Narwastu.id – Dalam pengamatan saya selaku insan pers, Majalah NARWASTU sudah harum (seharum minyak Narwastu) dalam fungsi sebagai A Bridge of Information and Inspiration for Indonesian Christians; Jembatan informasi dan inspirasi yang menghubungkan berbagai elemen dalam komunitas Kristen di Indonesia. Majalah NARWASTU memiliki sejarah panjang yang dimulai oleh sebuah yayasan. Namun pendiri lembaga itu menghentikan penerbitannya (2003). Kemudian, Jonro Munthe sebagai Pemimpin Redaksi bersama Sudaryono sebagai Pemimpin Usaha yang sangat “mengakrabi” visi dan misi majalah ini, secara mandiri (berjuang) dan profesional “meneruskannya” kembali dengan nama lain tapi ada kata: Narwastu. Semula, dinamai New Narwastu, tapi setelah ada penyokong, lalu dibuat namanya: Narwastu Pembaruan.
Sebelumnya mereka berdua sudah menemui saya, minta saran dan/atau minta ikut menerbitkannya kembali. Saya sarankan, kelola secara mandiri dan profesional saja. Buktikan bahwa profesionalisme lebih menentukan daripada modal uang, apalagi untuk penerbitan media komunitas kerohanian. “Kekuatan Narwastu ada di tangan kalian: Profesionalisme Redaksi dan Usaha/Distribusi.” Saat itu, saya tanya tentang jaringan distribusi dan pelanggan (pemasaran). Ternyata mereka sudah punya basis jaringan dan komunitas. Majalah NARWASTU itu adalah majalah komunitas dengan segmen pembaca yang jelas dan mudah terjangkau (jaringannya jelas). Lalu, saya bilang (metafora), redaksi itu “otak dan rohnya” media, dan pelanggan (jaringan pemasaran) adalah “nafasnya.” Lalu, mereka pun menerbitkannya secara mandiri, tanpa perlu lagi merasa “tertekan” oleh yang merasa pemilik modal.

Jadi, jika direnungkan, dihentikannya penerbitan oleh yayasan, ternyata jalan anugerah Tuhan untuk kelanggengan penerbitan Narwastu. Anugerah bagi Jonro Munthe dan rekan, anugerah juga bagi para pembaca setianya. Belakangan, tampaknya Sudaryono membuka aktivitas ke media lain di kalangan Kristen. Pada akhir 2009, dalam perjalanannya di Narwastu Pembaruan muncul “ketidaknyamanan” Jonro Munthe selaku ikon dari Narwastu Pembaruan. Ia merasa penyokong di media itu merasa dominan mengendalikan majalah itu. Selanjutnya ia mundur dari Narwastu Pembaruan, lalu mendirikan Majalah NARWASTU dengan tagline baru “Menyuarakan Kabar Baik”, kembali ke nama semula. Tapi ia cerdik, supaya tidak berdampak hukum di kemudian hari, lalu nama Narwastu ia daftarkan ke HAKI. Sedangkan Sudaryono kembali lagi ke Narwastu Pembaruan sepeninggal Jonro. Yang uniknya di toko-toko buku Kristen dan lapo-lapo Batak sejak 2010 sampai akhir 2011 sempat dulu terpajang dua majalah dengan nama yang mirip, yakni Narwastu Pembaruan dan NARWASTU. Namun pada medio 2011 Narwastu Pembaruan tak terbit lagi, sedangkan NARWASTU hingga kini tetap eksis.
Jadi sekarang, publikasi Majalah NARWASTU yang didirikan dan dipimpin Jonro Munthe sebagai Pemimpin Umum merangkap Pemimpin Redaksi adalah kelanjutan dari tradisi nama dan misi yang sudah dibangun sejak lama. Meskipun penerbit dan manajemen berganti, misi dan “nama harum” Majalah NARWASTU untuk meliput dan menganalisis isu-isu Kristiani serta menonjolkan tokoh-tokoh berpengaruh tetap dipertahankan, bahkan diperkuat. Di antaranya, tradisi memberi penghargaan kepada para tokoh Kristiani yang sudah dilakukan tahun 2007, dilanjutkan lebih teratur sejak 2010 sampai saat ini.

Anugerah: Kelanggengan penerbitan majalah ini adalah anugerah. Di tengah kesulitan berbagai media cetak (sebagian besar tutup) di tengah gempuran media digital dan media sosial (digital), Majalah Cetak NARWASTU selalu eksis, dan malah diperkuat (adaptasi, transformasi) dengan media digital dalam beberapa platform, seperti YouTube.
Keharuman Narwastu
Secara harfiah, Narwastu (sering juga ditulis Nardus) adalah nama tanaman purba yang menghasilkan minyak wangi yang sangat mahal dan bernilai tinggi. Nama Latinnya: Nardostachys jatamansi. Akar tanaman ini diolah menjadi minyak Narwastu (spikenard), salah satu minyak wangi paling eksklusif di zaman kuno. Sejenis wewangian yang dibuat dari akar serai wangi (Kid 1:12; 4:13-14; Mr 14:3; Yoh 12:3). Narwastu (Ibrani: nerd, Yunani: nardos). Minyak harum (Kid 1:12; 4:13) mungkin sama dengan lardu yang disebut dalam inskripsi Asyur Babel, diperoleh dari rumput Cymbopogon schoenanthus, umumnya terdapat di padang gurun Arabia dan Afrika Utara. Dalam Mrk 14:3; Yoh 12:3 Narwastu disebut pittikes, mungkin berarti ‘sejati’, diperoleh dari Nardostachys jatamansi, tumbuhan asli India Utara (pegunungan Himalaya) yang masih dipakai untuk meminyaki rambut. (Ensiklopedi Alkitab) Salep (minyak) Narwastu, sangat digemari orang Yahudi, dibuat dari parfum yang mahal sekali, yang dicampur dengan minyak sait.
Dipakai untuk kecantikan. Rut 3:3; untuk pemakaman. Matius 26:12; sebagai obat, Yesaya 1:6; dalam pekerjaan imamat. Keluaran 29:7 (Kamus Gering). Minyak Narwastu, minyak wangi yang terbuat getah pohon narwastu. Minyak wangi ini berharga lebih dari 300 dinar. Upah harian pekerja saat itu adalah 1 Dinar. (Glosari AYT). Minyak mahal yang dicurahkan ke atas kepala Yesus di Betania (Mat. 26:7) adalah Narwastu (Mrk. 14:3), satu jenis minyak wangi dari India, diperkirakan seharga 300 dinar (Yoh. 12:5).
Begitulah harumnya, mahalnya, nilai tingginya Narwastu. Di mana nama Narwastu sangat terkenal dalam Alkitab (Injil), khususnya dalam kisah-kisah di mana minyak tersebut digunakan untuk pengurapan.
Narwastu: Konteks Publikasi Kekristenan
Dalam konteks Majalah NARWASTU sebagai media publikasi kekristenan, nama ini tentu sangat bermakna. Nama Narwastu ini dipilih tentu untuk menggarisbawahi komitmen majalah ini dalam menyajikan liputan yang “harum”, bernilai tinggi, penuh dedikasi, dan bertujuan untuk menyebarkan dampak positif (keharuman) serta inspirasi bagi komunitas Kristen dan bangsa; Seharum minyak Narwastu. Nama Narwastu sangat kuat untuk melambangkan (simbolisme) hal-hal penting dalam kontek media publikasi. Pertama, Simbolisme Kemewahan dan Nilai Tinggi: Melambangkan bahwa konten dan informasi yang disajikan oleh majalah ini adalah sesuatu yang berkualitas tinggi, berharga, dan eksklusif (tidak murahan); Kedua, Simbolisme Pengorbanan dan Dedikasi: Mengacu pada kisah Alkitab di mana minyak narwastu dicurahkan sebagai tindakan pengorbanan dan pemujaan total.
Ini melambangkan dedikasi media untuk menyajikan kebenaran dan melayani komunitas; Ketiga, Simbolisme Keharuman dan Dampak Positif: Minyak narwastu menghasilkan aroma yang kuat dan menyebar. Dalam konteks media, ini berarti bahwa informasi, inspirasi, dan nilai-nilai Kristiani yang disebarkan oleh Majalah Narwastu diharapkan dapat memberikan dampak positif (keharuman) yang meluas di tengah masyarakat. Sepanjang pengamatan saya, apa yang saya maknai di atas, itulah yang dilakoni Jonro Munthe dan segenap crew Majalah NARWASTU terbitan Jakarta selama ini, terutama sejak 20 Januari 2010; tentu dalam batasan keterbatasan atau ketidaksempurnaan manusiawi.

Majalah NARWASTU sebagai sebuah media massa cetak (dan kini juga digital) sudah sangat dikenal di Indonesia, khususnya dalam komunitas Kristen. Sebagai majalah berita dan analisis Kristiani. Meliput dan menganalisis isu-isu yang berkaitan dengan gereja, tokoh Kristen, politik, sosial, budaya, dan ekonomi di Indonesia dari sudut pandang kekristenan. Dengan segmen pembaca yang jelas. Umumnya ditujukan kepada kalangan rohaniwan, aktivis gereja, tokoh masyarakat Kristen, dan masyarakat umum yang tertarik pada isu-isu Kristiani. Bahkan, tidak berlebihan jika kita sebut, majalah ini sudah dikenal memiliki peran penting sebagai platform komunikasi dan informasi bagi umat Kristiani di Indonesia. Konten-kontennya sering kali meliputi:
Liputan Kristiani (Isu Gereja): Fokus pada perkembangan gereja, sinode, ajaran teologi, dan isu-isu keumatan (umat Kristen). Analisis mengenai perkembangan gereja, sinode, dan berbagai isu internal teologis atau keorganisasian. Profil Tokoh Inspiratif: Memberikan panggung utama bagi tokoh-tokoh Kristen yang dianggap sukses dan memberikan dampak positif di berbagai bidang (politik, bisnis, akademisi, rohaniwan). Wawancara mendalam dan profil tokoh-tokoh Kristen yang berpengaruh (rohaniwan, politisi, pengusaha, akademisi). Salah satu program terkenalnya adalah pemberian penghargaan tahunan kepada “Tokoh-Tokoh Kristiani Inspiratif.”
Politik Kebangsaan dan Sosial: Liputan mengenai peran dan posisi umat Kristen dalam dinamika politik nasional dan isu-isu sosial yang sedang hangat. Inspirasi: Artikel-artikel yang bersifat motivasi, kesaksian, dan pengembangan diri berdasarkan nilai-nilai Kristiani. Menganalisis peran dan kontribusi umat Kristen dalam kancah politik, pemerintahan, dan isu-isu kebangsaan (pluralisme, toleransi, kerukunan antar umat beragama).
Sosial dan Budaya: Meliput kegiatan sosial, seni, dan budaya yang dilakukan oleh komunitas Kristen. Singkatnya, Narwastu berupaya menampilkan wajah positif dan kontribusi aktif umat Kristen Indonesia di berbagai sektor kehidupan nasional. Dengan kata lain, Majalah NARWASTU (dalam batas tertentu) sudah berfungsi sebagai A Bridge of Information and Inspiration for Indonesia Christians; Jembatan informasi dan inspirasi yang menghubungkan berbagai elemen dalam komunitas Kristen di Indonesia. Majalah ini akan terus eksis dengan dukungan pembacanya yang berfungsi sebagai nafasnya (metafora). Tuhan Memberkati. Amin.
* Penulis adalah jurnalis senior, pendiri dan Pemimpin Redaksi Majalah “Tokoh Indonesia” dan Ketua Dewan Penasihat Forum Jurnalis Batak (FORJUBA).

























