indonesia (GKI) untuk memimpin sekolah yang dikenal cukup punya nama di negeri ini. Bersama tim, guru dan karyawan yang ada, Adri bahu membahu melakukan tugas mulia, yaitu mencerdaskan anak bangsa dan memberi dampak kepada sesama sebagai salah satu bentuk pelayanan.

Berstatus sebagai volunteer (utusan) dari GKI untuk menjadi orang nomor satu di BPK Penabur Jakarta, bukan berarti Adri asal-asalan memimpin sekolah yang telah berdiri selama 68 tahun itu. Bersama timnya bapak dua anak ini bahu membahu mengembangkan BPK Penabur untuk terus menambah mutu pendidikan. “BPK Penabur memiliki struktur dari para pendahulu kami yang punya rekam jejak yang bagus. Jadi kami hanya tinggal meneruskan dan melakukan hal-hal yang sesuai dengan zamannya. Jadi jika bicara mengenai tantangan terbesar Penabur adalah memasuki era industri 4.0. Kami harus bersiap dengan teknologi ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam dunia pendidikan,” jelas Adri kepada Majalah NARWASTU.

Penggunaan teknologi sebagai sarana penunjang dalam menyampaikan materi pelajaran diberikan kepada seluruh anak didik mulai dari jenjang TK sampai SMA, SMK dan Sekolah Internasional. Bekerjasama dengan Google dan Microsoft, BPK Penabur mencoba untuk mengembangkan teknologi tersebut kepada anak didiknya, dan sudah barang tentu saat memakainya diawasi dengan ketat. “Jadi mereka bisa mengakses sesuai dengan kebutuhan sekolah dan umurnya. Jadi tetap ada kontrol dari kami. Hal itu dilakukan sebagai langkah preventif,” tukas pria yang pernah duduk sebagai Majelis Jemaat GKI Kota Wisata, Jakarta ini.

Adri menambahkan, kendati arus teknologi tidak bisa dibendung dan siswa diajarkan untuk “melek” dengan teknologi informasi, akan tetapi BPK Penabur tetap mementingkan pendidikan karakter sebagai fokus utama. “Di Penabur kami memiliki PKB2K. Guru mengajar bagaimana di dalamnya ada item kurikulum karakter, geografi dan lain sebagainya. Bagian ini yang kami anggap penting karena teknologi seberapa bagusnya pun kalau orang yang menggunakannya bukan orang terdidik dengan benar, itu bisa seperti sekarang, banyak hoax. Nah, di situ yang menentukan. Jadi bagaimana penggunaan media yang serba digital itu, yang sangat menentukannya adalah karakternya,” tegas Adri yang juga menjabat sebagai Sekretaris Badan Pemberdayaan Perekonomian.

Atas dedikasinya yang tetap konsisten dalam bidang pendidikan yang mengedepankan kualitas, maka BPK Penabur yang telah memiliki 164 sekolah yang tersebar di 15 kota besar di Indonesia, dengan jumlah siswa sebanyak 51.000 dan 5.000 karyawan itu berhasil mendapatkan ISO 9001 tahun 2015. Tentang hal itu, Adri menerangkan, itu adalah salah satu bentuk komitmen BPK Penabur dalam menjaga manajemen mutu. Hal itu sangat penting karena menyadari bahwa sekolah-sekolah bisa banyak size dan sekolah BPK Penabur memiliki banyak keragaman, mulai dari orang biasa sampai orang yang mampu. “Di sini konteksnya masing-masing anak punya kelebihan dan kekurangan yang kami bina. Manajemen mutu itu harus menjaga kualitas dari masing-masing sekolah, dan harus terjaga dengan baik dan menjadi komitmen bersama,” terang mantan Pengurus Dewan  Pengurus Pusat (DPP) Real Estate Indonesia (REI) ini.

Pencapaian tersebut dapat terwujud dengan baik karena adanya sinergi yang baik dari semua pihak. Menurut Adri, ia sangat bersyukur karena BPK Penabur memiliki learning center, yakni pelatihan guru. “Jadi sebelum calon guru mengajar, kami memberikan pembekalan. Sehingga ketika mengajar di sekolah dan panggilannya sebagai guru, maka ia akan lebih memahami panggilan tersebut. Jadi tidak sekadar tahu, tapi  mengerti akan ilmu mengajar,” jelasnya. Adri menambahkan, kalau pelatihan itu berlangsung selama enam bulan, ada pula wadah bagi para guru untuk bertukar informasi dan sharing satu dengan lainnya untuk menciptakan metode belajar yang menarik.

Kesuksesan anak didik tidak melulu diletakkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Dan di BPK Penabur diterapkan sistem Tiga Pilar, yakni orang tua, siswa dan guru. Tiga pilar yang harus menjadi satu kesatuan itu tidak akan berjalan dengan baik jika salah satu pihak mengabaikan fungsinya. Karena itu, dibutuhkan kerjasama antara satu dengan lainnya. Mantan Wakil Ketua Kompartemen Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ini menuturkan, BPK Penabur pun mengembangkan KKO (Kelompok Kepedulian Orangtua). Di sini para orang tua bisa sharing dengan guru. Hal ini tentu saja memperkuat tiga pilar itu. Jadi jika sekolah ingin berhasil dan sukses, maka ketiganya itu harus berjalan baik.

Dikenal dengan mottonya: Iman, Ilmu dan Pelayanan, BPK Penabur pun mencoba untuk menjadi sebuah institusi pendidikan yang tak hanya menghasilkan siswa siswi yang cerdas, melainkan memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai firman Tuhan. BPK Penabur juga terbeban untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan melalui guru dengan sekolah lainnya. Dan, beberapa waktu lalu atas ajakan Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Banten, BPK Penabur diberi kesempatan untuk berbagai ilmu. Tanpa ingin menyia-nyiakan kesempatan, BPK Penabur ikut berpartisipasi baik dalam hal uang, software dan lain sebagainya. ”Kami membantu juga Yayasan Kaum di Mentawai (mereka adalah korban tsunami tahun 2010). Di situ para guru melatih siswa SMA menjelang Ujian Negara. Dan tahun ini hasilnya sangat bagus. Walaupun memang waktunya hanya seminggu tapi mampu memberikan motivasi yang baik,” ujar Adri yang juga membantu membangun gedung dan melengkapinya dengan sarana dan prasarana.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here