
Narwastu.id – Seminar Nasional “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga (Matiys 1:21-24)” masih berlanjut di Grand Chapel Universitas Pelita Harapan (UPH) Kota Tangerang, Banten, dan dihadiri 3.000 orang peserta pada Selasa, 3 Februari 2026. Seminar ini merupakan ke-10 yang diselenggarakan Panitia Natal Nasional 2025 dengan road show di sejumlah kota di Indonesia. Menteri PKP dan juga Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2026, Maruarar Sirait menegaskan, Natal dilaksanakan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Sekitar lima bulan lalu, Bapak Presiden memanggil saya ke Istana menunjuk saya jadi panitia Natal. Saya langsung tanya, apa arahan Presiden, diminta laksanakan sederhana dan berdampak,” ujarnya. Karena itu, penyelenggaraan Natal Nasional di laksanakan sederhana, berdampak dan terbuka. Program-program langsung menyentuh masyarakat. Ara, begitu panggilannya, mencontohkan bantuan sosial Natal disalurkan 20.000 sembako. Sumber bukan hanya dari umat Kristen, tapi dari Budha dan Islam. Itulah Indonesia yang gotong royong. Program lain, beasiswa, penyediaan kursi roda, operasi bibir sumbing, renovasi gereja, bangun gedung Sekolah Alkitab, dan lainnya.
Dan menariknya, untuk audiens yang kebanyakan mahasiswa UPH, Maruarar menjanjikan untuk 10 orang mahasiswa yang mau merintis usaha, jadi pengusaha akan diberikan 200 juta per orang. “Kita ingin menciptakan James-James baru dari kampus ini. Dua bulan lagi saya datang, silakan pimpinam UPH memilih mahasiswa berpotensi,” ujarnya disambut applaus. Pada kesempatan itu, tampil dua nara sumber, yakni Menteri Pedidikan Tinggi Sain dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto dan James Riady yang dipandu Prof. Binsar Pakpahan selaku koordinator seminar nasional.


Prof. Brian menyampaikan, sebuah negara menguasai kemajuan karena kemajuan SDM-nya. Tidak ada negara maju tanpa tersedianya SDM yang terampil. Karena itu, pendidikan tersebut penting.
Menteri Brian bercerita saat mengurus beasiswa di ITB suatu kali ada seorang mahasiswa asal Sumut, namanya Amron, dia diterima di Teknik Fisika (sama dengan Prof. Brian). Juniornya ini hampir gagal kuliah karena keluarga tidak mampu, tetapi dia memaksa untuk berangkat ke Bandung. Di Bandung dia salah satu penerima beasiswa yang ketika itu diurus Prof. Brian. “Jadi kita memberi hal kecil beasiswa selalu diingat dan sungguh berarti. Saya sudah lupa. Ketika dia launchinf parfum dia undang saya. Dia bilang, sangat ingat karena beasiswa diberikan hingga bisa jadi pengusaha parfum pertama asal Indonesia. Intinya investasi pendidikan sesuatu yang tidak ternilai harganya,” pesan Prof. Brian kepada mahasiswa.
Sementara James T. Riady dalam paparan mengisahkan kehidupan awal berkeluarga. Pengusaha nasional ini menceritakan baru perkenalan 34, yang dikenalin ibunya dia jatuh cinta kepada Ailin (istri). “Setiap hari saya cari dia, hari ke-60 iya tunangan. Malam usai pesta sudah ribut sampai honeymoon. Bahkan, tahun 8 kita di mata Tuhan sudah cerai,” kisahnya. Tetapi James selalu teringat pesan ibunya agar jangan ikut orang Barat yang tidak mau nikah dan hanya bersenang-senang. Statistik mengatakan, 50 persen dalam 10 tahun cerai, orang Kristen juga tidak lebih baik. Hanya tradisi Timur masih kental adat bisa memperlambat perceraian.

Tahun 90 di tahun pernikahan ke-8, James berpisah dengan keluarganya. Dia tinggal di Jakarta sementara istri dan anak tinggal di Los Angeles. “Saya depresi. Suatu hari 18 September 1990 satu sore saya tutup pintu, saya berdoa saja, Tuhan tolong saya, karena saya depresi. Saya nangis tapi sukacita. Saya harus memenangkan istri, anak dan kakak saya. Itu titik Tuhan kerjakan keluarga kembali bersatu. Saya mundur dari 50 perusahaan sebagai dirut demi keluarga,” tuturnya, dan James mencari suasana baru dengan pergi ke Papua.
Ia mulai belajar apa itu keluarga, harus dimulai dari pernikahan. Pernikahan itu idenya Tuhan. Bangsa kita harus kuat, gereja kuat, dimulai dari keluarga kuat.
“Saya senang sekali Natal Nasional bicara keluarga. Anak saya lama tidak menerima saya, hubungan sudah antipati, tapi kita jangan kehilangan harapan,” pungkasnya.
Rektor UPH Prof. Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc menyatakan, seminar nasional ini luar biasa buat UPH. UPH menyambut dan menerima para peserta seminar sore ini. “Suatu kehormatan bahwa UPH menjadi tuan rumah. Kita menyadari Natal bagi keluarga penting, melalui keluarga harus memberikan pendidikan,” ujarnya. Pada kesempatan itu, Menteri PKP menyerahkan lima unit mobil ambulance masing-masing kepada Gereja HKBP Cikarang untuk Kristen, kepada wakil Budha dan wakil Islam. PNN

























